Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
149


__ADS_3

Keysa memerhatikan Devano yang berdiri di hadapannya dengan keringat yang sudah mengucur karena menahan sakit dari setiap cambukan yang menempel di kulitnya. Tanpa terasa air mata luruh dari kedua mata Keysa. Ia tidak tega demi hubungan mereka, kekasihnya harus merasakan kesakitan. Akhirnya, tangis gadis yang memakai overall jeans itu pun tidak dapat lagi terbendung. 


"Hei, kenapa menangis?" Mata sayu Devano menatap Keysa yang terus berderai air mata. 


"Biarkan aku saja yang dicambuk. Ini tidak adil, yang menjalani hubungan adalah kita berdua kenapa yang dicambuk hanya kamu saja," ucap Keysa di sela-sela tangisnya. 


"Tenanglah! Aku mempunyai satu rahasia, mendekat lah! Aww ...." ucap Devano, yang diakhiri rintihannya saat satu cambukan kembali mendarat di punggung. 


Keysa mendekatkan telinganya ke mulut Devano, kemudian lelaki itu menghibur Keysa dengan mengatakan bahwa tali cambuk yang digunakan Arsen sudah diganti bukan cambuk asli, Arsen juga memukulnya tidak sekuat tenaga. 


"Satu lagi rahasia yang perlu kamu tahu, darah yang membasahi punggung juga bukan darahku, tetapi darah palsu," ucap Devano dengan seulas senyum. 


"Apa kamu tidak bohong?" tanya Keysa. Ia melihat baju putih Devano sudah berubah warna, juga berbau amis darah. 


"Aku tidak bohong. Itu darah dari tempat donor darah," ucap Devano. "Bukankah aku sangat cerdas?" bisiknya dengan seringai menghiasi wajah, meskipun diakhiri dengan ringisan. Bagaimanapun cambuk tetaplah cambuk saat menempel pasti akan terasa sakit, walaupun tidak sesakit cambuk aslinya. 


"Sialan! Kenapa tidak memberitahuku dari awal," umpat Arsen. Ia yang sempat kasihan karena darah membasahi baju putih Devano langsung mencambuk Devano begitu mendengar kalau darah itu palsu. 


"Aaaa ...." Devano berteriak kesakitan. 

__ADS_1


Tangis Keysa pun semakin histeris, membuat semua orang percaya. Mereka yang ada di lapangan itu dibuat terharu oleh  kisah cinta Keysa dan Devano. Orang-orang saling berbisik dan mengagumi kekuatan cinta dua sejoli itu, membuat mereka ingin pihak kampus menghentikan hukuman tersebut. 


Mendengar orang-orang yang berpindah haluan membela Keysa dan Devano, Alea dan Cheryl yang  berada di kerumunan massa di garda terdepan pun hanya bisa mengepal, menahan amarah. Ingin rasanya ia menyumpal para pembela satu persatu, tetapi tentu saja jumlah mereka tidak sebanding. 


Tidak membutuhkan waktu lama untuk berita Devano dicambuk tersebar di seluruh kota. Bahkan, berita itu sudah masuk ke telinga Abraham. Lelaki tua yang menjadi kakek Devano itu pun marah besar. Ia tidak terima keturunan Mahardika diperlakukan seperti itu. Abraham langsung angkat kaki dari kediamannya menuju kampus begitu mendegar kabar tersebut.


"Hentikan menyakiti cucuku!" Suara Abraham menggema di lapangan, membuat semua orang melihat ke arah suara. 


Lelaki berkaki tiga itu berdiri di ujung lapangan dengan tongkat yang terangkat dan menunjuk ke panggung. Lelaki yang dikelilingi banyak lelaki berjas hitam itu dengan lantang meminta mereka untuk menghentikan aksi menyiksa cucunya. 


Di atas panggung dekan tampak sangat gugup dengan kehadiran Abraham. Namun, ia juga harus menjaga nama baiknya di depan mahasiswa dan semua orang yang hadir. Petisi sudah ditandatangani, tidak mungkin ia menghentikan hukuman itu hanya karena kedatangan Abraham.


Hanya dengan sebuah kode dari jentikan tangannya, para lelaki berjas hitam langsung mengangguk dan balik badan hendak melakukan apa yang diperintahkan tuan mereka.


"Kakek, jangan seperti itu! Tenanglah nanti darah tinggimu kumat." Devano menenangkan sang kakek yang sedang menatap geram kepada dekan dan semua orang yang ada di sana. "Tenanglah! Aku sudah dicambuk tujuh belas kali dan itu tidak terasa sakit. Aku bisa menyelesaikannya sampai akhir," ucap Devano, meyakinkan. 


"Apa yang ingin kau buktikan, hah? Kau ini memiliki darah Mahardika, mau-maunya diperlakukan seperti budak seperti ini. Pemegang donasi paling banyak di kampus ini adalah kita, berani sekali mereka berbuat semena-mena padamu." Abraham masih diliputi emosi dan tidak terima dengan keputusan cucunya itu. 


"Karena aku mencintai Keysa. Aku ingin buktikan kepada mereka kalau cinta kami suci dan berhak diakui. Setelah ini aku bisa terang-terangan berpacaran dengan Keysa tanpa takut melanggar apapun. Aku tahu cinta kami tidak pernah salah hanya saja peraturan kampus yang terlalu rumit," tandas Devano. 

__ADS_1


Mendengar ucapan Devano, Abraham dibuat tidak berdaya. Ia pun lantas meminta dekan untuk menurunkan cambukannya hanya tiga puluh kali. Namun, lagi-lagi dekan menolak masih dengan alasan surat pernyataan sudah ditandatangani dan harus dilakukan sesuai perjanjian. 


Abraham hanya bisa menghela napas panjang. Beberapa kali bernegosiasi tetap saja ditolak.  Tidak ada pilihan lain, Abraham pun duduk di atas panggung menyaksikan cucunya dicambuk sampai akhir. 


Sementara itu pukulan Arsen pun semakin ringan saat melihat orang-orang yang sudah bersimpati kepada Devano. 


Setelah seratus kali, Arsen menghentikan cambukannya. Devano tidak perlu melanjutkan hukuman yang diberikan kepada Keysa. 


"Seratus, selesai," ucap Arsen dengan lantang. 


Senyum terbit di wajah Devano yang sudah terlihat pucat itu begitu mendengar kata 'selesai' terucap dari mulut Arsen. Ia lantas mengumumkan bahwa Keysa adalah kekasihnya. 


"Karena aku sudah selesai menjalani hukuman seperti yang kalian pinta. Detik ini juga aku umumkan bahwa Keysa adalah kekasihku dan tidak ada lagi diantara kalian yang boleh mendebat ini," tandas Devano dengan menggunakan mikrofon. 


Semua orang dibuat tercengang oleh aksi Devano. Lelaki itu benar-benar melakukan semua itu hanya demi mendapat restu untuk menjalin kasih dengan gadis yang bahkan dari tampilan saja tidak sebanding. Namun, banyak di antara mereka yang memuji ke-gentle-an Devano yang mencintai seseorang tanpa memandang wajah dan status. 


Devano pun berjalan dipapah oleh Keysa menuju sang kakek, meskipun tali cambuknya sudah diganti, tetapi punggung Devano tetap terasa sakit dan ngilu. 


"Ayo, kita pulang!" Kakek berniat membawa cucunya itu meninggalkan kampus.

__ADS_1


Happy reading, Kak. Semoga masih menikmati cerita Bang Dev dan Keysa, ya! Cuma mo sekedar meluruskan bagi sebagian yang belum tahu dan mengerti tentang cerita ini. Kakak readers semua di sini, cerita Bang Dev adalah sebuah cerita dari misi kepenulisan yang dibuat oleh platform, di mana penulis hanya mengembangkan naskah yang diberikan oleh pihak pf. Saya menulis sesuai kerangka yang diberikan oleh pf, jadi kakak semua mau komplen bagaimana pun, bilang cerita ini halu-nya ketinggian, cerita seperti dongeng, ceritanya ngaco atau apapun itu, saya no coment. Kerangka di kirim dari pihak NT dan saya hanya bertugas mengembangkannya saja. Terima kasih atas pengertian kakak semua, terima kasih juga yang sudah mau menemaniku di cerita ini, dan mohon maaf sebesar-besarnya jika cerita ini di luar ekpetasi kalian 🙏🙏🙏. Love you all ....


__ADS_2