Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
182


__ADS_3

Keysa tidak menyia-nyiakan kesempatan saat diberi kesempatan mengendarai mobil, apalagi yang dibawanya adalah mobil sport. Senyum tidak pernah pudar dari wajah yang tampak bahagia itu, bahkan berkali-kali Keysa berteriak lalu bersenandung ria untuk mengungkapkan kebahagiaannya.


"Ini menyenangkan sekali," ungkap Keysa, kemudian dengan sengaja menaikkan kecepatan mobil.


"Key, pelan-pelan!" protes Devano.


Keysa menoleh sambil mencibir. Lelaki yang biasanya membawa mobil lebih cepat dari kecepatan saat Keysa menyetir tampak khawatir. Devano berkali-kali menyuruh Keysa menurunkan kecepatan mobil. "Ish ... biasanya juga bawa mobil dengan kecepatan kilat, giliran aku yang bawa sampai pegangan ke safety belt," cibir Keysa, tanpa mengurangi kecepatan, malah semakin menaikkannya.


"Aku sudah terbiasa, sedangkan kamu baru pertama kali nyetir. Bukan cuma kita yang bisa celaka, tapi orang lain juga. Turunkan kecepatannya, Key!"


Namun, gadis yang terlanjur bahagia karena diperbolehkan menyetir tidak mendengarkan. Mobil melaju masih dengan kecepatan tinggi, hingga sebuah panggilan masuk ke ponsel Keysa. Ponsel yang tergeletak di dashboard pun langsung diambil Devano.


"Ponselmu bunyi, terima panggilannya. Biarkan aku yang menyetir," tandas Devano, memiliki alasan untuk meminta alih kemudi.


"Memang siapa yang panggil?" Jika tidak sangat penting, Keysa enggan menerima.


"Nenek Rati." Devano menyebutkan nama yang tertera di layar.


Mendengar nama Nenek Rati disebut oleh Devano seketika Keysa menurut. Gadis itu menepikan mobil, kemudian keluar dan berpindah posisi.


"Ini ponselnya!" Devano memberikan ponsel yang sejak tadi tidak berhenti berbunyi, setelah duduk di balik kemudi.


Keysa langsung menyambar benda pipih tersebut dan menerima panggilan, sedangkan Devano melajukan mobil dengan hati-hati sambil mendengarkan pembicaraan Keysa dan Nenek Rati.


"Nenek sudah ada di Bandara. Bisakah kita jemput Nenek sekarang?" ucap Keysa, setelah panggilan teleponnya terputus.


Devano yang sudah diberitahu rencana Keysa, atau lebih tepatnya rencana mereka berdua agar kakek Devano bisa move on, langsung mengangguk dan mengiakan ucapan Keysa.


Keduanya tiba di Bandara. Nenek Rati tampak sudah menunggu mereka di terminal kedatangan. Keysa yang melihat keberadaan Nenek Rati pun langsung menarik Devano ke arah nenek yang sedang berdiri dengan anggun dengan koper di samping.

__ADS_1


"Nenek!" teriak Keysa, saat dirinya berjarak kurang tiga meter dari neneknya berdiri.


Nenek Rati langsung menoleh ke arah suara. Ia melihat cucu dari sang kakak sedang berlari ke arahnya. Dengan senyum yang mengembang, Nenek Rati merentang tangan sambil memanggil cucu kesayangan keluarga Atmaja itu. Keysa pun langsung berhambur ke pelukan Nenek Rati. Cucu dan nenek itu saling melepaskan rindu dengan berpelukan dan saling menanyakan kabar. Sementara itu, Devano menyaksikan keduanya yang seperti teletubies berpelukan itu dengan seulas yang tertampil, apalagi melihat Nenek Rati yang tampak masih energik dan gaul meskipun usianya sudah tua.


Setelah puas melepas rindu, Keysa mengurai pelukannya. Ia lantas kembali ke sisi Devano, kemudian memperkenalkan lelaki itu kepada Nenek Rati.


"Nek, ini Devano. Dia kekasihku," ucap Keysa memperkenalkan Devano kepada Nenek Rati, begitupun sebaliknya.


Nenek Rati melebarkan bola matanya melihat lelaki yang berdiri di samping cucunya, lantas memerhatikan Devano dari atas sampai bawah. 'Dia?' Nenek Rati bergumam dalam hati. Ia terkejut dengan pandangan di depan mata. Devano mengingatkan Rati kepada seseorang.


Devano yang merasa diperhatikan secara intens oleh Nenek Rati langsung tersenyum kaku, kemudian menyalami wanita tua yang terlihat jelas sangat terkejut dengan kehadirannya.


"Siang, Nek. Apa kabar?" Devano berbasa-basi untuk mehilangkan kecanggungannya.


"Baik." Nenek Rati menjawab sambil melepaskan salaman Devano, kemudian melihat si cucu, lantas menarik Keysa sedikit menjauh dari Devano. "Dia benar-benar kekasihmu?" tanya Nenek Rati seraya berbisik, memastikan.


Keysa mengangguk, sedangkan Devano hanya memerhatikan dengan jiwa yang penasaran melihat Nenek Rati yang tiba-tiba menjauh dan berbisik-bisik dengan Keysa, seolah sedang menggunjingkannya.


Keysa kembali mengangguk.


"Jadi, kamu nyuruh nenek ke sini untuk diperkenalkan dengan Abraham ayahnya Damar Mahardika, begitu?" tanya Nenek Rati lagi.


Keysa kembali mengangguk, membuat Nenek Rianti menghela napas berat. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Nenek, kenapa? Kenapa dari tadi terus bertanya? Apa ada yang salah?" Keysa yang merasa tidak ada yang aneh dengan jawaban dan pertanyaan dari Nenek Rati merasa heran saat sang nenek yang menghela napas berat, seolah-olah uang baru saja diketahuinya itu bukanlah kabar gembira.


"Tidak ada. Ayo, kita temui kekasihmu lagi. Dia tampan, cocok untukmu." Nenek Rati menimpali tampak memberitahukan keterkejutannya, kemudian mengajak Keysa menghampiri Devano lagi.


"Maaf, ditinggalkan sebentar. Maklum sudah lama tidak bertemu, perlu me time untuk melepas rindu," tutur Nenek Ratu kepada Devano.

__ADS_1


Devano mengangguk dan menganggap hal itu bukan masalah. Setelah berbincang sebentar, Devano mengajak Nenek Rati dan Keysa meninggalkan Bandara dan pulang ke rumahnya.


Setiba di kediaman utama Mahardika, Nenek Rati dan Keysa langsung diajak masuk ke rumah oleh Devano. Damar dan Abraham juga sedang ada di rumah. Abraham menyambut kedatangan Rati dengan baik, begitu juga Damar, meskipun terlihat terpaksa.


Dari sikap Damar, Rati bisa menebak kalau anak abraham itu tidak menyukai kedatangannya, bahkan Keysa terlihat sedikit takut saat berhadapan dengan Damar. Rati juga mengetahui bahwa ayah Keysa dan ayah Devano sudah menjadi musuh bebuyutan, bahkan dari anak buah Keysa, Rati juga mengetahui bahwa lelaki yang bersikap dingin terhadap orang tua seperti dirinya itu menentang habis-habisan hubungan Devano dan Keysa setelah mengetahui orang tua Keysa.


"Apa maksudmu membawa nenekmu ke sini? Untuk mendekatkan keluarga kita? Jangan pernah berharap, bahkan hubungan kalian saja sampai kapanpun tidak akan kurestui. Apalagi, menambah beban satu lagi," sarkas Damar, menebak rencana Keysa yang membawa Rati berkunjung.


"Damar, jaga bicaramu!" Abraham yang mendengar ucapan tidak sopan dari sang anak langsung memberikan tatapan tajam.


"Yah, anak ini membawa neneknya ke mari untuk menjodohkanmu dengan dirinya. Gadis itu sangat pintar setelah menjerat anakku dengan pesonanya, sekarang ingin menjerat ayah dengan nenek tua itu." Secara blak-blakan Damar memberitahukan ketidaksukaan terhadap Rati dan Keysa.


"Dadd, apa yang Daddy katakan. Mereka tamu-tamuku, berbuat sopanlah kepada mereka." Devano yang menyaksikan kelakuan Damar pun langsung protes.


Sementara itu, Keysa langsung memegang tangan Rati. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari Damar di hadapan neneknya. Kehadiran Damar tidak diprediksi terlebih dahulu karena lelaki itu sedang berada di luar kota dan tidak menyangka akan pulang secepat itu. Niat Keysa dan Devano hanya mengenalkan Rati kepada Abraham saja.


"Ya Tuhan, tidak bisakah kau ini bicara sedikit lebih sopan kepada orang yang lebih tua?" sarkas Rati, juga menatap tidak suka kepada Damar. "Jangan mentang-mentang kau orang terpandang, bisa bicara asal kepada orang lain. Baru segini saja sudah meremehkan orang lain," lanjut Rati.


Nenek Rati adalah adik Surya yang terkenal bar-bar meskipun sudah berumur. Ia masih terlihat muda, meskipun usianya sudah di atas 60-an. Bicaranya juga langsung ceplas-ceplos pada sesuatu yang tidak disukai. Rati dengan lantang mengatakan kehebatan-kehebatan keluarga Keysa dan meremehkan Damar untuk membungkam mulut pedas Damar yang menurutnya kelewat batas.


Keysa terdiam mendengarkan Damar dan Rati yang sedang beradu mulut, tanpa ada satupun yang mengalah. Ia pun mengumpulkan kepercayaan dirinya untuk melerai keduanya. Keysa yang melihat gelagat sang nenek yang sudah menerima sinyal peperangan dari Damar pun langsung menenangkan Rati.


"Sudah, Nek, jangan malah ribut! Kita ke sini untuk bertamu bukan untuk ribut," gumam Keysa.


"Tapi, Key, ayah kekasihmu itu sudah berani-beraninya merendahkanmu dan keluarga juga. Nenek tidak terima. Dia pikir dia siapa? Keluarga kita jauh lebih terpandang dari dia," sarkas Nenek yang sudah terkadung kesal kepada Damar.


Mendengar ucapan Rati, Damar pun hendak menyanggah lagi, tetapi dihentikan oleh Abraham.


"Pantas saja Helen meninggalkannya, kelakuannya saja seperti itu. Wanita mana yang akan betah dengan lelaki arogan seperti dia," tandas Rati lagi, tiba-tiba mengungkit masalah Helen–ibu kandung Devano.

__ADS_1


Devano yang mendengar Rati menyebut nama mamanya menatap Rati dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa wanita yang bersama kekasihnya itu mengena sang mama.


__ADS_2