
"Aww ...." Keysa yang sedang berjalan menuju lantai dansa tiba-tiba bertabrakan dengan seorang lelaki. "Maaf," lanjutnya.
"Kenapa meminta maaf. Kamu tidak salah."
Keysa menggeleng. Letak kesalahan memang terletak pada dirinya. Ia berjalan sambil mengedarkan pandangan kemana-mana untuk mencari keberadaan Devano, hingga tanpa sengaja menabrak orang lain yang berjalan dari lawan arah.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Keysa lagi, merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa," ucapnya dengan seulas senyum.
Lelaki itu tidak mempermasalahkan tindakan cerobohnya, membuat Keysa langsung pamit. Namun, baru saja akan melangkah, kakinya terhenti saat pria tadi memanggilnya.
"Nona, maukah kamu berdansa denganku?" tanya Pria itu.
Keysa menatap pria tersebut, tetapi sejurus kemudian menolak dengan halus. Begitu pula dengan pria-pria lain, mereka yang ada di dekat Keysa juga mengajak gadis itu berdansa.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita mengobrol bersama? Atau kalau tidak … minum bersama, sepertinya bukan pilihan jelek. Kamu juga sepertinya belum ada pasangan?" tawar Pria yang ditabrak Keysa lagi. Ia masih berharap bisa dekat dan menghabiskan waktu dengan Keysa,meski hanya sebentar.
Ucapan si Pria itu pun kembali dibenarkan oleh pria-pria lain yang ada di sana.
Keysa hanya menampilkan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin membuat para tamu tidak senang di acaranya, meskipun tidak bisa mengabulkan permintaan mereka. "Maaf, sebenarnya saya sedang menunggu kekasih saya," ucap Keysa, seramah mungkin.
Raut kecewa terlihat di wajah mereka, tetapi para pria itu juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa itu kekasihmu?"
Bertepatan dengan itu, Zian berjalan ke arah mereka dengan pandangan yang tidak teralihkan dari Keysa.
__ADS_1
Keysa menoleh ke arah yang ditunjuk si Pria, hingga pandangannya bertemu dengan Zian. Namun, sejurus kemudian Keysa memutus pandangan tersebut. 'Kenapa dia datang ke sini?' Dalam hati, Keysa merutuki kedatangan Zian.
"Bukan. Dia bukan kekasihku," jawab Keysa. Membuat para lelaki itu bernapas lega.
"Key," panggil Zian, begitu sampai di dekat Keysa dan menghampirinya. "Aku mencarimu sejak tadi, ternyata kamu ada di sini," ucapnya dengan seulas senyum.
"Ya. Aku sedang di sini bersama teman-temanku," jawab Keysa. Ia yang enggan bersama Zian, memperkenalkan para lelaki itu sebagai temannya.
Zian kembali mengulas senyum kepada Keysa, tetapi sejurus kemudian senyum itu hilang saat mengalihkan pandangan kepada para lelaki di sana. Matanya menatap tajam penuh intimidasi kepada pria-pria tersebut. Tatapan Zian begitu menakutkan hingga membuat bulu kuduk para lelaki itu berdiri.
"Nona, sepertinya untuk malam ini memang bukan waktu yang baik untuk kita bersama," ucap pria yang ditabrak Keysa, kemudian pamit dengan alasan ingin bergabung dengan teman-teman yang lain.
Begitu pula dengan lelaki lainnya, mereka mengikuti jejak pria itu hingga hanya meninggalkan Keysa dan Zian saja.
"Apa kau menakut-nakutinya mereka?" Keysa melirik tidak suka pada sikap posesif Zian.
Keysa hanya mendelik. "Ada apa jauh-jauh datang ke sini?" tanya Keysa dengan ketus. Saat ini, ia dalam mode tidak mood bertemu dengan Zian, mengingat tindakan lelaki tersebut yang telah bekerja sama dengan Exel untuk menghancurkan Devano dan berakhir dengan sang kekasih yang hilang tanpa jejak.
Mendapatkan sikap ketus dari Keysa membuat Zian mengembuskan napas kasar. Namun, ia tidak akan menyerah begitu saja setelah banyak yang telah dilakukannya. Kedatangannya ke pesta itu adalah untuk membawa Keysa pulang. "Aku ke sini disuruh Kakek untuk menjemputmu," ucap Zian, menjual Kakek Surya agar keysa mau ikut pulang bersamanya.
"Aku tidak mau," ucap Keysa dengan tegas.
Sementara itu, di suatu tempat, tampak seorang lelaki sudah rapi dengan penampilan terbaiknya. Setelah mematut diri di hadapan cermin, ia langsung keluar dari ruang ganti pakaian dan menyambar topeng yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Aku sudah sangat merindukanmu, Baby!" gumamnya. Seulas senyum tertampil di bibir seksinya ketika mengingat kalau malam ini dirinya akan bertemu dengan sang kekasih.
Ia keluar kamar dan berjalan sangat cepat, tidak ingin kehilangang waktu yang sudah sangat ditunggu-tunggunya. Berpisah dengan sang kekasih dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun membuat lelaki itu menyimpan kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
"Mau kemana kamu, Dev?" Namun, tiba-tiba langkah lelaki yang tak lain adalah Devano itu terhenti saat bariton tegas dari sang ayah menggema di ruang keluarga.
"Menemui Keysa, Dadd," jawab Devano jujur, tidak ada gunanya juga bagi Devano.
Damar yang sedang duduk di sofa langsung berdiri begitu mendengar tindakan ceroboh yang akan dilakukan Devano. "Sudah kubilang jangan pernah keluar rumah. Kenapa kau masih ingin menemui kekasihmu itu?" Damar merasa geram oleh sikap sang anak.
"Hanya sebentar, Dadd."
"Tidak."
"Aku hanya menemuinya sebentar. Aku pun tidak akan memperlihatkan wajahku. Aku juga memakai topeng tidak akan ada yang mengenaliku," keukeuh Devano. Kerinduannya terhadap Keysa sudah tidak bisa dibendung. Ia ingin melihat Keysa dari jarak dekat meski hanya sebentar saja.
Namun, Damar pun tetap pada pendiriannya. Ia ingin Devano untuk tetap di rumah. "Dev, semua yang daddy perintahkan demi kebaikanmu juga mommy-mu. Daddy mohon dengarkan daddy kali ini. Jangan banyak membantah!"
Ya, hilangnya Devano dari peredaran bumi adalah atas perintah sebuah organisasi. Organisasi itu sedang menyelidiki keberadaan ibunya dan meminta agar Devano untuk menghilang sementara, bahkan sampai dinyatakan meninggal agar bisa memancing wanita itu keluar dari persembunyiannya. Demi bisa bertemu dengan ibu kandungnya, Devano pun pasrah dan rela dianggap meninggal, meski harus melihat kesedihan Keysa.
"Hanya kali ini saja, Dadd! Aku janji tidak akan sampai ada orang yang tahu." Devano memohon dengan wajah yang begitu memelas. "Aku juga tidak akan berulah!" janji Devano.
Damar mengembuskan napas kasar. Sikap keras kepala sang anak memang tak jauh dengan dirinya. Tidak mungkin lagi bisa mencegah, jika Devano sudah bersikeras seperti itu, bahkan ucapan tentang kehadiran ibunya pun sudah tak lagi dihiraukan Devano. Bicara dengan orang yang sudah dimabuk cinta dengan tingkat kerinduan akut seperti masuk telinga kiri kemudian keluar telinga kanan.
"Pakai ini!" Damar melempar sesuatu dan langsung ditangkap oleh Devano.
"Ini apa, Dadd?" Devano melihat-lihat kotak yang sedang dipegang, kemudian membukanya hingga dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Pakai itu. Aku tidak mau ada resiko yang akan merusak rencana kita," tandas Damar lagi.
Keadaan seperti ini memang sudah diantisipasi oleh Damar. Ia tahu bagaimana sikap keras kepala sang anak, hingga sengaja menyediakan topeng wajah silikon untuk Devano jika anaknya itu tetap membangkang.
__ADS_1
Akhirnya, Damar mengizinkan Devano pergi asalkan memakai topeng wajah tersebut. Demi bisa menemui Keysa, Devano pun mau tidak mau mengikuti perintah Damar. Ia pergi ke acara pesta itu dengan wajah orang lain yang entah wajah milik siapa.