Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
221


__ADS_3

"Ngomong-ngomong bagaimana bisa kamu serumah dengan wanita kampungan seperti dia? Baru beberapa menit saja berbagi udara yang sama sudah membuatku mual dan sesak." Cheryl tidak hentinya mencibir Disti. Ia juga mengkritik tindakan kakaknya itu yang sudah membiarkan Disti merawat Exel. "Jika kamu butuh pembantu, aku akan mencarikan orang yang lebih kompeten dan tentunya bukan orang yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan," lanjut Cheryl seraya menatap Disti dengan tatapan tidak suka.


Hati Disti merasa sangat sakit ketika mendengar setiap kata pedas yang keluar dari mulut Cheryl. Tidak sanggup mendengar kata penghinaan yang lebih menyakitkan lagi, Disti langsung meletakkan sendok dan garpu ke atas piring, kemudian meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata pun.


"Disti, kamu mau ke mana? Makananmu belum habis. Habiskan dulu makanannya," ucap Exel


Disti tidak menjawab. Ia malah mengambil tas dan berlari keluar dari apartemen Exel.


"Disti, tunggu! Jangan pergi!" Exel berteriak melihat Disti yang sama sekali tak mengindahkan ucapannya.


"Untuk apa mencegahnya pergi? Ini malah bagus, tidak ada polutan yang berbau kemiskinan di sini," ucap Cheryl dengan sangat santai, seakan ucapannya tidak menyakitkan siapapun. "Tidak perlu segitunya, Kak. Sudah kubilang aku akan mencari perawat yang sangat ahli untukmu. Tidak perlu mempekerjakan dia lagi," lanjut Cheryl, tanpa menyadari perubahan wajah Exel.


Exel tidak terima dengan semua yang diucapkan Cheryl. Lelaki di kursi roda itu menatap tajam ke arah sang adik yang sedang menghabiskan makanannya.


"Jaga bicaramu, Cher!" Exel bergumam penuh penekanan dengan gigi yang bergemeretak menahan amarah.


Mendengar nada suara Exel yang terdengar menusuk bahkan membuat bulu kuduk berdiri, Cheryl menghentikan kunyahannya dan mendongak ke arah lelaki yang sedang menatapnya setajam pedang.


"Kakak marah padaku hanya karena wanita itu? Sejak kapan Kakak membelanya? Bukankah Kakak juga tidak menyukainya?" cecar Cheryl. Tidak terima mendapatkan tatapan permusuhan hanya karena masalah Disti.


"Wajar kalau aku marah padamu, kamu keterlaluan. Bagaimana mungkin kamu malah menghina orang yang telah menolong dan merawatku selama ini? Kalau tidak ada dia, mungkin saat ini kamu sudah tidak bisa melihat aku di dunia ini." Exel mencecar balik Cheryl dan menyalahkan adiknya itu. "Di mana saat aku sedang terluka bahkan sampai mati? Bahkan saat aku menghubungimu saja, kamu sedang sibuk dengan rasa patah hatimu karena Dev. Padahal kamu tahu sendiri untuk siapa aku bisa sampai seperti ini." Amarah Exel semakin tidak terbendung. Ia membentak Cheryl hingga gadis itu ketakutan.

__ADS_1


"Kak, kamu membuatku takut." Cheryl menunduk dengan air mata yang mulai keluar membasahi pipi.


"Jika kamu takut dengan kemarahanku, jangan pernah lagi kamu menghina apalagi menyakiti Disti," tandas Exel, kemudian memutar kursi rodanya, hendak menyusul Disti.


"Apa Kakak menyukainya?" Sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Cheryl dan berhasil membuat Exel menghentikan kursi rodanya.


"Ya, aku menyukainya. Selama ini hanya dia yang selalu ada di sampingku, menemani dan merawatku di saat terpuruk. Hanya dia yang memberikanku ku perhatian dan kekuatan untuk terus melanjutkan hidup. Apa aku salah jika menyukainya?" tandas Exel, tanpa menoleh ke arah Disti. Setelah itu, pergi menyusul Disti tanpa menunggu jawaban Cheryl.


**


Exel menemukan Disti yang sedang menangis tersedu-sedu di bangku taman dekat apartemen. Dengan terus menggerakkan kursi roda, Exel menghampiri Disti.


"Jangan menangis nanti cantiknya hilang," ucap Exel sambil memberikan bunga yang baru saja dipetiknya.


Disti yang sedang menyembunyikan wajahnya di balik lutut langsung mendongak saat mendengar suara yang dikenalnya. "Aku tidak butuh bunga," imbuh Disti, dengan ketus, kemudian memalingkan wajah.


Exel mengembuskan napas kasar melihat Disti yang sedang merajuk, lantas meraih tangan Disti. "Dis, aku bukan orang yang pandai merangkai kata romantis, tapi aku mau jujur satu hal padamu. Selama ini aku sangat nyaman berada di sisimu, hingga tanpa sadar entah sejak kapan aku mulai menyukaimu."


Disti terperangah dengan ucapan Exel. Ia menatap tidak percaya kepada lelaki yang sedang memegang tangannya dan menatapnya penuh kelembutan.


"A-apa ma-maksudmu?" Disti tidak ingin percaya begitu saja dengan ucapan Exel.

__ADS_1


"Disti aku mencintaimu. Maukah kamu memulai hubungan baru denganku? Aku mau kita pacaran," ucap Exel lagi.


"Apa kamu berbicara seperti itu karena rasa bersalah karena hinaan Cheryl kepadaku? Aku sudah terbiasa dihina dan dicaci maki, jadi tidak perlu khawatir," balas Disti.


"Aku mencintaimu tulus dari dalam hati. Dan semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan Cheryl, bahkan aku sudah berencana untuk mengatakan semua itu sejak beberapa hari ke belakang. Namun, aku tidak terlalu berani untuk itu.


"Disti, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?" Exel kembali mengungkapkan isi hatinya di hadapan Disti.


Disti menatap Exel, mencari kebohongan dari mata lelaki itu, tetapi yang dilihat Disti hanya sebuah keseriusan. Disti yang sudah menyukai Exel sejak lama pun, tidak membuang kesempatan. Ia menyambut ungkapan cinta Exel. "Iya. Aku mau," ucap Disti, malu-malu.


Exel langsung memeluk Disti setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Mereka pun telah resmi menjadi sepasang kekasih.


Bertepatan dengan itu seorang teman Exel menghubungi. Exel mengurai pelukannya, kemudian menerima panggilan tersebut.


"Ok. Terima kasih atas info yang kau berikan. Itu sangat membantu." Exel tersenyum jahat saat mendengar penuturan orang di seberang sana.


Dari temannya itu, Exel mengetahui bahwa Zian adalah calon suami Keysa dan lelaki itu sedang membeli data tentang Keysa dengan bayaran yang sangat mahal, hingga sebuah ide juga terbersit di kepalanya.


"Kamu kirimkan saja nomor lelaki itu, biar aku saja yang menghubunginya," pinta Exel, sebelum mengakhiri panggilan.


Sementara itu, di kampus, Keysa ditarik Devano ke ruang senat. Ia memperlihatkan permata biru yang ditinggalkan ayah Keysa. Devano juga menyerahkan permata itu kepada Keysa.

__ADS_1


__ADS_2