
111
Nenek murka setelah mendengar penjelasan Liza. Ia mencaci maki Liza karena sudah bertindak gegabah dengan berusaha melenyapkan nyawa orang lain. "Kurung mereka bertiga!" sarkasnya kemudian kepada para pengawal untuk menangkap Devano, Ezra dan Keysa. Sebesar apapun kemarahannya terhadap Liza, ia tetap melindungi cucu kesayangannya itu.
"Key, cepat kabur!" gumam Devano, melihat mereka sedikit lengah.
"Tapi—"
"Cepat kabur! Di sini biar aku dan Ezra yang urus," tandas Devano lagi, tidak ingin dibantah.
Keysa pun melarikan diri dari rumah itu, meninggalkan Ezra dan Devano yang masih tertahan karena sedang melawan para pengawal keluarga Liza.
"Keysa kabur, kejar dia!" perintah Liza kepada para pengawal yang masih disibukan oleh pukulan Ezra dan Devano.
Sementara itu, Devano dan Ezra juga tidak membiarkan mereka bisa mengejar Keysa. Keduanya menghalangi langkah mereka dengan terus bertarung meskipun pertarungannya tidak adil—sepuluh berbanding dua.
Keysa bersembunyi di gudang rumah Liza. Dengan napas yang masih memburu, Keysa merogok ponselnya di saku dan segera mendial sebuah nomor untuk meminta bantuan.
"Ada apa? Malam-malam begini mengganggu kakek," ucap Kakek Surya dengan suara parau khas orang bangun tidur begitu panggilan tersambung.
"Kakek tolong aku!" tandas Keysa, yang berhasil membuat Kakek Surya di seberang sana langsung membelalak.
"Apa yang terjadi?" tanya Kakek Surya.
Keysa menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang terlewat. "Aku sekarang sedang bersembunyi di gudang rumah mereka," ucap Keysa di akhir ceritanya.
"Kembali saja pada mereka. Jika kamu terus berlari sampai kemanapun mereka akan tetap mencarimu."
"What? Aku menyerah diri begitu?" Keysa tidak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut sang kakek. "Apa kakek rela kalau aku benar-benar dihabisi oleh gadis saiko itu?" cecar Keysa yang langsung mendapat bentakan sang kakek.
__ADS_1
"Jangan asal bicara! Atau mulutmu kakek jahit pas pulang." Kakek tidak suka dengan ucapan Keysa yang terakhir. "Kembali pada mereka, dan kakek pastikan kamu akan baik-baik saja. Turuti saja ucapan kakek kalau kamu minta bantuan kakek," ucap Kakek Surya, lalu mengakhiri panggilannya.
"Ta—" Keysa masih ingin protes, tapi langsung terpotong oleh bunyi sambungan telepon yang diputuskan. "Dasar, Kakek. Aku belum selesai bicara," tandas Keysa dengan bibir yang mengerucut.
Meskipun sempat protes dengan ide sang kakek, tetapi Keysa tak ayal menurutinya juga. Gadis itu pun keluar dari gudang dan dengan mudah ditangkap oleh dua pengawal yang mengejarnya, tanpa perlawanan.
Devano dan Ezra yang sudah ditaklukkan oleh anak buah keluarga Liza tampak terkejut saat melihat Keysa kembali ke rumah itu. Gadis itu dibawa ke ruangan mereka dikurung dengan kedua tangan dicekal oleh dua orang berbadan kekar.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan melarikan diri lagi. Tidak perlu mencekalku seperti ini," cecar Keysa.
"Ucapanmu tidak bisa dipercaya," ucap salah satu dari mereka, lalu mendorong Keysa ke arah Devano dan Ezra berada.
Keysa jatuh ke pangkuan Devano yang langsung dirangkul oleh Devano. "Apa kalian tidak bisa berbuat lembut pada seorang gadis, hah?" Devano tidak terima dengan perlakuan dua orang itu terhadap Keysa.
"Aku tidak apa-apa. Jangan diperpanjang!" Keysa meraih tangan Devano, mencoba menenangkan lelaki yang sedang mengepal sempurna dengan mata menatap tajam ke arah dua pengawal itu.
"Karena aku tidak mau pacarku terus membuang energinya," jawab Keysa sangat enteng.
"Tapi, aku itu melindungimu! Lagian kenapa kamu bisa kembali? Bukannya sudah aku suruh melarikan diri?" cecar Devano.
"Aku tertangkap lagi sama mereka," jawab Keysa, padahal ia sengaja keluar dari persembunyiannya sesuai perintah Kakek Surya.
Namun, Devano tidak percaya begitu saja. Ia tahu Keysa bukanlah orang bodoh yang bisa tertangkap begitu saja, hingga keduanya pun berdebat dan membuat Keysa memilih diam menjauh dari Devano.
"Sudah! Jangan malah berdebat." Ezra menengahi mereka dan ruangan itu pun hening.
Malam telah larut, Keysa memeluk kedua kakinya dengan dagu yang bersangga pada lutut. Ia merasa sangat lelah, matanya pun mulai meredup. Devano memerhatikan Keysa, hingga egonya pun merendah.
"Kemarilah!" Devano melambaikan tangan dengan seutas senyum meminta Keysa mendekat.
__ADS_1
Tidak ingin terus berdebat, Keysa pun berjalan mendekat lalu duduk di dekat Devano.
"Jangan mengajakku ribut lagi. Aku lelah," ucapnya sambil duduk.
Devano tidak menjawab. Ia lantas menarik Keysa ke dalam pelukannya dan meminta Keysa tidur di pelukannya. "Tidurlah! Aku tahu kau lelah," ucapnya.
Keysa terdiam mendapati Devano yang memeluknya. Lelaki itu memiliki temperamen tinggi, tetapi kasih sayang kepadanya pun tidak kalah tingginya. Devano yang tahu Keysa sudah mengantuk langsung menurunkan egonya demi memberikan rasa nyaman pada gadis yang sudah kelelahan itu.
Keduanya tidak ada lagi yang bicara. Devano memeluk Keysa tanpa ada penolakan dari yang dipeluk. Seketika Keysa ingat pada saat ia jatuh pada lubang, saat Devano juga memeluknya karena kedinginan. Tidak lama, akhirnya Keysa tertidur. Setengah jam kemudian, Devano dan Ezra pun juga ikut tertidur.
Ketiganya tertidur dengan sangat pulas. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di rumah Liza saat mereka sedang bermimpi. Keadaan di rumah Liza telah berubah drastis.
Ezra bangun dan dikejutkan oleh pintu yang telah terbuka. "Dev, bangun! Lihatlah!" ia lantas membangunkan Devano.
Devano dan Keysa bangun bersamaan dan terkejut dengan apa yang mereka lihat. "Apa mereka telah membebaskan kita?" tanya Devano yang dijawab gedikan bahu Ezra.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka langsung keluar dari ruangan penyekapan. Saat mereka keluar, ketiganya menyadari rumah Liza sudah kosong dan tidak ada satu pun penghuni yang tersisa di sana.
Di Ibu Kota, Kakek Surya mengirim orang-orang yang telah ditangkapnya ke sebuah rumah tua tetapi masih terawat dengan baik.
Neneknya Liza menangis saat melihat rumah lama mereka yang sudah sangat lama ditinggalkannya. Kemudian, ia menjelaskan kepada Liza bahwa nenek buyut Liza adalah pembantu di keluarga Keysa.
Liza tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah mengetahui identitas asli Keysa. Namun, bukannya malah segan kepada gadis yang sangat jauh di atasnya itu, Liza malah semakin iri dan ingin merebut semua yang dimiliki Keysa. Ia pun beranjak dan hendak pergi membawa kemarahan dan kebencian yang semakin menggunung kepada Keysa.
"Sebaiknya kau terima nasib saja, Liz!" pinta neneknya.
"Tidak. Aku tidak terima. Aku pastikan akan merebut apapun yang dimilikinya," sarkas Liza dengan sangat geram yang membuatnya mendapat tamparan dari sang ayah.
Happy reading semuanya! Maaf kemarin tidak bisa up, debay-nya minta disayang terus jadi tidak bisa nulis. Kemarin ada yang nanya make-up Keysa gak luntur. Kalian bisa anggap saja, tuh, make up anti luntur 🤣🤣🤣, karena aku juga bingung harus jawab apa soalnya di kerangka yang diberikan pihat NT tidak tercantumkan makanya aku gak bahas saat nyasar di hutan maupun di rumah sakit. Jadi, mohon maaf kalau terkesan jadi plot hole karena dari sana-nya gak dibahas lagi.
__ADS_1