
Dengan amarah yang meledak untuk Cheryl, Keysa mendatangi gadis yang sedang berada di kelas bersama konco-konconya. Devano yang mencoba menenangkan dan mengajaknya kembali tak lagi dihiraukan.
Kemarahan Keysa semakin membuncah saat sampai di kelas dan menyaksikan Cheryl yang tampak bahagia ketawa-ketiwi bersama teman geng-nya, sedangkan Alea dan Reno harus merasakan kesakitan karena ulah gadis itu.
Keysa masuk ke kelas, menghampiri gadis yang belum menyadari kehadirannya itu. Hingga, seorang teman Cheryl menyenggol dan memberitahu ada Keysa.
Cheryl menoleh ke arah yang ditunjukkan temannya. Sekilas, gadis itu tampak terkejut melihat Keysa yang mendekat dengan wajah yang tidak bersahabat. Namun, dengan cepat ia mengontrol dirinya dan kembali bersikap biasa seolah-olah dirinya tidak melakukan kesalahan. "Ada angin apa seorang Keysa ke kelas kami. Perasaan kami tidak memesan apapun," tandas Cheryl, sambil berdiri, menatap angkuh Keysa yang sudah berdiri di hadapannya.
Keysa tidak menjawab. Namun, tangannya yang ambil alih. Keysa menampar kedua sisi wajah Cheryl dengan sangat keras membuat teman-teman Cheryl ketakutan dan mundur ke belakang Cheryl.
"Aku ke sini untuk memberi pelajaran kepada gadis pembuat onar. Tamparan itu tidak seberapa dari kesakitan Alea dan Reno yang hampir mati karena racun ular," tandas Keysa.
Cheryl terperangah saat mengetahui Keysa mengetahui semuanya. Dari mana gadis itu tahu? Pertanyaan itu yang ada dalam benak Cheryl, hingga matanya tertuju pada Devano yang berjalan ke arah mereka. Berpikir kalau Devano sudah membocorkannya.
"Devano tidak mengatakan apapun. Dia memenuhi janjinya untuk melindungimu," sarkas Keysa lagi, saat melihat mata Cheryl tertuju ke arah Devano.
"Memangnya siapa yang menuduh Devano. Tidak ada," tandas Cheryl lagi. "Bagus juga kalau kamu sudah tahu," lanjutnya dengan begitu angkuh. Ia mendekat ke arah Keysa, membalas tatapan tajam Keysa tanpa gentar, kemudian mencengkeram dan menarik dagu Keysa dengan kuat.
"Aku tak menyangka kalau kau segila itu demi mencelakaiku," tandas Keysa. Matanya saling beradu dengan mata Cheryl penuh permusuhan.
Cheryl berseringai. "Jadi kau baru tahu kalau aku bisa sangat gila demi apapun yang ku mau? Karena kau sudah tahu. Aku harap kau tidak lagi macam-macam denganku. Atau ... hidupmu akan benar-benar berakhir." Cheryl mengancam Keysa dengan segala kuasanya. Wajah cantik itu berubah sangat menakutkan dengan senyum jahatnya.
Keysa yang melihat perangai Cheryl pun menarik satu sudut bibirnya. Bukannya takut, Keysa malah tersenyum meledek. "Berakhir? Hidupku akan berakhir?" tanya Keysa, sambil menepis tangan yang mencengkram dagunya, lantas mencekal dengan kuat. "Bukan hidupku yang berakhir tapi hidupmu. Aku bahkan bisa mengirimmu ke antartika jika aku mau," tandas Keysa. wajahnya tidak kalah menakutkannya dari Cheryl.
"Hei! Gadis sialan kau pikir kau ini siapa? Berani sekali mengancamku!" Cheryl tidak terima diancam oleh Keysa.
"Kau ingin tahu siapa aku? Aku adalah Keysa Indira Fidelya, pewaris utama keluarga Atmaja." Keysa yang sudah sangat muak dengan Cheryl mengungkap jati dirinya yang merupakan keluarga Atmaja.
__ADS_1
Cheryl dibuat terpaku saat Keysa menyebut nama 'Atmaja' antara percaya dan tidak. Namun, ia juga tidak melihat kebohongan di mata Keysa.
"Kau tahu siapa keluarga Atmaja, bukan?" tandas Keysa lagi, penuh kemenangan saat melihat Cheryl mulai terguncang saat mendengar nama Atmaja.
"Kau jangan mengada-ngada. Mana mungkin kau keturunan dari empat keluarga paling berpengaruh di negara ini." Cheryl masih menolak kenyataan yang dipaparkan Keysa.
"Apa aku telihat sedang mengada-ada, hah?" sarkas Keysa lagi, sambil mencekal tangan Cheryl dan memelintirnya ke belakang tubuh Cheryl hingga gadis tersebut meringis.
"Dia tidak mengada-ngada, Cher." Devano yang baru sampai di sana pun membenarkan ucapan Keysa. "Berhentilah membuat gara-gara dengan Keysa," pinta Devano.
Cheryl dibuat gemetar mendengar perkataan Devano. Ia menatap Keysa, tidak percaya, lantas beralih menatap Devano yang dari sorot matanya meminta Cheryl berdamai dengan Keysa.
"Aku adalah keluarga Atmaja. Saat ini, aku masih bisa mengendalikan diri untuk tidak melakukan apa-apa. Tapi, untuk kedepannya aku tidak menjamin. Jangan macam-macam denganku, atau kau akan menyesal." Keysa melepaskan tangan Cheryl, lalu balik mencengkeram dan mengangkat dagu Cheryl hingga mata mereka saling bertemu, kemudian melepasnya dengan kasar.
Mendengar pengakuan Keysa yang mencengangkan, bukan hanya Cheryl ketakutan, tetapi teman-temannya juga. Keluarga Atmaja sangat terkenal kuat, tidak akan ada yang mampu menandingi kekuasaan keluarga itu. Namun, dengan bodohnya, mereka telah berbuat semena-mena kepada pewarisnya. Mengingat perbuatan jahat mereka, tidak ada satu pun yang tidak berkeringat dingin.
Cheryl yang merasa takut sekaligus sedih setelah mengetahui kebenaran tentang Keysa langsung meninggalkan kampus. Ia pergi ke asrama dan masuk ke salah satu kamar yang tidak ada penghuninya–kamar miliknya yang jarang ditempati. Cheryl bersembunyi di kamar itu dan menghubungi Exel.
***
Exel sedang berada di rumah saat Cheryl menghubunginya sambil menangis. Ia yang diminta sang adik untuk menjemput ke asrama pun langsung tancap gas ke tempat tersebut.
Setiba di asrama, Exel bergegas ke kamar Cheryl. Dilihatnya, gadis itu sedang duduk sambil memeluk kedua lutut. Ia menghampiri Cheryl dan duduk di samping adiknya itu.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Exel, sambil menepuk bahu Cheryl. Ia menebak keadaaan Cheryl tidak baik-baik saja.
Wajah yang bersembunyi di balik lutut itu pun mendongak saat merasakan ada kehadiran seseorang.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Exel lagi.
Cheryl menatap Exel, lantas bertanya tentang identitas Keysa yang sesungguhnya. "Apa Keysa itu benar-benar keturunan Atmaja? Apa dia ahli waris yang digembor-gemborkan itu?"
"Kamu tahu dari mana?" Exel malah balik bertanya kepada Cheryl. Meskipun kecantikan Keysa sudah terungkap, tetapi belum banyak yang tahu identitas Keysa yang seorang ahli waris Atmaja.
Melihat Exel yang malah bertanya balik dengan ekspresi yang biasa-biasa saja, tanpa terkejut sama sekali, membuat Cheryl mengerti bahwa sejak awal kakaknya itu sudah mengetahuinya.
"Jadi Kakak sudah tahu semuanya," tandasnya, lalu membuang napas kasar. "Kenapa gak pernah cerita?"
"Untuk apa cerita, enggak ada untungnya juga."
"Jangan bilang Kakak mendekati Keysa juga karena kekuasaan yang dimiliki gadis itu." Cheryl menebak alasan Exel mendekati Keysa.
"Itu salah satunya."
Cheryl mangut-mangut. Sekarang ia mengerti kenapa Exel selalu mengejar Keysa meskipun saat itu Keysa jelek dan sama sekali bukan tipe Exel. Ia kembali menatap sang kakak yang duduk di hadapannya, hingga terbersit untuk meminta bantuan lelaki itu untuk menyingkirkan Keysa dari kehidupannya dan Devano.
"Aku tidak terima dengan perlakuan Keysa yang selalu mencari gara-gara dan merebut Dev dari aku. Aku ingin Kakak bantu aku untuk balaskan dendamku kepada gadis itu," tandas Cheryl lagi penuh kebencian terhadap Keysa.
"Apa kau sudah gila, Cher? Setelah kau tahu dia anak siapa, kau masih mau balas dendam?"
"Aku tidak akan puas, sebelum melihat mereka berpisah dan gadis itu hancur." Mengingat Keysa yang keturunan ningrat di atas ningrat–sultan dari para sultan–dengan wajah rupawan dan memesona membuat Cheryl semakin membenci Keysa.
Exel membuang napas kasar, melihat kebencian Cheryl yang sangat besar itu. "Tidak akan mudah menghancurkan Keysa. Dia terlalu kuat, apalagi dia bukan dari keluarga sembarangan," tandas Exel, tidak yakin bisa mengabulkan permintaan adiknya itu.
"Tapi aku pun tidak akan tenang sebelum Keysa benar-benar pisah dari Dev. Aku ingin dia hancur," tandas Cheryl lagi, dengan air mata yang mulai mengenal sungai membasahi wajah manjanya.
__ADS_1
Cheryl si gadis manja. Ia tidak akan diam sebelum keinginan terwujud. Exel pun mencoba menenangkan adiknya itu. "Tenanglah! Jangan menangis! Dev pasti akan menjadi milikmu. Tetaplah tenang sambil menunggu hari pertunangan kalian tiba," ucap Exel. "Jaga wajahmu untuk tetap tampil cantik dan tunjukkan kepada semua orang bahwa hanya dirimu yang pantas untuk Devano," lanjut Exel, dan berhasil membuat Cheryl sedikit tenang.