Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
213


__ADS_3

Keysa menangis tersedu-sedu sambil dengan tangan yang melingkar di perut Devano. Dunianya saat ini terasa runtuh saat mengira Devano telah meninggalkannya untuk selamanya.


"Dev, jangan tinggalkan aku! Kamu sudah janji akan baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi kayak gini? Dev bangun! Jangan mati!" Keysa merengek meminta lelaki itu untuk bangun dan tidak meninggalkannya.


Sementara itu, Devano yang sebenarnya sedang tertidur sangat pulas karena efek obat tidur serta kelelahan terusik oleh suara tangis dengan tubuh yang digoyang-goyang.


"Dev, jangan tinggalkan aku! Aku tidak mau hidup tanpamu." Suara Keysa dengan tangis yang memilukan.


Devano yang setengah sadar mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Keysa, hingga ia menyadari bahwa Keysa menganggapnya telah mati.


"Kenapa nangis?" tanya Devano.


Keysa yang mendengar ucapan Devano, langsung mengurai pelukannya dan melihat ke wajah lelaki yang sedang berbicara. "Kamu tidak mati?" tanya Keysa sambil mengusap kasar air matanya. Mengucek-ucek mata memastikan kalau yang bicara benar-benar Devano.


Devano bangun setelah Keysa mengurai pelukan, lalu duduk.Ia menatap gadis yang seolah sedang melihat orang bangkit dari dalam kubur. "Apa kamu ingin aku mati?" tanya Devano sambil menyipitkan matanya.


Keysa menggeleng dan spontan memeluk Devano. "Aku bahagia kamu masih hidup. Kamu putus asa saat melihat kamu terbujur kaku, hingga mengira kamu sudah meninggal," jelas Keysa. Bukannya mereda, tangisannya malah semakin kencang.


"Hei, aku baik-baik saja, kenapa nangisnya malah semakin kenceng begini?" Devano mencoba mengurai pelukan Keysa, tetapi Keysa malah mempererat pelukannya.


"Tiga menit lagi. Ketika aku mengira kamu telah pergi selamanya, duniaku terasa sudah runtuh hari ini juga," ucap Keysa, dengan tubuh bergetar tanpa melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Devano menepuk-nepuk bahu Keysa. Jujur di hati yang paling dalam, lelaki itu sangat bahagia mendengar ucapan Keysa. Itu artinya Keysa sangat mencintainya dan tidak mau kehilangan.


"Aku tidak ke mana-mana. Jangan menangis lagi." Setelah Keysa mengurai pelukan, Devano mengusap lembut wajah Keysa yang basah.


Keysa mengangguk. Bagaikan anak kecil yang sedang menangis diberi permen, tangis Keysa tiba-tiba berhenti.


"Anak pintar." Devano mengacak-acak rambut Keysa yang sudah berantakan.


"Jelaskan semua yang telah terjadi! Kenapa saat aku kembali ke rumah itu tidak ada siapa-siapa di sana?" Keysa menginterogasi Devano tentang kejadian semalam.


"Dengan senang hati," jawab Devano dengan seulas senyum yang malah membuat Keysa mencebik. Di saat dirinya kalut dan sedih karena mengira Devano mati, orang yang dikhawatirkannya malah tampak santai dan bisa-bisanya tersenyum begitu renyah. "Tapi, naik dulu ke sini." Devano menepuk ranjang yang cukup luas untuk sendiri, tetapi tidak cukup untuk berdua.


Keysa yang ingin mendengar cerita dari Devano pun, tanpa banyak kata langsung menuruti permintaan lelaki itu. Ia naik dan duduk di samping Devano sambil bersandar ke kepala ranjang.


Zack yang tidak tenang dengan kepergian Devano seorang diri juga membuntutinya, hingga saat Devano hampir terdesak, Zack berhasil menarik Devano dan bersembunyi, kemudian membawa Devano pergi dari hutan yang tertulis 'Hutan Larangan.'


Setelah keluar dari hutan, Zack membawa Devano untuk berobat karena Devano berhasil disiksa saat masih ada di rumah itu.


Devano bercerita hingga tanpa sadar suaranya semakin melemah. Ia tertidur lagi.


"Dia tidur lagi?" Keysa mengernyit saat lelaki yang sedang memeluknya itu sudah terpejam dengan dengkuran halus yang terdengar.

__ADS_1


Perlahan Keysa sudah menurunkan Devano yang masih memeluk dan memindahkan kepala lelaki itu ke atas bantal. "Terima kasih sudah kembali untukku." Keysa mengecup kening Devano, kemudian turun dari ranjang.


Bertepatan dengan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Menampilkan Damar yang masuk dengan wajah merah padam ditemani oleh beberapa orang anak buah. Lelaki itu mendekat ke arah Keysa, kemudian menarik paksa Keysa agar menjauh dari dekat ranjang Devano.


"Pergi dari sini! Dan jauhi anakku. Kau hanya gadis pembawa malapetaka untuk Devano," sarkas Damar sambil menyeret Keysa keluar dari kamar Devano, kemudian mendorong kasar saat Keysa berada di ambang pintu.


"Jangan pernah tunjukkan batang hidungmu di depan keluargaku. Dasar gadis pembawa sial!" sarkas Damar lagi. Bagi Damar, Keysa tidak lebih dari gadis pembawa sial. Berkali-kali Devano mendapat masalah karena ulah gadis itu.


"Tapi, Om aku ingin menemani Dev di sini. Dev butuh aku di sini." Keysa memelas, meminta Damar untuk tidak mengusirnya.


"Yang Dev butuhkan adalah dokter dan obat-obatan untuk mengobati lukanya. Dia tidak perlu gadis tukang masalah sepertimu!" sarkas Damar lagi. "Bawa dia pergi!" Damar memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Keysa dan membawa paksa Keysa untuk meninggalkan rumah sakit.


Di saat para pengawal Damar menghampir dan bersiap mencekal tangannya, Keysa juga memanggil dua pengawalnya dan meminta mereka untuk menghadapi orang-orang tersebut. Keributan di depan ruang rawat Devano tak terhindarkan. Hingga akhirnya, petugas keamanan rumah sakit melerai mereka.


"Aku tidak akan pulang. Aku akan tetap menjaga Devano sampai sembuh," keukeuh Keysa.


Keributan mereka sudah menjadi tontonan banyak orang. Petuga keamanan pun sudah turun tangan. Damar tidak mau imagenya buruk di rumah sakit. Ia pun menyudahi perdebatan itu.


Damar mengembuskan napas kasar sebelum mengambil keputusan. "Baiklah aku izinkan kau bersama Devani, tapi dengan satu syarat." Damar menatap tajam ke arah Keysa.


"Apapun syaratnya akan aku lakukan demi bisa bersama Devano," tandas Keysa, semringah, lampu kuning mulai menyala.

__ADS_1


"Bantu Dev mencari ibu kandungnya sampai ketemu. Jika gagal, maka bersiaplah kamu untuk kupulangkan pada kakekmu. Dan, aku jamin seumur hidup kamu tidak akan pernah lagi bertemu dengan anakku," tandas Damar penuh ancaman.


__ADS_2