Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
219


__ADS_3

Meskipun awalnya menolak untuk membantu Nindi, karena mendapatkan ancaman dari Keysa, mau tidak mau Devano pun mengabulkan permintaan sahabat kekasihnya itu. Devano dan Keysa beserta Nindi pun pergi ke klub malam. Sepanjang perjalanan Devano tidak hentinya memasang muka kusut.


"Kenapa mukanya cemberut terus?" tanya Keysa, kepada lelaki yang berada di kursi kemudi.


"Tidak apa," jawab Devano, tanpa menoleh ke arah Keysa. 'Masih saja tanya kenapa. Dasar tidak peka!' rutuk Devano dalam hati, yang sebenarnya tidak suka dunia milik berduanya diganggu. Padahal, Devano sudah merencanakan banyak hal untuk mereka lewati bersama malam ini. Namun, sekarang ia terpaksa harus menjadi sopir bagi dua sahabat yang tampak asyik berbincang dan mengacuhkan dirinya.


Sesampai di klub, tampak Ezra sudah ada di tempat itu bersama Felix dan Zack.


"Datang ke sini kapan?" tanya Zack, ketika melihat adiknya datang bersama Devano dan Keysa.


"Tadi sore," jawab Nindi. Ia melirik Zack yang sedang tidur di pahha Felix, kemudian beralih pada lelaki yang masih ingin didapatkannya menampilkan seulas senyum sambil mengangguk memberi hormat. "Hai," sapa Nindi.


Ezra hanya membalas sapaan Nindi dengan senyuman dan anggukkan. Zack duduk, memberikan tempat duduk bagi Nindi untuk duduk.


"Kalian ada hubungan?" tanya Nindi, setelah duduk di dekat Zack.


Zack mengangguk santai. Nindi yang tahu Zack seorang homos*ksual pun hanya mengangguk sambil ber-oh ria. Kakak adik yang mulai berbaikan itu pun saling bertukar cerita, meskipun sebenarnya Nindi ingin bertukar sapa dengan Ezra. Namun, lelaki itu masih seperti bongkahan batu es, membuat Nindi tidak berani memulai percakapan.


Mereka berenam pun minum bersama. Mereka menikmati dunia malam dengan berkaraoke sambil ditemani minuman beralkohol serta makanan-makanan ringan. Mereka saling beradu suara dengan tubuh yang menari-nari menikmati alunan musik dari lagu yang mereka nyanyikan.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Entah berapa banyak minuman yang sudah mereka habiskan, bahkan Keysa dan Felix sudah mabuk berat. Keysa sudah mulai meracau tidak jelas dengan tatapan nakal kepada setiap lelaki yang ada di sana.


"Felix, ternyata kamu tampan juga, ya?" Keysa yang sudah dikendalikan oleh minuman keras itu, mengedipkan mata berkali-kali menggoda Felix. Ia mendekati lelaki cantik di samping Zack itu. Jiwa penggoda di diri Keysa mulai tumbuh.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" ucap Devano dan Zack bersamaan.


Zack menghalangi Keysa agar tidak mendekati Felix, begitupun dengan Devano, ia menarik keysa menjauh.


"Aku mau cium Felix. Dia imut kinyis-kinyis kayak baby. Lucu … muach … muach." seloroh Keysa dengan wajah menggemaskan, merengek kepada Devano.


Kedua mata Devano langsung melebar begitu mendengar ucapan Keysa tanpa filter itu. "Jangan macam-macam, Key!" Devano menatap tajam kepada Keysa, membuat bibir gadis itu seketika mengerucut. Andai Keysa tidak mabuk, Devano pasti sudah menghukum Keysa karena sudah terang-terangan ingin mencium orang lain.


Keysa terus meronta ingin mendekati Felix, tetapi langsung diberi tatapan maut oleh Zack. Lelaki itu memperlihatkan keposesifannya terhadap Felix. Devano mengembuskan napas kasar mendapati kelakuan absurd Keysa.


"Lebih lama di sini tidak akan baik. Aku akan membawa Keysa pulang," seloroh Devano, sambil menarik Keysa meninggalkan ruang karaoke.


"Aku belum ingin pulang. Aku masih mau bersenang-senang." Keysa menolak diajak pulang, tetapi Devano terus menariknya menjauh. "Aku juga mau ...." Keysa tidak melanjutkan ucapannya. Ia menoleh ke arah Felix dengan tatapan nakalnya.


"Apa hukumannya seperti ini?" Keysa yang digendong ala bridal style langsung menghadiahi sebuah ciuman di bibir Devano dengan menggigit sedikit bibir Devano.


"Kau ini benar-benar minta dihukum."


Felix juga sudah tidak sadarkan diri dan mulai meracau sambil bernyanyi tidak jelas. Zack pun memutuskan untuk membawa Felix pulang dan menyisakan Ezra berdua dengan Nindi saja di ruangan itu. Nindi menatap kepergian sahabat dan kakaknya dengan perasaan bingung. Ia yang ditinggal berdua dengan Ezra tak tahu harus berbuat apa.


Akhirnya, Nindi yang sebenarnya belum mabuk pun memilih untuk berpura-pura mabuk agar dirinya tidak canggung.


"Mereka sudah pulang, sebaiknya kita pulang juga. Aku akan mengantarmu." Ezra menghampiri Nindi yang duduk agak jauh dengannya.

__ADS_1


Nindi terlonjak dengan kupu-kupu menghiasi dada ketika mendengar ucapan Ezra. 'Apa dia benar-benar akan mengantarku?' Nindi bergumam dalam hati dengan mulut yang terus meracau, pura-pura mabuk.


Sejurus kemudian, hati Nindi langsung bersorak gembira saat Ezra menarik tubuhnya dan memapah Nindi untuk keluar dari klub. "Andai waktu ada tombol on dan off-nya, aku ingin menekan tombol off sangat lama. Aku ingin merasakan kedekatan ini lebih lama,' gumam Nindi dalam hati, Ia masih tak menyangka Ezra akan memperlakukannya dengan sangat baik. 'Kalau aku mengatakan cinta lagi dalam keadaan mabuk, apa dia akan menjawab iya?' Nindi yang merasakan sikap Ezra kembali baik, berharap lelaki itu akan menerima cintanya.


Sekali lagi, Nindi memberanikan diri untuk mengatakan cintanya kepada Ezra. Meskipun ditolak, setidaknya ia tidak akan terlalu malu karena dipikiran Ezra dirinya sedang mabuk.


***


Devano dan Keysa sampai di rumah Devano. Sepanjang perjalanan Keysa terus menggoda Devano, bahkan menggerayangi tubuh Devano hingga lelaki itu tidak bisa berkonsentrasi pada kemudi.


"Sudah sampai, ayo turun!" Devano membuka pintu mobil, menyuruh Keysa untuk segera keluar dari mobil.


Keysa tersenyum nakal, kemudian mengedipkan mata berkali-kali dengan begitu manja. "Gendong!" ucapnya, sambil merentangkan kedua tangan.


Devano lagi-lagi mengembuskan napas dengan kasar. Keysa benar-benar menguji kesabaran dan pertahanannya yang sudah mulai goyah karena Keysa terus menggoda. Namun, ia juga tidak mungkin meninggalkan Keysa sendirian di mobil. Bisa jadi, bukannya nyusul ke rumah, gadis itu malah berlari ke jalanan mencari orang yang hendak dicium.


"Huh!"


Devano kembali menggendong Keysa dan membawanya ke rumah.


"Kekasihku tampan sekali!" puji Keysa, sambil memamerkan rentetan gigi putihnya dengan tangan yang sudah mengalung di leher Devano.


Sepanjang perjalanan masuk rumah dan menuju kamar, Keysa tidak hentinya menggoda Devano, bahkan dengan agresif mencium bibir Devano yang dadanya sudah naik turun tidak karuan. "Key, kau yang memulainya. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu lagi!" gumam Devano, begitu Keysa melepaskan ciuman. Devano sudah sangat sulit untuk mempertahankan kewarasannya karena godaan Keysa yang begitu menggiurkan..

__ADS_1


__ADS_2