
Disti membersihkan tubuh Exel bagian atasnya saja, sedangkan sisanya ia serahkan kepada perawat. Ia membersihkan tubuh Exel dengan sangat telaten. Mungkin jika orang lain yang berada dalam posisinya, tidak akan mau melakukan semua itu. Terlalu banyak lelaki yang bernama Exel menyakiti hati juga fisiknya. Harusnya ia bersorak gembira saat Exel seperti orang sekarat di jalanan. Harusnya ia tidak menolong dan membiarkan dia merasakan rasa sakit, yang mungkin akan sebanding dengan kesakitan yang pernah di alaminya. Namun, Disti tidak begitu. Ternyata cintanya jauh lebih besar dari kesakitan yang didapatnya.
Setelah membersihkan tubuh Exel, Disti memilih untuk pergi sebelum Exel bangun dan memakinya lagi.
"Semoga lekas sembuh," ucap Disti sebelum meninggalkan ruangan Exel bersama perawat yang juga selesai membersihkan Exel..
Setelah kepergian Disti dan perawat, Exel langsung membuka mata. Ia menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup lagi.
"Kenapa dia masih baik padaku? Padahal aku selalu membuatnya sakit hati, aku bahkan telah kasar kepadanya," gumam Exel.
Sebenarnya Exel sudah sadar sejak awa Disti membersihkan tubuhnya. Namun, ia sengaja terpejam ingin tahu apa yang dilakukan gadis yang katanya telah mencintai Exel sejak lama.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka kembali, Exel menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang dan bersiap untuk menutup lagi kedua matanya jika itu adalah Disti. Namun, yang masuk bukan Disti melainkan dokter yang akan memeriksanya. Ada rasa kecewa yang tiba-tiba menghinggapi. Exel membuang napas kasar, tidak jadi pura-pura tidur lagi.
Dokter wanita dengan memakai pakaian serba putih serta stetoskop yang mengalung di leher, wanita yang sepertinya sudah berumur itu menghampiri Exel. Setelah menanyakan keadaan Exel pasca pingsan, Dokter itu langsung memeriksa dan menyuruh asistennya untuk mencatat.
"Pacar anda ke mana?" tanya dokter tiba-tiba.
"Pacar?" Exel malah dibuat terkejut oleh ucapan yang terlontar dari mulut si dokter.
'Benarkah dia sebaik itu kepadaku?' Exel mencoba mengingat memory saat Disti tiba-tiba menghalau, kemudian membawanya pidah ke tepi jalan. Di saat di tepi jalan dan menunggu kedatangan ambulance, rasa sakit semakin menjalar ke mana-mana hingga akhirnya Exel jatuh pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi setelahnya karena tidak sadarkan diri.
"Kalian pasti saling mencintai."
__ADS_1
"Apa itu terlihat jelas?"
"Siapapun yang melihatnya, orang-orang akan setuju padaku. Pacarmu itu sepertinya sangat memujamu. Ia selalu ada di sisimu dan tidak mau terpisahkan saat kami memeriksamu. ia terus berdoa untuk keselamatanmu," ujar dokter lagi.
Dari cerita mendetail yang didapatkan Disti di rumah sakit membuat kepala Exel terasa akan pecah. "Aku yakin kamu masih terpesona dengan pesonaku. Sebenarnya kamu masih mencintai aku kan?" gumamnya, mengingat Disti yang sekarang lebih sering menolak keberadaannya dan selalu menjauh saat mereka bertemu.
Exel membuang napas kasar. Dari dokter dan perawat ia bisa mengorek informasi tentang Disti saat dirinya pingsan.
Kesempatan kedua baginya yang hampir dijemput malaikat maut membuat Exel berpikir ulang untuk berbuat jahat lagi. Setelah merenungi diri sendiri, akhirnya Exel memutuskan untuk melupakan semua yang telah terjadi. Sekarang Exel ingin lebih menghargai sebuah hubungan, melupakan dendam yang sudah mendarah daging dan tidak berkesudahan. Ia ingin menghargai orang-orang yang mengerti kondisinya
Di tempat lain .... Cheryl kembali bahagia dibawah pengawasan Ferro. Cheryl kembali menjadi sosok yang ceria setelah hidupnya diselamatkan oleh Ferro. Sekarang di mana pun ada Cheryl, di situ pasti ada Ferro. Mereka menjadi pasangan baru yang menjadi trending topik dengan hastag 'ketemu pangeran setelah gagal bertunangan'.
__ADS_1
"Besok kita pergi ke Kasino bareng, ya!" Cheryl yang tidak pernah lepas menempel dari Ferro, mengajak lelaki itu untuk pergi bermain ke Kasino.