
Aula yang harusnya menjadi tempat berlangsungnya pernikahan Damar dan Salsa, malah menjadi tempat pertikaian keluarga antara anak dan ayah. Damar dan Devano masih terus tawar menawar. Sikap keras kepala mereka, membuat keduanya tetap pada pendirian masing-masing.
Hingga, setelah perdebatan panjang masalah pun berakhir. Hasil finish, Damar bersedia membatalkan pernikahannya. Begitu pun dengan Devano, ia membatalkan pertunangannya dengan Keysa. Sementara itu, semua tamu juga berhamburan pergi setelah menonton lelucon keluarga Abraham Mahardika secara gratis.
Keysa memperhatika orang-orang yang mulai membubarkan diri, membuatnya berpikir untuk pergi juga, selagi keluarga Abraham masih sibuk dengan hasil akhir perdebatan dan tidak sadar kepada Keysa. Ia pun menyelinap pergi diam-diam dari sana, berbaur dengan para tamu.
"Keysa, tunggu!"
Langkah Keysa tiba-tiba terhenti oleh bariton suara Damar yang sedang berdiri beberapa meter di belakang Keysa.
'Sial!' rutuk Keysa. Dengan ragu, ia menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah suara.
"Apa, Tuan, memanggil saya?" tanya Keysa sambil tersenyum kaku, lalu menunduk. Sorot mata Damar kepadanya, masih sama seperti tadi—menakutkan.
"Ya. Kamu mau ke mana?" Damar bertanya dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada dan mata yang tidak berhenti menindas Keysa.
"Mau pulang, Tuan. 'Kan acaranya udah batal," jawab Keysa, spontan, dan langsung mendapatkan pelototan dari Damar.
Lelaki itu masih belum sepenuhnya mengikhlaskan pembatalan pernikahannya. Dan, karena bantuan Keysa, Devano berhasilkan membatalkan pernikahan Damar. Damar tidak akan melepaskan Keysa begitu saja.
'Ya, Tuhan. Salah bicara lagi.' Keysa memukul bibirnya sendiri karena telah membuat masalah baru.
"Maaf, Tuan. Saya permisi dulu, selamat malam!" ucap Keysa, lalu berbalik kembali dan buru-buru pergi sebelum mendapatkan yang lebih dari sekedar pelototan.
Damar tersenyum jahat saat melihat Keysa lari tunggang langgang meninggalkan aula, hingga suara beratnya kembali menggema di sana. "Tangkap gadis itu! Jangan biarkan dia pergi dari sini!" perintahnya kepada beberapa pria berbadan besar.
__ADS_1
"Ah ... benar-benar sial!" umpat Keysa sambil berlari kencang.
Namun, tetap saja, meskipun Keysa lari sekencang mungkin. Tempat itu dijaga ketat, ia tidak bisa keluar begitu saja kalau sudah dicekal oleh si pemilik rumah.
"Bagaimana ini?"
Keysa sudah dikepung oleh anak buah Damar. Dengan mudah mereka menangkap Keysa dan menyeret gadis itu ke hadapan Damar.
"Hei, lepaskan! Kalian apa-apaan?" Ia mencoba memberontak, melepaskan kedua tangannya yang dicekal kasar oleh dua orang berbadan besar. Akan tetapi, mereka jauh lebih kuat. Tenaga Keysa tidak ada apa-apanya bagi mereka. Bahkan, Keysa yang sengaja mematung pun, dengan mudahnya mereka seret.
"Dev, tolong aku! Dev, tolong! Anak buah ayahmu menangkapku," teriak Keysa memanggil Devano sembari mencari keberadaan lelaki itu, dengan tubuh yang terus meronta-ronta—tidak mau diseret oleh anak buah Damar.
Tidak ada sahutan dari Devano. Lelaki itu seolah-olah lepas tangan dari masalah yang telah ia buat, bahkan batang hidungnya saja tidak terlihat.
"Dev, tolong aku! Jangan malah pura-pura mati! Kau harus bertanggung jawab! Bantu aku!" pekik Keysa lagi. Kesal, karena lelaki itu tak muncul sama sekali, padahal ia sedang kekusahan dihadang oleh anak buah ayah Devano.
"Lepaskan dia!" perintah Devano yang sudah berdiri tidak jauh dari Keysa.
Begitu mendengar perintah dari salah satu majikannya, mereka pun langsung melepaskan Keysa.
"Tinggalkan gadis itu!" sarkas Devano lagi, meminta orang-orang itu pergi.
Namun, Damar tidak berencana melepaskan Keysa. Ia memerintah anak buahnya untuk kembali mencekal Keysa. "Jangan sekali-sekali kalian melepaskannya!"
Orang-orang itu pun kembali mengikuti perintah Damar.
__ADS_1
"Lepaskan!" Keysa kembali berontak, mencoba melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh para anak buah Damar. "Jika kalian tak melepaskanku, aku akan menyebar luaskan kejadian yang terjadi di sini barusan. Bisa kupastikan reputasi kalian hancur," ancam Keysa. Ia tahu semua orang yang hadir di sana telah dibungkam mulutnya, mereka dibuat buta dan tuli selepas keluar dari ruangan itu, karena bagi keluarga Abraham reputasi tetap nomor satu.
"Kau bisa menyebarkannya, tetapi jika kau bisa lepas dari sini," jawab Damar, santai dengan senyum devil yang tersungging.
'Pantas saja Dev sipatnya arogan, ternyata turunan dari bapaknya. Kenapa aku harus terjebak oleh keluarga arogan seperti ini, sih?' rutuk Keysa.
"Dev, apa-apaan ini? Di kesepakatannya tidak seperti ini!" Keysa menatap tajam Devano. "Kau sudah berjanji akan membuatku baik-baik saja. Lalu ini apa?"
Devano tak menjawab. Ia hanya diam menatap Keysa, membuat gadis yang ditatapnya semakin geram.
"Devano aku ingin pulang! Kau harus mengantarku ke asrama. Atau aku tidak akan melepaskanmu, bahkan kalau aku mati sekali pun. Aku akan menghantuimu seumur hidupmu karena ulahmu aku terjebak di sini."
"Aku tidak takut hantu!" Devano memolototi Keysa, sambil menghempaskan tangan anak buah Damar dari tangan keysa dan menarik Keysa ke sisinya. "Tungggulah di gerbang! Nanti aku akan mengantarmu sekalian makan malam bareng," ucapnya, pelan.
Begitu mendengar ucapan Devano, Keysa langsung mengangguk, lalu pergi. Ia tidak peduli dengan acara makan malam, yang ia mau hanya pulang dari tempat yang seperti neraka itu.
"Lepaskan Keysa dan sebagai imbalannya aku akan membantu Daddy untuk memberikan pukulan fatal pada Kakek," pinta Devano selepas kepergian Keysa.
Devano di dalam hatinya tahu, bahwa ayahnya hanya menuntut ketidakadilan bagi neneknya yang sudah meninggal. Karena sang kakek menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Dengan itu, sang ayah sengaja menikahi wanita yang memiliki umur yang sama dengan nenek Devano, bahkan wajahnya pun sedikit mirip.
Devano dan Damar pun mencapai sebuah kesapakatan. Ketika keduanya menyepakati rencana mereka, terlihat Kakek Abraham muncul dari luar dengan tatapan marah.
"Apa kalian berdua bekerja sama dan berniat menjebakku?" raung Kakek Abraham dengan bola mata yang sudah memerah karena marah.
Devano dan Damar terdiam. Mereka hanya saling lirik, tanpa berani menjawab.
__ADS_1
"Asal kalian tahu, aku tidak takut sama sekali dengan rencana kalian. Silakan saja mencoba kalau kalian bisa!" lanjutnya lagi dengan emosi yang menggunung.