Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
17


__ADS_3

17


Fakta mengejutkan tentang keluarga nomot satu di kota, bahkan di Negara X, masih belum bisa diterima oleh akal sehat Keysa. Ia tidak bisa menerima semua berita yang baru saja didengarnya. Hingga, terbersit di kepala Keysa untuk menggoda Devano.


"Cieh ... cieh ... yang mau punya mama baru," goda Keysa. Devano hanya mencebik . "Kenapa enggak bilang dari awal kalau dia calon ibumu?" ujar Keysa sedikit berbisik.


"Kamu juga enggak nanya," jawab Devano, cuek.


"Kalau boleh kutebak, usianya sepertinya tidak jauh dari umur Kakek. Ternyata selera Kakek lebih bagus daripada selera anaknya, ya. Bahkan, mungkin dari seleramu juga." Mulut ceplas-ceplosnya dalam mengejek Devano mulai tidak bisa terkontrol, tanpa bisa melihat situasi dann kondisi. Sehingga mendapat pelototan dari Devano. "Ups!" Keysa menutup mulutnya yang sedang berseringai ke arah Devano.


Bukan Keysa namanya kalau takut hanya sekedar dipelototi. Gadis itu terus menggoda Devano dengan membanding-bandingkan istri kakek dan calon istri ayahnya. Mau dilihat dari segi apapun, tetap saja wanita muda si istri kakek yang menang.


"Kau memang pintar, Nak. Anakku saja yang matanya mulai rabun," ujar Kakek Abraham seraya berbisik dengan mata yang melirik tajam ke arah sang anak yang duduk agak jauh darinya. Lelaki tua yang disebut kakek itu memiliki nama Abraham Mahardika, pengusaha sukses nomor satu dan terkaya di Negara X.


'Apa aku bicaranya kekencengan?' tanya Keysa dalam hati, saat Kakek Abraham menyahuti ledekannya untuk Devano.


Aneh sekali, bukannya marah karena Keysa tanpa sengaja menghina anggota keluarganya. Kakek Abraham malah tertawa lepas dan ikut mengejek anaknya yang selalu kalah telak dari dirinya. Ya, meskipun Devano dan Keysa saling berbisik, tetapi Kakek Abraham masih bisa mendengarnya.


'Tapi kenapa kakek itu tidak marah?' pikir Keysa lagi, melihat Kakek Abraham yang malah tertawa lepas. Namun, Keysa juga sedikit bernapas lega, mulutnya yang asal nyeplos setidaknya tidak membuat masalah lagi.


Devano melirik Keysa, lalu beralih kepada sang kakek dan berkata, "Kakek juga harus tahu kalau tadi Keysa memanggil Bi Iren dengan sebutan bibi," ucapnya, mengingatkan Keysa yang memanggil istri kakeknya dengan panggilan 'bi'.


"Tapi, kan itu tadi sebelum aku tahu. Setelah tahu semuanya aku meralat ucapanku." Keysa mencoba membela diri.


Senyum Kakek seketika menghilang begitu mendengar ucapan Devano, dahinya mengkerung sembari melirik Keysa dan tampak tidak puas kepada Devano dan Keysa. Ia sangat terganggu dengan sebutan bibi yang disematkan kepada istrinya.

__ADS_1


"Dev, kau tidak sopan memanggil Nenek Iren dengan sebutan bibi, seharusnya kamu memanggilnya nenek," ucap Kakek Abraham kepada Devano, "Seharusnya kau memperkenalkan nenekmu dengan baik pada kekasihmu supaya dia tidak asal memanggil," lanjutnya. "Kamu juga jangan ulangi kesalahanmu!" ucap Kakek Abraham menunjuk Keysa.


Keysa menunduk sembari mengangguk lemah, sedangkan Devano menolak permintaan Kakek Abraham. "Meskipun Kakek menikah dengan seratus orang pun, tidak ada hubungannya denganku. Jadi tidak penting aku mau menyebutnya bibi ataupun nenek."


"Yang menikah denganku adalah istriku. Dan secara otomatis menjadi nenekmu, jadi kamu harus menyebutnya nenek. Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya denganmu? Kalau nenekmu menikah dengan kucing, baru tidak ada hubungannya denganmu."


"Tapi, aku tidak peduli," sanggah Devano.


"Dev ...." Kakek menatap jengah Devano.


Seorang pria yang duduk di sudut lain sofa yang semenjak tadi menjadi penonton, tiba-tiba angkat bicara. Ia adalah Damar Mahardika—ayah Devano. Semenjak tadi ia terdiam, memperhatikan semua orang yang ada di ruang tamu, terlebih Keysa dan Devano, tanpa ada niatan bergabung atau menyanggah pembicaraan mereka. Bahkan, lelaki itu tampak acuh meskipun dipergunjingkan oleh Kakek Abraham.


"Siapa gadis itu?" tanya Damar tiba-tiba kepada Devano.


Devano menoleh ke arah suara dengan alis yang terangkat, lalu meraih tangan Keysa dan menggenggamnya mesra. Devano membawa Keysa menghampiri Damar.


Devano memperkenalkan keduanya. Keysa mengulurkan tangan untuk menjabat tangan lelaki yang mirip Devano, hanya saja dalam versi lebih matang. Sementara itu, Damar hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa membalas uluran tangan Keysa, membuat gadis itu menarik kembali tangannya dan tersenyum kaku.


'Sepertinya keluarga di sini memang aneh semua.'


***


Pesta pernikahan pun dimulai. Semua ornag berkumpul di Aula, dengan Aula yang tampak sangat megah dengan sentuhan warna ungu muda yang dipadukan dengan warna putih, gold dan sedikit warna pink. Serta lampu kristal berwarna ungu yang sangat besar tergantung megah di tengah langit-langit aula, di kelilingi lampu-lampu kristal gold semakin membuat aula itu tampak mewah dan megah.


"Pertama-tama mari kita sambut Tuan Abraham Mahardika beserta Nyonya Iren Mahardika!" Seseorang yang menjadi pembawa acara di pernikahan itu, menyambut Kakek Abraham dan istrinya yang sedang berjalan di red karpet, memasuki Aula, menuju singgah sana yang diperuntukkan untuk mereka.

__ADS_1


Para tamu yang hadir pun tampak membungkuk, memberi hormat kepada dua orang itu. Terlihat jelas kalau Kakek Abraham adalah orang yang sangat disegani.


Setelah Kakek Abraham duduk di tempat yang telah disediakan khusus, pembawa acara pun mengumumkan bahwa Tuan Damar dan Nyonya Salsa selaku pengantin hari ini akan segera memasuki Aula. Dengan diiringi simfoni-simfoni indah pernikahan yang menggema di seluruh Aula, Damar dengan datar menggandeng penganti wanita masuk.


Semua orang memandang ke arah sepasang pengantin itu. Mereka bisa melihat dengan jelas kalau pengantin wanita terlihat agak tua meskipun sudah didandani sangat muda. Berbeda dengan saat Kakek datang, kali ini orang-orang yang hadir mulai saling berbisik.


"Pengantin wanitanya tua sekali."


"Mereka seperti pasangan ibu dan anak."


"Dunia Keluarga Abraham sepertinya sudah terbalik. Kakeknya menikahi wanita muda, sedangkan anaknya menikahi wanita tua," bisik salah satu tamu yang hadir.


"Mungkin Tuan Damar sengaja menikah dengan wanita seumuran ibunya karena marah kepada Tuan Abraham. Lihat sendiri, istri Tuan Abraham tampaknya seumuran dengan Tuan Damar," bisik yang lain.


"Dasar keluarga aneh." Ada juga yang memiliki pendapat yang sama dengan Keysa.


"Apa kalau ibunya Devano tahu, ia tidak akan panas? Secara saingannya wanita yang lebih layak disebut ibu oleh Tuan Damar?" tanya salah satu dari mereka.


Perguncingan mereka pun merembet kepada ibu Devano, yang akhirnya semua orang memilih terdiam. Mengingat ibu Devano itu tabu bagi keluaga Abraham.


Kemudian, si pembawa acara juga menyambut Devano dan Keysa yang masuk setelah Damar dan Salsa berdiri di atas panggung. Ia juga mempersilakan pasangan yang tak kalah penomenal itu untuk naik ke panggung.


Sebelum semua orang menggunjing dan bereaksi yang lebih aneh lagi, Devano langsung meraih mikrofon begitu sampai di panggung.


"Selamat siang hadirin semuanya. Terima kasih telah datang di acara keluarga Abraham. Semoga kalian senang dengan acara yang kami selanggarakan. Di acara pesta ini, di acara yang megah ini, saya Devano G Mahardika mengumumkan

__ADS_1


kalau hari ini adalah hari pertunangan saya dengan gadis di samping saya yang bernama Keysa."


__ADS_2