
Mendengar Zian ada di rumahnya, Keysa langsung kelabakan. Ia tidak ingin bertemu dengan lelaki itu.
"Aku harus sembunyi di mana?" gumamnya, seraya berputar-putar dengan mata mencari tempat persembunyian.
Sementara itu, Zian sudah ada di depan pintu belakang. Ia membuka pintu dan bergegas menghampiri Kekek Surya.
"Dia datang," gumam Keysa. Bertepatan dengan pintu yang terbuka, Keysa yang belum sempat sembunyi langsung menceburkan diri ke kolam.
Zian sendiri datang mengunjungi Kakek Surya, karena tahu peringatan kematian orang tua Keysa akan tiba sebentar lagi. Ia takut Kakek Surya sedih karena Keysa juga tidak ada di sana, memutuskan untuk menemani lelaki itu.
Zian yang sedang berjalan mendekati Kakek Surya di tepi kolam, mendengar suara benda yang masuk ke dalam air. Zian menghentikan langkahnya. Ia pun mengamati kolam dengan air yang bergelombang itu. Sesuatu jatuh ke dalam air, tapi apa? Itulah yang ada dipikiran Zian, mengingat kolam tersebut tidak terhalangi oleh apapun.
"Eh, ada tamu rupanya!" Kakek Surya berseru menyapa Zian.
"Kakek." Zian kembali melangkah, meninggalkan kepenasaranannya, lalu memberi salam kepada lelaki yang sudah dianggap kakeknya sendiri.
"Tumben kemari. Ada apa, Ian?" tanya Kakek Surya.
"Hanya ingin melihat keadaan Kakek dan menemani Kakek saja," ujar Zian dengan seutas senyum. Namun, mata Zian terus tertuju pada riak di kolam yang mulai tenang. Ia yakin ada sesuatu di dalam sana. "Kek, apa ada benda jatuh ke sana?" tanya Zian, tidak tahan ingin bertanya.
"Oh, itu, tadi kakek dapat ikan cukup besar, terus kakek buang lagi," jawab Kakek Surya, membantu Keysa menyembunyikan keberadaannya.
Namun, sepertinya alasan Kakek Surya kurang mengena di hati Zian, karena tanpa sengaja Zian melihat ikat rambut Keysa tertinggal di tempat duduk sebelah Kakek Surya.
__ADS_1
"Kakek memancing bersama siapa? Kenapa kursinya ada dua?" tanya Zian lagi.
"Oh, itu, kursi bekas Gabby. Tapi, sekarang sudah pergi," tandas Kakek Surya lagi.
Sementara itu, di dalam air Keysa sudah tidak tahan karena terlalu lama menahan napas. Ingin muncul ke permukaan, tetapi Zian masih ada di sana.
"Kakek sudah bosan memancing. Bagaimana kalau kita main catur?" Sudah terlalu lama Keysa bersembunyi di air, Kakek Surya pun mengajak Zian untuk meninggalkan kolam dan dijawab anggukan oleh Zian. "Ayo!" lanjutnya.
"Kakek duluan," ucap Zian, sambil memungut ikat rambut yang tergeletak di kursi. Ia tahu itu bukan milik Gabby.
'Dasar gadis bodoh! Kenapa pula ikat rambutmu kau tinggal segala,' rutuk Kakek Surya. Ia sadar bahwa Zian telah menyadari keberadaan Keysa. Terpaksa, ia pun beranjak pergi sambil menepuk bahu Zian.
Zian menatap air kolam yang mulai tenang kembali. Sudah hampir sepuluh menit dirinya berada di sana sejak datang ke kolam. Artinya Keysa pun sudah lebih selama itu pula berada di dalam air.
Keysa masih tidak mau bertemu dengan Zian dan lebih memilih terus menahan napas meskipun itu sangat menyakitkan.
"Sepertinya kamu lebih memilih mati daripada harus bertemu aku." Tangan Zian mengepal sempurna, kemudian melayangkan pukulan pada udara di depannya. Ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa membujuk Keysa untuk naik. "Dasar keras kepala!" desah Zian. Ia akhirnya meninggalkan kolam karena takut Keysa tidak tahan lebih lama lagi di dalam air.
Di dalam air, dengan hidung yang dicapit, Keysa sudah tidak bisa menahan napas lebih lama lagi. Mendengar Zian meninggalkan kolam, Keysa perlahan menyembulkan kepala ke permukaan lantas meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Keysa mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru, memastikan Zian sudah tidak ada di sana. "Aman," gumam Keysa, saat melihat sekelilingnya tidak ada Zian di sana. Keysa pun langsung naik dari kolam.
Tanpa sepengetahuan Keysa, Zian sebenarnya bersembunyi dari kejauhan. Ia memperhatikan Keysa yang baru saja naik dari kolam. Keysa yang memakai kaos putih dan celana selutut terlihat sangat cantik saat setiap tetes air berjatuhan dari tubuh. Ditambah lagi kaos putih yang basah itu, mencetak nyata tubuh Keysa yang sangat indah.
__ADS_1
Zian yang sudah sejak lama terobsesi kepada Keysa pun, tidak akan pernah rela jika ada orang lain yang merebut gadis itu dari sisinya. "Kamu hanya milikku, Key. Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambilmu dariku," gumam Zian, dengan mata yang tidak melepaskan pandangannya dari gadis yang sedang berjalan masuk.
Dengan setengah berlari, Keysa kembali ke kamar. Ia lantas mengganti baju sesampainya di sana.
"Akhirnya aku bisa bernapas lega," gumam Keysa, sambil merentang tangan dengan tubuh yang sengaja dijatuhkan ke atas tempat tidur. Berhasil kabur dari lelaki yang bernama Zian itu merupakan sebuah rekor, karena biasanya lelaki itu seperti bayangan Keysa. Di mana ada Keysa, di situ ada Zian. Hingga akhirnya, Keysa merasa jengah dan ingin terlepas dari lelaki itu.
Keysa mengurung diri di kamar. Zian yang masih ada di rumah bersama sang kakek, Keysa lebih memilih berdiam diri di sana. Terlalu lama di dalam kamar membuatnya bosan, padahal di luar sana masih banyak planing-planing yang siap dijajal oleh gadis petualang itu. Namun, kehadiran Zian membuyarkan semua rencana yang sudah dirancang untuk menyenangkan sang kakek.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, akhirnya Keysa bermain game. Saat online, Keysa juga melihat ada Devano di sana. Namun, lelaki itu tidak sendiri, di sebelahnya sudah berdiri Cheryl.
***
Di rumah Devano ....
Di dalam kamarnya Devano pun sedang bermain game. Ia tampak mendumel sendiri saat Cheryl terus mengganggunya. Saat melihat Keysa online, senyum smirk tersungging di bibirnya. Ia berniat untuk memanfaatkan Keysa agar Cheryl marah dan meninggalkannya. Namun, di sisi lain ia juga ingin bercerai dari Keysa dan memanfaatkan Cheryl untuk memuluskan rencananya.
Devano tidak ingin sendirian meng-carry Keysa. Ia pun membuat tim yang terdiri dari tiga orang untuk melakukan serangan. Tidak lama kemudian Cheryl mati dibunuh oleh monster. Devano yang sudah berhasil membunuh lawannya pun lantas membantu Cheryl—yang sudah hidup kembali—untuk melawan musuh gadis itu.
Setelah mengalahkan para musuh, Cheryl bermanjaan dengan Devano. Lelaki itu sengaja ingin membuat Keysa marah, dengan mengatakan akan menikah dengan Cheryl begitu Keysa bercerai darinya. Namun, tidak mudah membuat Keysa menyetujui permintaannya. Pura-pura akan menikah dengan Cheryl pun tidak membuahkan hasil.
"Baik aku akan bercerai denganmu, jika kau bisa mengalahkanku."
Jangan tanya game apa yang mereka mainkan. Aku juga enggak mudeng. Dipaksa mudeng pun malah puyeng 🙈🙈. Mau diskip dari kerangka takut kena sanksi. kita nikmati aja, meskipun gagal paham. Anggap aja mereka lagi maen game rumah-rumahan🤭
__ADS_1