
83
"Apa maksudnya kau terus bicara seperti itu? Kalau bicara jangan asal," sarkas Keysa yang tidak terima dengan ucapan Devano. Keysa juga beralasan tidak memberi jawaban kepada Ezra karena dirinya tidak tega menolak Ezra secara langsung.
"Sahabatmu saja yang tidak peka. Seharusnya dia paham kalau aku tidak menyukainya," tandas Keysa lagi.
"Lalu kenapa kamu selalu merespon semua chat-an dari dia, seolah-olah kamu memberi harapan kepadanya? Apa karena mentang-mentang kamu cantik kamu bisa mempermainkannya?" Devano memegang bahu Keysa dengan kuat, jarak dari keduanya begitu dekat. Dengan tatapan tajam ia mengintrogasi Keysa. Devano tidak akan terima kalau sahabatnya itu benar-benar dipermainkan Keysa.
"Semua chat yang masuk aku respon. Chat darimu saja aku juga respon, kan?"
"Tapi, di awal responmu terhadapku dan Ezra itu berbeda dan itu membuat dia mengira kalau kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya."
"Kalau begitu itu salah dia sendiri. Aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya, jadi letak kesalahanku di mana? Aku hanya menganggap kalian itu teman, tidak lebih," jawab Keysa sambil mendorong tubuh yang mengunci tubuhnya itu. "Minggir, aku mau pergi!" lanjutnya, sambil berusaha melepaskan tangan yang masih bertengger di bahu Keysa.
"Aku tidak percaya," sarkas Devano.
Keysa yang tak tahu harus bagaimana lagi cara menjelaskannya kepada Devano, lantas menangkup wajah lelaki itu. "Lihatlah di mataku apa ada kebohongannya di dalamnya? Aku berkata yang sebenarnya," ucap Keysa.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tiba-tiba suara bariton Ezra terdengar dari arah pintu. Ezra yang kembali keluar untuk mengajak Devano dan Keysa masuk dibuat terkejut saat melihat mereka yang sedang saling memandang.
Begitu juga dengan Devano dan Keysa, keduanya dibuat terkejut oleh suara Ezra dan spontan Keysa menurunkan tangannya dari wajah Devano, lalu menoleh ke arah suara. Namun, tidak disangka bibir Devano malah menempel di pipi Keysa. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat bibir Devano menyentuh pipi Keysa saat gadis itu menoleh.
"Apa yang kau lakukan?" Keysa memelototi Devano dengan kaki yang menginjak kaki Devano dengan sangat keras, membuat lelaki itu meringis.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Devano. "Ez, Faya setuju bermain ke rumahmu besok." Devano lantas mengalihkan pembicaraan sekaligus mengelabui Ezra supaya tidak salah paham kepadanya. "Iya, kan, Fay?" tanya Devano kepada Keysa dengan senyum yang dipaksakan dan langsung mendapat pelototan Keysa lagi. "Jawab iya saja, Fay. Atau Ezra akan berpikir yang tidak-tidak. Kita juga yang akan kena masalah," ucap Devano lagi tanpa membuka mulut.
"Kamu yang kena masalah, aku tidak," ucap Keysa sambil berdengkus.
"Apa kamu mau dicap sebagai perusak persahabatan dua lelaki? Berita itu akan merusak citramu," tandas Devano lagi.
Keysa tampak termenung dengan ucapan terakhir Devano. Sementara itu, Ezra yang mendengar Devano berhasil membujuk Keysa lantas menghampiri keduanya dengan senyum yang merekah.
"Apa yang diucapkan Dev itu benar?" tanya Ezra kepada Keysa.
__ADS_1
"Tentu saja benar, ngapain aku berbohong." Devano menimpali ucapan Ezra, lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan alasan ingin mencari minum.
"Apa benar besok kamu bersedia main ke rumah? Seperti yang diucapkan Dev." Ezra mencoba memastikan ucapan Devano itu benar adanya.
Keysa pun terpaksa mengiakan.
"Terima kasih, kamu sudah menerima undanganku," ucap Ezra dengn sangat antusias.
"Sama-sama," jawab Keysa. Ia terdiam sejenak, Keysa berpikir semuanya harus segera diluruskan. "Ez," panggil Keysa.
"Ya?"
"Tentang chatting yang tidak kubalas waktu itu. Aku akan memberikan jawabannya sekarang," lanjut Keysa kemudian.
Seutas senyum tertampil di wajah Ezra saat mendengar Keysa akan menjawab pernyataan cintanya.
"Tapi, aku harap kamu mau menerima apapun jawabanku," ucap Keysa lagi dan dijawab anggukan oleh Ezra.
Keysa menarik napas kasar, lalu meraih tangan Ezra dan menatap manik lelaki itu dengan seutas senyum yang tertampil. "Kamu lelaki baik, tampan juga pintar. Aku yakin pasti banyak perempuan yang mengantre untuk mendapatkan cintamu. Tapi, gadis itu bukan aku. Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman saja tidak lebih. Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Keysa. Kemudian, melepaskan tangan yang digenggamnya dan masuk ke villa tanpa menunggu jawaban dari Ezra.
Ezra terpaku dengan jawaban Keysa. Ia tidak percaya gadis itu menolaknya. Namun, Ezra pun tidak ingin menyerah. Ia akan tetap memperjuangkan cintanya kepada Keysa. "Aku tidak akan menyerah, Fay," ucapnya, lantas pergi menyusul Devano yang pergi ke sebuah kedai minuman di sebelah villa.
"Bagaimana kamu bisa membujuk Faya untuk mau bermain ke rumah?" tanya Ezra saat keduanya sudah bersama.
"Ah, itu. Karena aku hebat, jadi hanya dengan mantra simsalabim saja dia mau menerima ajakanku," imbuh Devano. Namun, ia tidak menjawab jujur kalau dirinya sudah mengancam Keysa.
"Apa ada yang kau sembunyikan?" tanya Ezra penuh selidik dan langsung dielak oleh Devano. "Awas saja kalau kau menyembunyikan sesuatu." Ezra memperingati Devano yang hanya dijawab anggukan santai oleh sahabatnya itu.
Sementara itu, Liza yang menunggu Devano dan Ezra di pemandian meminta Felix untuk memanggil mereka agar cepat kembali ke pemandian.
Felix pun mengambil kesempatan itu untuk kabur dari mereka yang terus mengintrogasinya tentang diri Faya.
Setiba di villa, tampak Keysa sudah bersama Devano dan Ezra lagi. Ia pun lantas menyampaikan pesan yang disampaikan Liza untuk merek berdua. Namun, bukannya pergi, mereka malah bercakap-cakap di sana bersama Keysa dan Felix. Keysa juga memberitahu Felix, bagaimana Keysa bisa mengenal Ezra dan Devano.
__ADS_1
'Ya, Tuhan, ternyata temanku yang satu ini benar-benar ratu drama. Ia dan dua lelaki itu sudah saling mengenal cukup lama dan dia masih bisa menjadi dua orang yang berbeda tanpa ada orang yang mencurigainya.' Di dalam hati, Felix dibuat tidak percaya dengan semua yang telah dilakukan Keysa.
"Fel, besok antarkan aku ke bandara, ya!" Keysa tidak mau identitasnya terbongkar. Ia pun berpura-pura meminta Felix untuk mengantarnya ke bandara dan dijawab anggukan Felix.
***
Semua orang sudah siap BBQ-an. Liza pun tampak berjongkok di tempat pembakaran, memasukan semua kayu dan arang ke tempat pembakaran. Namun, bukannya menyala, Liza malah terjebak dalam asap, sedangkan apinya tidak kunjung menyala. Hingga, sebuah ide terbesit di kepalanya untuk mempermalukan Keysa. Ia yakin gadis itu pun pasti tidak bisa menyalakannya..
"Fay, bisa tolong aku menyalakan apinya?" ujar Liza kepada Keysa dengan seringai licik menghiasi wajahnya.
Keysa hanya mengangguk, lalu mengambil pemantik api dari tangan Liza. Ezra yang melihat Keysa mencoba menyalakan api pun menghampiri Keysa hendak membantu. Begitu pun dengan Liza, ia juga berpura-pura membantu Keysa.
"Dev, bukankah Ezra alergi asap? Tolong bantu Faya, kasihan Ezra kalau harus mengap-mengap karena asap." Liza meminta Devano yang sedang sibuk bermain ponsel juga membantu mereka.
Dengan segera, Devano menghampiri mereka. "Sini biar aku yang membantu Faya, kau ajak Ezra menjauh saja!" ujar Devano, meminta Liza membawa Ezra pergi yang sudah mulai merasa sedikit sesak.
Mau tidak mau Ezra pun pergi. Asap membuatnya sangat tersiksa, tidak ada pilihan lain selain menjauh dari sana meski tak ikhlas meninggalkan Keysa bersama Devano.
"Apa kamu menyukai Faya?" tanya Liza saat mereka sudah menjauh.
"Ya. Tapi, Faya tidak menyukaiku," jawab Ezra dengan sendu.
Mendengar jawaban Ezra, membuat Liza senang. Ia tidak mau ada yang merebut posisinya dari dua lelaki populer itu. Tidak Faya, tidak juga Keysa. Ia akan berusaha menjauhkan Keysa dari Devano dan Faya dari Ezra.
Sementara itu, di depan pembakaran Keysa sedang menertawakan Devano yang tidak kunjung membuat api menyala.
"Sampai gajah terbang pun apinya gak bakal nyangkut kalau kalian menyalakannya dengan cara seperti itu!" ucap Keysa sambil meraih pemantik api dari tangan Devano. Keysa lantas mengambil kertas dan membaluri dengan minyak sayur. Setelah itu, meletakannya di bawah arang, lalu melemparkan korek yang sudah menyala pada kertas tersebut hingga api menyala sempurna.
"Wah, keren! Kau bisa juga menyalakan api?" Devano memberikan tepuk tangan kepada Keysa. "Tapi, kenapa tadi kamu pura-pura tidak bisa?" tanya Devano penasaran.
"Karena aku tahu, Liza ingin mempermalukanku dan menganggapku aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, aku ingin liat siapa yang bisa menyalakan apinya. Ternyata kalian yang tidak bisa apa-apa," ujar Keysa sambil mengangkat sedikit ujung bibirnya, mengejek.
'Ternyata dia licik juga,' gumam Devano dalam hati.
__ADS_1