
8
Dosen meninggalkan kelas saat mata kuliah pertama telah usai. Devano langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu menghampiri Keysa dan mencekal pergelangan tangan Keysa yang sedang membereskan catatan.
"Kau ikut denganku! Urusan kita belum selesai." Devano menarik paksa Keysa untuk mengikutinya.
'Sial, pasti dia ingin menyelesaikan masalah semalam,' umpat Keysa dalam hati.
"Hei, tanganku sakit!" Keysa berusaha melepaskan genggaman tangan Devano. Namun, tenaga lelaki itu sangatlah kuat. Bukannya dilepas, Devano malah semakin menariknya sangat kuat sampai tangan Keysa terasa sakit. Keysa pun terpaksa, mengikuti langkah Devano. "Kamu mau membawaku ke mana?" tanyanya lagi, saat mereka sudah di ambang pintu kelas.
Devano menoleh ke belakang, menatap tajam Keysa yang masih enggan untuk mengikutinya. Ia lantas mendekati Keysa dengan sorot mata yang bisa membuat semua orang merinding ketakutan. Begitu pun dengan Keysa, bohong jika Keysa tidak ketakutan dengan kilatan amarah yang terpancar nyata di mata Devano.
Apalagi mengingat tidak ada yang baik-baik saja sejak pertemuan pertama mereka.
Keysa spontan mundur saat Devano terus mendekati. Keysa mundur, Devano maju, terus seperti itu hingga tubuh Keysa terpojok di dinding. Devano berseringai jahat, melihat mangsanya tertahan di dinding. Ia pun semakin mendekati Keysa yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
Sementara itu, mahasiswa lain hanya bisa menjadi penonton. Menyaksikan aksi anak yang paling berkuasa di universitas, bahkan di negara. Tidak ada yang berani berurusan dengannya, seandainya Devano membunuh Keysa di hadapan mereka pun, mereka akan tetap diam dan pura-pura tidak melihat.
"Kamu mau apa?" tanya Keysa lagi sambil membenarkan kacamata, meskipun kacamatanya tidak kenapa-kenapa.
"Membuat perhitungan," jawab Devano sangat dingin dan mengcengkram. Ia semakin mendekati Keysa, hingga jarak mereka begitu dekat. Membuat keringat dingin mulai membasahi tangan Keysa.
'Mampus! Kali ini dia pasti akan benar-benar menyelesaikannya,' rutuk Keysa dalam hati. 'Key, berpikirlah! Jangan sampai lelaki aneh ini ngapa-ngapain kamu. Ayo, berpikir! Jangan ketakutan seperti ini.' Ia mencoba menenangkan pikirannya dan mencari jalan untuk lepas dari cengkraman Devano.
Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak kepada Keysa. Lengkungan senyum tertampil di bibir saat mendengar suara ketukan sepatu mendekat. Seorang dosen perempuan memasuki kelas mereka. Keysa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, isi kepalanya sudah kembali bekerja.
"Ibu, tolong aku! Aku mau dipukul oleh lelaki ini," teriak Keysa saat dosen wanita itu baru memasuki kelas.
Devano menoleh ke arah pintu dengan tangan masih mencekal pergelangan tangan Keysa. Begitu pun dengan mahasiswa yang lainnya, mereka juga menoleh ke arah pintu. Dan, betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa yang masuk ke kelas. Seorang dosen killer yang terkenal sangat menakutkan, dosen yang sering dipanggil 'Miss Susi' oleh mahasiswa. Ia terkenal tak pernah pandang bulu pada siapapun yang melakukan kesalahan, tanpa terkecuali Devano.
Dengan raut wajah yang sulit diterka, Miss Susi menghampiri Devano dan Keysa.
'Tamat riwayatmu, Dev.'
__ADS_1
'Anak baru itu memang sedang beruntung.'
Para mahasiswa bergumam pada hati mereka, bahkan ada yang saling berbisik saat melihat dosen itu mendekati Devano dan Keysa.
"Ada apa ini?" tanya Miss Susi dengan mata elangnya menatap tajam Devano dan Keysa.
Keysa pun langsung menjawab dengan wajah yang memelas. "Bu, lelaki ini menggangguku. Dia mau memukulku, bahkan tanganku sampai sakit karena dicekalnya," ucapnya sembari menunjuk pergelangan tangannya yang masih digenggam erat Devano. Sementara itu, Devano memolototi Keysa, tak terima dengan ucapan Keysa.
"Devano!" panggil Miss Susi penuh penekanan, menatap Devano yang malah memoloti Keysa.
"Iya, Miss." Devano mengalihkan pandangannya ke arah Miss Susi seraya menunduk.
"Kau membuat ulah lagi?" tanya Miss Susi seraya menyipitkan matanya, dengan pandangan tertuju pada tangan Keysa yang masih dicekal Devano.
Tahu ke mana arah mata sang dosen, Devano pun dengan enggan melepaskan tangan Keysa. Keysa sendiri langsung berterima kasih kepada Miss Susi, lalu menyelinap kembali ke bangku, meninggalkan Devano yang sedang di marahi.
"Rasain!" gumam Keysa tanpa suara kepada Devano sebelum pergi sembari memeletkan lidah, mengejek lelaki itu.
"Jangan mentang-mentang kamu anak yang memiliki univeristas ini, kamu akan mendapatkan hak istimewa dari saya. Membully mahasiswa baru itu tindakkan yang tercela, apalagi kamu mau memukulnya. Kamu itu mencontohkan contoh yang tidak baik bagi mahasiswa lain ...." Miss Susi berceramah panjang kali lebar sampai akhirnya menyuruh Devano duduk.
"Sepertinya kau sudah bertemu dengan musuh bubuyutanmu." Ezra mengejek Devano, saat Devano melewati bangkunya.
Devano menatap jengah Ezra. Di ceramahi panjang lebar di depan teman sekelasnya membuat moodnya semakin hancur. "Dia belum tahu saja siapa aku," gumamnya, lalu duduk.
**
Sepulang kuliah Keysa langsung pergi ke asrama yang disediakan pihak yayasan kampus dan tanpa sengaja bertemu dengan Disti lagi.
"Hei, kita ketemu lagi," sapa Disti yang sudah lebih awal datang ke asrama.
"Hai."
"Apa kamu juga akan tinggal di sini?" tanya Disti lagi.
__ADS_1
Keysa mengangguk, lalu bertanya balik kepada Disti dan dijawab anggukan juga. Disti pun mengajak Keysa bersamanya. Ia yang cukup tahu banyak tentang asrama itu, lantas berbagi cerita sampai akhirnya Keysa tahu kalau tidak hanya mereka yang menempati asrama itu. Ada orang kaya yang juga tinggal di sana, tetapi jarang ke sana.
"Dis, apa di sekitar kampus ada tempat untuk bekerja bagi mahasiswa seperti kita?" tanya Keysa. Kartu atm dan kartu kredit telah dibekukan oleh sang kakek, terpaksa Keysa harus mencari pekerjaan untuk bekal hidup selama tinggal di sana.
"Akhirnya, aku punya teman yang senasib dan sepenanggungan di antara semua kaum elit yang kuliah di sini." Tiba-tiba Disti memeluk Keysa. Ia mengira Keysa sama sepertinya yang lahir dari keluarga miskin. Lalu dengan antusias Disti menceritakan rencananya untuk mendapatkan uang sambil kuliah.
"Idemu brilian sekali." Keysa memuji ide Disti dan langsung menyetujuinya. Ia bisa menghasilkan uang sendiri, tanpa harus melibatkan keluarganya.
**
Setelah menyiapkan segalanya dari sejak semalam. Keysa dan Disti pun mulai menjalankan misi mereka.
"Pengumuman-pengumuman!" teriak Keysa dan Disti, meminta perhatian dari teman sekelasnya. Kemudian, keduanya beriklan di depan kelas menawarkan jasa mereka untuk membantu mengerjakan tugas mahasiswa lain, sehingga dari menjalankan tugas itu Keysa dan Disti bisa mendapatkan uang.
Semua orang terdiam dengan mata yang saling melirik, lalu kembali sibuk masing-masing. Tidak ada yang menerima tawaran Keysa, bahkan semua ucapan Keysa dan Disti hanya dianggap angin lalu.
Keysa membuang napas kasar. Usahanya sia-sia. Ternyata mencari uang itu tak semudah membalikkan telapak tangan.
Disti menepuk bahu Keysa dengan senyum yang mengembang, memberi semangat kepada sang sahabat. Disti yang terbiasa hidup susah, lebih mudah menerima kegagalan itu.
"Tolong kerjakan tugasku! Ini uangnya." Tanpa disangka, tanpa diduga tiba-tiba Ezra memberikan buku tugas dan uang sejumlah tarif yang diminta kepada Keysa.
Wajah yang sudah seperti kerupuk kena air itu, seketika bersinar kembali. Dengan senang hati Keysa menerima buku tugas dan uang yang diberikan Ezra.
"Terima kasih, sudah mau menjadi pembeli jasa kami yang pertama. Kami janji akan mengerjakan tugasmu dengan sebaik-baiknya." Keysa membungkuk dengan senyum yang mengembang.
Ezra hanya mengangguk dan membalas senyum Keysa, lalu pergi.
Melihat seorang Ezra memercayai tugasnya kepada Keysa dan Disti, para mahasiswa lain pun langsung berbondong-bondong meminta bantuan keduanya juga, dan dengan senang hati Keysa menerimanya. Alhasil, di hari pertama mereka menjual jasa, Keysa dan Disti mendapatkan banyak uang.
Keysa dan Disti pun memilih mengerjakan tugas-tugas itu di tempat sepi supaya bisa lebih konsentrasi dan tidak ada yang mengganggu. Setelah selesai, keduanya baru kembali ke kelas.
"Apa kau ingin mendapatkan banyak uang?" tanya Devano yang duduk di bangku Keysa, saat gadis itu juga akan duduk di sana.
__ADS_1