
"Habis sudah kesabaranku! Kaulah yang pengecut bukan aku!" teriak Devano.
Exel yang mendengar suara dari arah belakang tubuhnya langsung menoleh dan sejurus kemudian bogem mentah melayang ke wajahnya begitu saja sampai kehilangan keseimbangan. Setelah terjatuh, Exel baru menyadari bahwa Ezra tadi hanya sedang mengalihkan perhatiannya terhadap Devano.
"Aww ... sialan!" umpat Exel. Ia berusaha bangun sambil memegang bekas tinju di wajah sebelah kanan yang terasa sangat sakit, bahkan bibirnya sampai pecah dan berdarah.
Devano sendiri tidak melanjutkan pukulannya. Ia lantas berjalan ke arah Keysa yang berada beberapa langkah dari dirinya berada, lantas membuka lakban yang membekap mulutnya.
"Ah ...." Keysa langsung membuang karbondioksida dan mengambil oksigen dengan rakus begitu mulutnya sudah tidak terhalangi benda hitam yang membuatnya susah bernafas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Devano sembari menilik-nilik bekas tamparan Exel di wajah Keysa.
Keysa membuka mulutnya hendak menjawab, tetapi teriakan Exel tiba-tiba mengalihkan perhatiannya.
"Kalian keluarlah! Dan hajar lelaki sombong itu!" Sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang berdiri di hadapan Keysa, Exel berteriak memanggil semua anak buahnya yang sejak tadi menunggu perintah.
Devano yang hendak melepaskan ikatan tali di tangan Keysa langsung menoleh dan dilihatnya segerombolan orang keluar dari tempat persembunyian dan menyerangnya. Devano pun sedikit menjauh dari dekat Keysa dan menghadapi orang-orang yang menyerbunya.
"Dev, hati-hati!" teriak Keysa.
Dibantu oleh Ezra, Devano menghajar mereka yang sukanya main keroyokan hingga baku hantam diantara mereka pun tidak dapat terelakan. Namun, diluar dugaan, dengan mudahnya Devano bisa membuat orang-orang yang lebih dari 10 nyawa itu. Mereka dibuat terkapar tanpa ada tubuh Devano yang tersentuh bogeman anak buah Exel.
"Segitu saja kemampuan kalian?" Devano menendang salah satu dari mereka, lalu membersihkan kedua telapak tangannya yang digunakan untuk menghajar orang itu dan meniupnya, seolah-olah ada tepung yang menempel di sana.
Dengan santainya, Devano pun kembali berjalan ke arah Keysa. Sementara itu, salah satu dari anak buah Exel bangun dan mengeluarkan pisau. Namun, Devano terlihat sangat tenang dan malah melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Keysa ke kursi.
Anak buah Exel dengan cepat melangkah mendekati Devano sembari memegang pisau dengan salah satu organ tubuh Devano sebagai sasarannya.
__ADS_1
"Dev, di belakangmu!" Keysa tidak bisa menyembunyikan kepanikannya saat melihat si pemegang pisau semakin mendekat. Berbanding terbalik dengan Devano yang masih tampak sangat santai, seolah-olah tidak ada bahaya yang mengancam. "Dia semakin mendekat. Minggirlah, Dev! Tidak perlu membuka talinya, selamatkan saja nyawamu!" Keysa mulai kesal bercampur khawatir melihat Devano yang dengan santai melepaskan setiap tali yang mengikatnya, tanpa memedulikan ucapannya.
"Apa kau punya banyak nyawa? Di belakangmu ada orang yang bawa pisau kau malah ngotak-ngatik tali."
"Diamlah! Talinya sebentar lagi terlepas," jawab Devano dengan sangat santai, tanpa peduli akan peringatan Keysa tentang orang di belakangnya.
Devano yang sedang berjongkok terus memutar tali, melonggarkan ikatan di kaki Keysa sampai hampir terlepas sempurna. Sementara itu, anak buah Exel sudah berada tepat di belakang Devano dengan pisau yang sudah siap menghunus belakang tubuh Devano.
Tangan Keysa masih terikat. Ia hanya bisa menggerak-gerakan tangannya supaya bisa cepat terlepas dan menghadang lelaki yang siap menyerang Devano.
"Diamlah, Key!" ujar Devano lagi.
'Bagaimana aku bisa diam, kalau orang itu sudah berada di belakangmu,' umpat Keysa dalam hati
Dengan seringai jahat, orang itu mengangkat pisau yang dipegangnya dan dengan secepat kilat pisau itu bergerak ke arah punggung Devano.
"Dev!" teriak Keysa sambil menutup mata. Ia tidak sanggup melihat Devano di tusuk di hadapan Keysa saat menolongnya, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Mendengar suara Devano, perlahan Keysa membuka mata dan dilihatnya Devano masih ada di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja dan tali yang mengikat Keysa sudah terlepas semua, membuat Keysa kebingungan dan di sana menjadi banyak sekali orang.
Saat pisau hampir menembus kulit Devano, tiba-tiba muncul orang-orang dengan perlengkapan lengkap masuk ke gudang dan membekuk seluruh preman itu dengan cepat, termasuk orang yang hendak menghunuskan pisau ke tubuh Devano. Mereka adalah bawahan keluarga Mahardika. Dan, sekarang anak buah Exel kembali terkapar tidak berdaya di gudang itu.
Devano meraih tangan Keysa dan menarik gadis yang masih mencoba mencerna apa yang terjadi saat memejamkan mata—dalam hitungan detik semua kembali berubah. Dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangn Keysa, Devano menendang Exel yang sudah babak belur.
"Tidak akan mudah untuk mengelabuiku apalagi mengalahkanku! Dan, kau akan selamanya kalah dariku. Jadi terima saja takdir itu!"
"Kau—" Dengan sisa tenaga yang masih ada, Exel mengepal sempurna tapi tak sanggup untuk menghajar Devano. Karena jika itu terjadi, pasti dirinya akan dijadikan emping oleh anak buah keluarga Devano.
__ADS_1
Keduanya saling adu mulut, sampai Exel yang kalah telak pun memilih pergi bersama anak buahnya.
Masalah di gudang selesai. Keysa sudah berada di mobil Devano. Namun, gadis itu masih terdiam dengan pikiran kosong, dan itu tidak lepas dari perhatian Devano.
"Apa kau masih takut?" tanya Devano.
"Tidak," jawab Keysa seraya menggeleng, lalu diam lagi.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Keysa tentang semua kejadian ini, tetapi ia ragu untuk bertanya. Keysa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, setelah sedikit ragu melanda, tetapi rasa penasaran lebih mendominasi membuat Keysa memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa Exel sangat membencimu?" tanya Keysa.
Devano menoleh ke arah Keysa dan menatapnya tajam, seketika suasana menjadi sangat dingin.
'Sepertinya aku salah bicara lagi.' Keysa merutuki dirinya sendiri.
"Aku tidak jadi bertanya. Anggap saja yang barusan itu kentut lewat," ucap Keysa sembari membenarkan posisi duduknya. Mendapatkan tatapan tajam sungguh tidak mengenakkan.
"Beberapa tahun lalu aku pernah mengalami kecelakaan dan kakeknya Exel yang telah menolongku. Aku selamat, tetapi kakek Exel meninggal dunia. Aku sangat berhutang nyawa pada keluarga itu. Namun, Exel tidak terima dengan semua yang telah terjadi. Ia terus membenciku dan berharap aku juga mati sama sepertinya kakeknya agar semuanya adil."
Setelah mendengar jawaban Devano, suasana menjadi sangat hening. Ada rasa sesal di benak Keysa karena telah mengungkit masa lalu Devano yang sepertinya menyakitkan bagi lelaki itu. Lalu, keduanya mulai mengobrol basa-basi sebentar dengan canggung, kemudian diam lagi sampai mobil Devano berhenti di depan gedung asrama.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Keysa begitu turun dari mobil.
Devano hanya mengangguk, lalu melajukan kembali mobilnya.
Setelah kepergian Devano, Keysa mengambil paket dan masuk ke asrama. Dilihatnya tidak ada orang di sana, setelah membersihkan diri, Keysa pun membuka paket yang diterimanya dan mulai sesi foto-foto dengan barang pertama, yakni gelang tangan.
__ADS_1
**Happy reading semuanya!! 🥰🥰
Buat yang minta double up apalagi crazy up, maaf banget belum bisa ter-realisasi 🙏🙏. Othornya cuma dikasih jatah satu up sekali sehari. Semoga kedepannya bisa double up lagi**.