
48
"Aku akan memberimu uang. Aku punya banyak uang," tandas Devano dengan mata yang dipaksakan untuk tetap terbuka.
Keysa menatap lelaki yang sedang mabuk itu. Ia memindai setiap lekuk wajah di hadapannya yang hampir tak berjarak, hingga mata keduanya pun saling bertemu. Tanpa sadar, Keysa tersenyum. Ia merasa Devano yang sedang mabuk itu terlihat sangat imut.
'Kenapa si Arogan berubah imut kayak gini, sih? Aku kan jadi gemes.' Tangannya pun sudah gatal ingin menguyel pipi Devano.
"Itu tidak perlu. Terima kasih atas tawarannya, tapi aku ingin mencari uang sendiri." Sejurus kemudian Keysa yang cepat tersadar langsung menolak tawaran Devano. "Dan, tentunya aku harus membalas orang yang ingin merusak nama baikku," lanjut Keysa sangat geram, mengingat rencana dua gadis yang sudah berniat jahat dengannya.
"Apa kamu suka padaku?"
Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Devano, membuat Keysa sedikit terperangah. 'Apa maksud ucapannya?' Namun, karena Devano sedang mabuk, Keysa pun menjawab sembarangan pertanyaan lelaki itu dan ia menjawab 'iya'.
"Kamu itu bohong," ucap Devano dengan kedua alis mengkerut dan bibir yang mengerucut. "Jelas-jelas kemarin kamu bilang kamu itu sukanya sama Ezra," lanjutnya.
'Ish, kenapa jadi manja dan super imut gitu sih? Itu bibir kenapa juga dimonyong-monyongin kayak gitu?'
"Kenapa kau terus membohongiku?"
"Aku hanya suka yang tipe-nya seperti Ezra, bukan berarti aku juga suka sama Ezra," jawab Keysa.
Setelah mendengar ucapan terakhir Keysa, Devano yang sudah merem melek pun menampilkan seutas senyum, hingga akhirnya tertidur karena mabuk. Ia yang posisinya berada di hadapan Keysa langsung terjatuh ke arah tubuh gadis itu.
"Eh, tepar!" Keysa menahan tubuh Devano yang sudah tidak berdaya, dan berusaha memapahnya. Kemudian, berjalan ke arah pintu, lalu menggedor pintu menyuruh Ezra untuk masuk.
Ezra segera mendorong pintu untuk masuk dengan dorongan yang cukup kuat, sehingga membuat Keysa yang masih berada di dekat pintu sambil memapah Devano pun terjatuh. Keysa dan Devano terjatuh dengan posisi Keysa berada di atas tubuh Devano, dan tanpa sengaja bibir mereka bersentuhan.
"Ya ampun, Key, di saat Dev sedang mabuk pun kamu masih tetap menggodanya." Ezra yang melihat itu pun langsung menjahili Keysa.
Keysa menoleh ke arah lelaki yang sedang tersenyum jahil. "Apa sih? Itu tidak seperti yang kamu pikirkan," elak Keysa, lalu dengan cepat Keysa segera bangkit. "Dia sangat menyusahkan. Kamu saja yang menjaga lelaki mabuk itu. Aku masih ada urusan," ucap Keysa, lalu memilih pergi.
"Sudah, bangun! Dia sudah pergi," tandas Ezra sambil berjalan ke sofa, setelah kepergian Keysa. Tanpa memedulikan lelaki yang sedang tak sadarkan diri di lantai.
__ADS_1
Devano yang masih tertidur di lantai pun, langsung membuka mata, bangun dan segera menyusul Ezra.
"Dia sudah pergi?" Devano mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan hanya mereka berdua di sana.
"Totalitasmu dalam berakting sungguh luar biasa." Ezra memuji yang telah dilakukan Devano.
"Jangan pernah meragukan kemampuanku!" Devano berseringai lebar sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu mengambil kacang di meja. Ternyata, lelaki yang sedang memakan kacang itu, hanya minum sedikit. Sejak tadi, ia hanya pura-pura mabuk untuk mendapatkan jawaban dari Keysa. Devano sekarang sedikit tenang setelah mengetahui kalau Keysa dan Felix hanyalah berakting.
***
Pengakuan Keysa semalam cukup membuat Devano lega. Akan tetapi meskipun ia sudah tahu kalau Keysa dan Felix hanya sedang berakting, hatinya tetap saja tidak bisa dibohongi. "Akting, sih, akting, tapi kenapa mesra banget?" umpat Devano.
Devano tetap saja kesal saat melihat Keysa dan Felix bermesraan di kelas. Bahkan, ia sampai melempar tas dengan kasar saat sampai di tempat duduknya saking kesal.
Malam harinya, Devano dan Ezra baru saja selesai makan malam. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk dari Cheryl masuk ke ponsel Devano. Gadis itu memberitahu kalau dirinya melihat Keysa dan Felix masuk ke sebuah kamar hotel.
"Dev, tadi temanku melihat Keysa dan Felix masuk ke sebuah kamar hotel. Aku takut keysa ditipu orang," ucap Cheryl dari seberang sana. "Karena hubungan kamu dan Keysa memiliki hubungan baik, jadi aku berpikir untuk memberitahumu," lanjutnya.
"Itu ... itu aku dapat informasi dari temanku."
"Teman yang mana?" tanya Devano penuh selidik.
"Temanku, Sita. Tadi dia sedang bersama pacarnya dan tidak sengaja melihat Keysa dan Felix masuk ke sebuah kamar hotel." Cheryl mencari alasan.
"Apa masih ada yang lain?" Devano lagi dengan nada dingin.
"Udah itu aja."
"Kalau begitu aku tutup teleponnya. Aku masih ada urusan lain," ucap Devano lalu menutup teleponnya.
Di seberang sana, Cheryl merasa senang karena rencananya akan segera berhasil.
"Kau itu terlalu berani," gumam Devano, setelah menutup telepon dari Cheryl.
__ADS_1
Dengan alis yang mengkerut, ia merutuki perbuatan Keysa yang menurutnya terlalu berani. Walaupun hanya sekedar akting, tetapi tidak harus senyata itu sampai masuk ke kamar hotel segala.
"Bagaimana kalau mereka digerebek massa? Ah ... gadis itu benar-benar menyusahkan saja."
Ezra yang melihat Devano yang tampak khawatir dengan keadaan Keysa pun angkat suara. "Apa kau perlu bantuanku? Aku punya satu ide, mungkin bisa membantu," ucap Ezra sambil memainkan ponsel miliknya.
Dengan antusias, Devano mendekati Ezra dan menanyakan ide yang dimiliki sahabatnya itu.
"Salah satu bos dari geng di bawah naungan keluarga Abraham ada yang sedang mengejar cinta Felix. Kau bisa memanfaatkannya untuk menjauhkan Keysa dari Felix," ujar Ezra tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Bos yang mana? Perasaan semua bos di bawah naungan keluargaku tidak ada perempuan." Devano dibuat bingung oleh pernyataan Ezra.
Ezra menoleh ke arah sahabatnya dengan menarik tipis ujung bibirnya sambil menaik-turunkan kedua alisnya, hingga setelah beberapa saat Devano baru sadar dengan maksud ucapan Ezra. "Aku paham," ujar Devano kemudian, dengan seringai lebar menghiasi wajahnya. Ternyata orang yang dimaksud Ezra adalah seorang laki-laki.
Sementara itu, di kamar hotel Keysa dan Felix sedang bermain game serta Disti yang sedang memotong buah untuk mereka. Keysa berpikir, jika hanya dirinya dan Felix yang berada di kamar hotel akan berpengaruh buruk untuk namanya dalam pemilihan ketua senat nanti. Ia pun menyuruh Disti untuk menyelinap masuk, dan bertindak sebagai saksi jika nanti diperlukan.
"Yeah ... aku menang!" Keysa berselebrasi saat dirinya memenangkan permainan yang mereka mainkan.
"Menang apanya? Kau curang, Key!" protes Felix.
"Curang apanya?"
"Kau mengiming-imingi foto itu supaya aku oleng. Kau curang!"
"Yeh, salah sendiri kenapa gak fokus? Baru diceritain yang bening sedikit langsung ngences," ucap Keysa sambil menjulurkan lidah, mengejek Felix.
Saat detik-detik terakhir kemenangan Felix, Keysa yang tidak mau kalah pun menceritakan tentang sebuah foto lelaki tampan sealiran Felix yang diambil dari akun medsos-nya. Baru mendengar pemaparan Keysa saja sudah membuat Felix tidak bisa berkonsentrasi. Felix pun meminta Keysa untuk menunjukkan foto tersebut dan mengenalkannya pada lelaki itu. Bertepatan dengan itu, Keysa berhasil jadi the winner.
Keduanya pun saling adu mulut karena Keysa yang curang dan Felix meminta mengulangi permainan lagi.
Di saat mereka sedang bertengkar karena masalah game, tiba-tiba pintu kamar didobrak dan sekumpulan orang yang berpenampilan seperti preman masuk ke kamar mereka.
Keysa dan Felix terkesiap. Mereka menoleh ke arah pintu dan seketika terdiam saat melihat bos dari mereka membawa pistol.
__ADS_1