Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
170


__ADS_3

Sebelum mabuk dan tidak sadarkan diri Keysa dan Disti memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan pelan meninggalkan pesta sambil menunggu Alea yang berpamitan dengan pemilik acara.


"Hai, Cantik! Berdua saja, pasangannya mana?" Tiba-tiba ada beberapa lelaki genit yang menghampiri Keysa dan Disti.


Keysa menatap jengah pada lelaki yang lebih dari lima orang itu. Mereka tiba-tiba menghadang langkah Keysa dan Disti. "Minggir aku mau lewat!" sarkas Keysa.


"Galak amat. Tapi aku suka," ucap salah satu dari mereka yang memakai tindik di hidung serta rambut yang pirang.


"Pasti mereka kurang belaian jadi beringas macam singa lapar begitu, Bro," timpal yang lain.


"Bisa jadi. Agar tidak beringas lagi, bagaimana kalau kita jadi pasangan saja? Aku sendiri, kamu juga sendiri. Sendiri tambah sendiri jadi berdua," gumam si Pirang, sambil menoel dagu Keysa.


"Jangan macam-macam!" Keysa langsung menepis tangan yang menyentuh dagunya. "Minggir! Aku tidak ada urusan dengan kalian," ucap Keysa lagi, semakin dibuat kesal oleh tingkah tidak sopan gerombolan lelaki berandalan itu.


"Enggak macam-macam cuma satu macam saja," timpalnya lagi dengan mata yang menatap nyalang kepada Keysa. "Ingin tubuh kamu," lanjutnya, membuat Keysa semakin meradang.


"Hei! Jaga mulutmu!" bentak Keysa.


Si Pirang menampilkan senyum jahat. Gerakan matanya memberikan kode kepada teman-temannya. Sejurus kemudian dua orang dari mereka menarik Disti dari sisi Keysa, dan dua orang lagi memegang tangan Keysa.


"Hei, lepaskan!" Disti memberontak, tetapi teman yang lain juga memegang tangannya.


"Jangan macam-macam. Lepaskan!" Keysa menatap tajam ke arah dua lelaki yang sedang memegangi tangannya. "Lepaskan temanku!" bentaknya lagi, melihat Disti diperlakukan kasar karena memberontak.


"Temanmu akan aman dengan temanku, asalkan kamu mau menemaniku malam ini," ucapnya lagi, kembali menyentuh dagu Keysa, sedangkan satu tangan menjentik menyuruh anak buahnya membawa pergi Disti.


Disti di seret oleh dua orang lelaki. Ia mencoba memberontak, tetapi kekuatannya kalah jauh.


"Hei, kalian mau bawa kemana temanku?" teriak Keysa sambil mencoba memberontak, tetapi tenaga mereka jauh lebih kuat. "Kalian jangan macam-macam! Aku sudah punya kekasih, aku tidak sudi untuk menemani kalian," tandas Keysa masih mencoba berontak.

__ADS_1


"Sudahlah tidak perlu berbohong. Aku tahu kamu gadis kesepian, begitu pula diriku, Jadi untuk melengkapi jiwa kita yang kesepian di tengah keramaian ini, tidak ada salahnya jika kita menghabiskan waktu bersama," tandasnya, dengan telunjuk yang mengabsen lekuk wajah Keysa.


"Sudah kubilang jangan macam-macam!" Keysa mengibaskan kepalanya agar telunjuk si Pirang menjauh dari wajahnya. "Sudah kubilang aku sudah punya kekasih. Aku adalah kekasihnya Devano Gavin Mahardika. Lepaskan tangan kalian dan menjauh atau kalian akan menyesal karena telah mengusik kekasih seorang Devano," tandas Keysa, menggebu. Ia yakin jika membawa nama Devano semua akan beres, karena tidak ada yang tidak kenal dan tidak takut dengan kekasihnya itu.


Namun, kenyataan tidak sesuai ekspektasi. Gerombolan itu malah tertawa dan menuduh Keysa membual. Mereka sama sekali tidak memercayai ucapan Keysa.


"Apa kamu pikir aku akan percaya? Sama sekali tidak. Jika kamu kekasihnya Devano, mana mungkin dia membiarkan kekasihnya pergi sendiri ke pesta pasangan," tandas si Pirang.


"Tapi aku memang kekasihnya Devano."


Sebagaimanapun Keysa menjelaskan mereka tetap tidak percaya. Mereka malah mengancam akan membahayakan diri Disti yang sudah jauh dari jangkauan Keysa, jika tidak mau menemani mereka.


"Baiklah aku akan menemani kalian, tapi tolong lepaskan tanganku sakit!" Akhirnya, mau tidak mau Keysa mengiakan permintaan para berandalan itu.


Orang itu berseringai lebar, kemudian mengajak Keysa masuk ke sebuah ruangan. Di perjalanan, Keysa berpapasan dengan seorang pelayan. Ia pun dengan sengaja memepet si pelayan dan berbisik meminta tolong untuk menghubungi Devano. Seluruh pekerja klub tidak ada yang tidak mengenal Devano, pelayan itu pun mengangguk pelan sambil berlalu.


"Maaf Tuan, ada seorang gadis yang mengatakan dirinya kekasih Tuan, tetapi dia sedang dalam masalah. Segerombolan lelaki menyeret dan memaksanya untuk menemani orang-orang itu." Si Pelayan menjelaskan semua yang terjadi kepada Devano lewat sambungan telepon. Ia juga memberitahu ciri-ciri gadis yang mengaku kekasih Devano itu.


"Dia Keysa kekasihku. Aku akan segera ke sana," tandas Devano, sebelum mengakhiri panggilan.


Di kediamannya, Devano yang baru saja mendapat kabar dari pelayan klub langsung mencari orang yang berada di tempat itu untuk melindungi Keysa sebelum dirinya datang. Setelah itu, ia pun bergegas pergi ke tempat Keysa berada.


Sementara itu, Disti yang sudah terpisah dengan Keysa berhasil melepaskan diri dari cengkraman berandal yang menyeretnya dan melarikan diri.


"Hei, tunggu kau mau ke mana!"


Berandalan itu mengejar Disti, membuat Disti terus berlari tanpa tahu akan pergi ke mana, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Disti, sambil mendongak ke arah orang yang ditabraknya.

__ADS_1


'Exel,' gumamnya dalam hati. Ingin sekali ia meminta tolong pada lelaki itu, tetapi urung dilakukannya.


"Hei, jangan lari!" teriak salah satu berandal, menyadarkan Disti yang sedang menatap lelaki di hadapannya.


"Maaf." Sekali lagi Disti meminta maaf, lalu pergi saat melihat orang itu semakin mendekat. Ia tidak berani memohon bantuan dari Exel.


"Mau lari ke mana lagi, Sayang?" Dua orang yang mengejarnya berseringai lebar, saat Disti terpojokan.


Sial. Disti berlari ke tempat salah. Ia malah berlari ke rooftop. Nasibnya diujung tanduk. Jika terus maju, sudah dipastikan ia akan terjun bebas. Jika diam saja, maka orang-orang itu akan menangkap.


Disti menoleh kanan kiri, kemudian menatap lahan kosong di hadapannya. Ia berada di lantai tiga, jika melompat kalau tidak mati pasti patah tulang. "Baiklah! Mungkin ini jauh lebih baik." Disti yang tidak mau melayani berandal-berandal itu memilih untuk terjun bebas.


Namun, tidak disangka saat kakinya sudah melayang sebelah seseorang menariknya menjauh dari ujung rooftop.


"Apa kau sudah gila?" bentak Exel. Lelaki itu menghentikan aksi Disti yang akan melompat.


"A-a-ku ...." Disti tampak syok saat mendapati Exel menolongnya.


"Terima kasih, Bro, sudah membantuku menangkap kucing mainan kami." Belum sempat Disti menyelesaikan ucapannya, para berandal itu sudah menarik Disti ke sisi mereka. "Sudah kubilang kamu tidak akan bisa pergi dari kami. Ayo, ikut!" Berandal itu menangkap Disti lagi dan membawanya pergi.


"Tidak. Aku tidak mau," tolak Disti.


"Kami tidak menerima penolakan," sarkas salah satu dari mereka dengan mata yang hampir keluar, kemudian menyeret Disti pergi.


Tenaga mereka yang jauh lebih kuat membuat Disti tidak bisa melawan lagi. Ia pun mau tidak mau mengikuti mereka, dengan mata yang sempat melirik Exel yang malah dia menonton. Ingin meminta tolong, tetapi Disti tahu lelaki itu sangat membencinya. Ia tidak ada keberanian untuk melakukan itu.


Exel sendiri masih menatap kepergian Disti yang diseret dua orang lelaki berwajah beringas. Ia terlihat bimbang antara menolong atau membiarkan Disti dibawa pergi.


"Tunggu! Lepaskan dia!" Tiba-tiba langkah berandal itu terhenti oleh suara lantang dari belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2