Miss Culun Dan Mr. Arrogant

Miss Culun Dan Mr. Arrogant
130


__ADS_3

Kakek Surya memerhatikan Devano yang sedang memegang bibit padi yang baru  dua puluh hari dan menanamkannya pada tanah berlumpur.  Ia tidak menyangka lelaki seperti Devano sampai mau turun ke sawah dan kotor-kotoran, ada sedikit simpati di hati Kakek Surya untuk lelaki yang sedang memperjuangkan cinta cucunya itu. 


Kesempatan ini pun, digunakan Kakek Surya untuk bertanya beberapa hal kepada Devano. 


"Kau itu tampan dan kaya. Pasti banyak wanita yang mengejar dirimu, tapi kenapa kau malah memilih Keysa," tanya Kakek Surya, seraya menanamkan beberapa tangkai padi ke lahan. 


"Karena aku sangat menyukai dan mencintai cucu kakek," tandas Devano. 


"Apa yang membuatmu menyukai Keysa? Bukankah dia tidak secantik gadis-gadis di sana, malah bisa dibilang cucu kakek sangat norak dan tidak modis," lanjut Kakek Surya. 


Devano yang sedang membungkuk, lantas menegakkan tubuhnya sambil menoleh ke arah Kakek Surya dengan tangan yang terulur menerima bibit padi yang Kakek Surya berikan untuk ditanam olehnya. "Bagiku paras bukanlah nomor satu. Mungkin Keysa tidak cantik di luar, tapi dia sangat cantik di dalam. Dia selalu menjadi malaikat penolong bagi teman-temannya. Ia tidak pernah memandang bulu dalam membantu orang lain. Ia juga anak yang pemberani dan pekerja keras," tutur Devano. "Aku menyukai semua yang ada dalam diri Keysa baik kurang ataupun lebihnya. Jadi, bisakah Kakek merestui hubungan kami?" lanjut Devano, penuh keseriusan. 


Kakek Surya mulai tersentuh dengan yang diucapkan Devano. Diam-diam ia mengukir seulas senyum di wajah yang masih terlihat segar meskipun sudah tua. 


"Baiklah, aku akan merestui hubungan kalian," ucap Kakek Surya, yang membuat Devano membelalak karena kaget sekaligus bahagia. 


"Kakek benar-benar merestui hubungan kami? tanya Devano, mencoba memastikan. 


Kakek pun mengangguk pasti. 


Mendapati anggukan dari Kakek Surya, spontan Devano memeluk Kakek Surya dengan tangan yang sudah dipenuhi lumpur. Lelaki itu sangat-sangat bahagia. 

__ADS_1


"Heh, apa yang kau lakukan?" Kakek Surya mendorong tubuh yang sedang memeluknya itu. 


"Maaf, terlalu excited," gumam Devano, tersenyum malu karena kekonyolannya itu. "Terima kasih, Kek," lanjutnya, dari hati yang paling dalam. 


"Jangan senang dulu! Aku merestui hubungan kalian, tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh menyentuh Keysa," tandas Kakek Surya. 


Persyaratan yang cukup berat bagi Devano, tetapi demi sebuah restu ia pun menyanggupinya. 


Dan, tanpa sepengetahuan mereka, Keysa juga mendengarkan pembicaraan dua lelaki itu. Keysa menguping di balik pohon besar semenjak mereka turun ke sawah. Setelah mendengar restu dari sang kakek dan Devano menyanggupi persyaratan yang diberikan kakeknya, Keysa pun kembali ke dapur untuk memasak. 


*** 


Devano dan Kakek Surya kembali dari sawah dengan tubuh yang sudah dipenuhi lumpur. 


"Ada yang bisa saya bantu?" ujar Devano dengan seutas senyum saat menghampiri Keysa. 


Keysa yang sedang memasukan kayu bakar ke dalam tungku pun, mendongak ke arah suara. "Kamu belum mandi?" tanya Keysa, begitu melihat Devano masih memakai baju kotor. 


"Nanti setelah membantumu memasak," gumam Devano, enteng. "Kamu mau masak apa?" tanya Devano lagi, ketika melihat berbagai jenis sayuran yang baru dipetik Keysa di wadah. 


Keysa memberitahukan menu makan mereka yang dijawab anggukan Devano, kemudian mereka pun mengeksekusinya bersama, meskipun sebenarnya Devano tidak banyak membantu. 

__ADS_1


Keysa menatap lelaki yang sedang menjaga tungku dan memasukan kayu bakar ke dalamnya. Keysa sangat takut Devano akan tahu kejadian yang sebenarnya, apalagi jika tahu dari orang lain. 


"Mungkinkah aku berterus terang saja? Kasian dia harus susah-susah seperti ini," gumam Keysa dalam hati. Ia ingin takut mengungkap kebenaran kalau ini bukan rumah Keysa, tetapi ia juga takut kalau tidak bisa menyamar lagi. 


*** 


Hari mulai menggelap. Makanan sudah selesai dimasak. Keysa dan Devano pun tampak sudah segar dengan pakaian bersih yang sudah menempel di tubuh. 


Ketiganya mulai makan bersama, yang diakhiri dengan minum-minum. Bahkan, Kakek Surya dan Devano sampai mabuk. 


"Keysa adalah cucuku satu-satunya. Mau kah kau menjaganya untukku!" ujar Kakek Surya di tengah mereka yang sedang menghabiskan minuman yang mengandung alkohol itu. 


"Aku pasti akan menjaga Keysa, Kek. Bukan hanya Keysa, aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik," ucap Devano, dengan penuh keyakinan. "Aku sangat mencintai Keysa. Aku tulus mencintainya," lanjutnya.


"Aku pasti akan menjamin kehidupan Keysa dan Kakek, jadi Kakek tidak perlu khawatir," ucap Devano lagi, setelah mendengar kekhawatiran sang kakek kepada Keysa. Sambil menghabiskan sisa minuman di gelas, Devano juga tanpa sengaja membocorkan perusahaan yang sedang dipegangnya. 


Kakek melihat sekilas ke arah Devano. Ia tidak menyangka kalau Devano bisa sehebat itu, memegang sebuah perusahaan di usianya yang masih muda. "Sepertinya dia memang pantas untuk Keysa. Dia pekerja keras juga tidak memandang sesuatu dari materi dan penampilan." Kakek bergumam dalam hati. "Aku yakin masa depannya akan cerah. Begitupun dengan Keysa," lanjutnya, masih dalam hati sambil manggut-manggut, lalu meneggak minuman langsung dari botolnya. 


Keysa yang melihat Kakek telah minum banyak, mulai khawatir. Ia takut lelaki tua tanpa sadar membocorkannya semuanya. "Sudah Kek, jangan minum terus!" Keysa merebut botol yang masih berisi satu perempat, melarang Kakek Surya minum lagi. "Nanti bisa-bisa keceplosan," gumam Keysa dengan sangat pelan dan tanpa membuka mulut. 


"Tapi, dia masih perlu diuji," gumam Kakek Surya. 

__ADS_1


Lelaki itu merebut lagi botol dari tangan Keysa, sambil minum dan menikmati malam dari depan rumah Kakek Surya terus mengajukan banyak pertanyaan. 


"Key, antar Kakek ke kamar." Setelah puas dan merasa tak kuat lagi untuk minum. Kakek Surya  meminta Keysa untuk memapahnya ke kamar. 


__ADS_2