
Cheryl sengaja ingin membuat Keysa marah dengan memberikan makanan kesukaan Devano kepada lelaki itu dan memindahkan makanan yang tidak disukai Devano ke piringnya. Ia pun tersenyum miring saat melihat wajah Keysa memerah dan akhirnya berdiri meninggalkan meja makan.
"Kenapa? Kamu bilang aku kenapa?" Keysa tidak percaya dengan kata yang keluar dari mulut Devano. "Oh, ya, ampun! Memuakkan sekali, dasar tidak peka," decih Keysa sangat pelan, tetapi cukup terdengar jelas di telinga Devano.
"Aku sudah kenyang! Silakan, selesaikan makan romantis kalian berdua. Selamat menikmati dan selamat bersenang-senang," tandas Keysa dengan senyum yang dipaksakan ditujukan kepada Cheryl dan Devano, lalu membuang muka dengan malas.
"Key, hal yang barusan udah biasa. Aku tidak ada hubungan lebih dengan Cheryl." Devano mencoba menjelaskan kepada Keysa, dan berhasil membuat Keysa semakin terperangah.
"Sudah biasa, ya?" Keysa menyipitkan sebelah mata, lalu melepaskan tangan yang masih menggenggamnya dengan kasar. "Itu sudah biasa, kan?" tanya Keysa lagi. "Jadi ... bye!" lanjutnya, ketus.
Keysa tidak bisa lagi menutupi kemarahannya dan lebih memilih untuk kembali ke kelas.
"Arggh ... kenapa jadi seperti ini, sih?" rutuk Devano.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuat dia marah," ucap Cheryl sambil menunduk, seakan-akan merasa bersalah.
Devano menatap sekilas gadis yang terlihat menyesal itu, lalu mendengkus. Selera makannya sudah hilang. Ia pun pergi menyusul Keysa.
Saat mata kuliah berlangsung, Cheryl tidak bisa berkonsentrasi dengan mata kuliah yang sedang di paparkan dosen. Perasaan Cheryl merasa tidak tenang, kemudian memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, menjenguk Exel.
"Sedang apa, Kak? Sepertinya kamu sudah membaik, buktinya kamu sudah bisa senyam-senyum sambil maenin ponsel," tandas Cheryl saat masuk ke ruangan Exel dan mendapati kakaknya sedang asyik bermain ponsel.
"Menghilangkan kejenuhan," jawab Exel, tanpa menoleh ke orang yang mengajaknya bicara dan sibuk dengan ponsel.
Exel sedang bermain game dan sadar jika Devano sedang menawarkan hadiah dalam jumlah besar untuk menghabisi istri game-nya. Hal itulah yang membuat Exel senyum-senyum sendiri.
"Cher, sini! Lihatlah!" Exel memanggil Cheryl dan meminta gadis itu untuk melihat permainan yang sedang dimainkannya. "Bagaimana kalau kamu menikah dengan Devano di dalam game, agar kamu semakin mudah mendapatkan Dev." Exel menasehati Cheryl, mengingat Devano sudah tidak menyukai istri game yang sekarang.
__ADS_1
Di dalam kelas, Devano juga sedang memainkan game. Ia pun langsung menutup game tersebut setelah selesai membuat pengumuman untuk menawarkan hadiah.
Keysa masih marah, bahkan ia sudah berganti tempat duduk—Keysa duduk di bangku Disti.
Devano membuang napas kasar saat melirik Keysa yang masih bersikap ketus dan tidak peduli. Devano lantas beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Keysa untuk membujuknya.
"Key," panggil Devano.
Keysa masih tampak acuh dan pura-pura tidak mendengarkannya.
"Key," panggilnya lagi sambil memegang tangan Keysa dan segera ditepis si pemilik tangan. "Keysa Indira Fidelya, Sayang, sudah jangan ngambek lagi dong!" Devano mencoba membujuk Keysa untuk tidak marah lagi.
"Ok. Sekarang mari kita tukar posisi!" ucap Keysa kemudian, saat telinganya sudah pengak oleh bujukan dan rayuan Devano yang membuatnya mual. "Seandainya tadi yang melakukan itu adalah Felix, bagaimana perasaanmu? Felix memisahkan semua makanan yang tidak aku suka, lalu memberikan makanan kesukaanku. Apa yang kamu rasakan?" tanya Keysa. Ia melihat jelas wajah Devano sudah memerah mendengarkan dirinya bicara.
"Enak saja. Aku tidak akan pernah rela," tandas Devano.
Devano mulai paham kalau masalahnya saat ini tidak sesimpel yang ia pikirkan. Devano meraih tangan Keysa, menggenggam jemari gadis itu. "Aku minta maaf. Maafkan aku! Aku tahu, aku salah." Devano meminta maaf dengan tulus dan mencium tangan Keysa.
Melihat ketulusan Devano, Keysa pun langsung memaafkannya. "Lain kali jangan hanya ingin dimengerti, mengerti juga perasaan orang lain," tandas Keysa.
"Iya, Sayang, iya," jawab Devano dengan seutas senyum, lalu mencium pipi Keysa dan berhasil membuat pipi Keysa merona.
***
Sepulang kuliah, Devano dan Keysa berencana menjenguk Disti ke rumah sakit. Namun, tiba-tiba Devano mendapat panggilan dari Damar dan memintanya untuk segera pulang.
"Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa ikut," ucap Devano, selepas menerima telepon dari Damar. "Daddy memintaku untuk segera pulang." Devano menjelaskan.
__ADS_1
"No problem. Temui dulu ayahmu, siapa tahu ada hal penting," ujar Keysa.
"Lalu bagaimana denganmu?" Devano mengkhawatirkan Keysa jika harus ditinggalkan.
"Aku bukan anak kecil yang bakal nyasar," tandas Keysa sambil tergelak melihat kecemasan di wajah Devano. "Aku bisa berangkat sendiri dengan naik taksi," lanjutnya, serius.
Akhirnya, Keysa berangkat sendiri dengan menaiki taksi, sedangkan Devano pulang ke kediaman orang tuanya setelah memastikan Keysa naik mobil yang benar—kejadian beberapa waktu lalu membuat lelaki itu menjadi lebih waspada.
Keysa merasa bosan duduk di dalam mobil sendirian. Ia pun membuka game. "Apa-apaan ini?" gumam Keysa saat melihat dirinya dibunuh. Dan, Keysa baru tahu dirinya dibunuh oleh orang suruhan suaminya karena penawaran yang dilakukan si suami sangat menggiurkan.
"Ah, sialan! Bisa-bisanya dia buat pengumuman seperti itu? Dia belum tahu aku. Aku itu bisa hidup sampe dua puluh kali," sungut Keysa. Ia kesal campur marah, mengingat yang telah dilakukan si suami.
Sementara itu, Disti yang melihat kedatangan Keysa langsung menyambut sahabatnya itu dengan senyuman. Ia sangat bahagia dengan kedatangan Keysa. Disti yang tidak memiliki keluarga di kota B merasa seperti mempunyai keluarga dengan hadirnya Keysa yang selalu menemani.
"Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi," ucap Keysa, ketika sedang mengupas apel untuk Disti.
Disti hanya mengangguk dan mendengarkan nasehat Keysa.
Keysa menjaga Disti semalaman. Gadis itu tidak berencana untuk pulang, meskipun sudah ada pembantu Ezra di sana.
Sementara itu, Exel yang tidak melihat kedatangan Devano langsung bersorak gembira. Exel mengira kalau dirinya bisa bersama Keysa semalaman dan ia akan memanfaatkan waktu itu untuk semakin mendekati Keysa. Namun, ia tidak menyangka kalau Devano telah maju selangkah—Devano memindahkan Disti ke ruang rawat lain, membuat Exel semakin membenci lelaki itu.
Sementara, di kamar baru, Disti sangat senang dengan ruangan barunya. Devano yang tidak mau Keysa diganggu Exel memindahkan Disti ke ruangan VIP khusus, yang hanya digunakan oleh keluarga besarnya.
"Ini rumah sakit, apa hotel bintang lima, Key?" Disti sangat takjub dengan ruangan yang mirip dengan ruangan hotel. Ini kali pertama Disti tinggal di tempat semewah itu.
"Memang sudah seharusnya Dev melakukan ini. Kamu sakit juga karena dia, kan," ujar Keysa, lalu kembali fokus pada game.
__ADS_1