Mystery

Mystery
Kekesalan Kimberly


__ADS_3

Raymond menjentik jarinya sebagai kode untuk Teddy dan Licon. mereka yang sudah mengerti langsung menampakan dirinya.


"Ratu," sapa Teddy dan Licon dengan hormat.


"Ka-kalian?" tanya Kimberly yang merasa heran.


"Namaku Teddy!"


"Namaku Licon!"


"Aku sudah ingat! kau adalah sotong tidak berguna itu, kenapa kau bisa ada sini?" bentak Kimberly yang ingin berdiri akan tetapi pinggangnya di peluk erat oleh suaminya.


"Maaf Ratu! di saat itu sebenarnya saya ingin melindungi Anda, tapi atas kelalaianku sehingga menakuti Anda," ucap Teddy dengan menunduk.


"Raymond, kenapa anggotamu bisa begitu tidak berguna? dia melindungiku? setiap dia muncul hanya menakuti orang," kata Kimberly dengan kesal.


"Kimberly, ini memang salahnya, aku sudah menghukumnya juga," ujar Raymond.


"Selama ini apa kau tahu? dia selalu saja muncul menakutiku, tapi kenapa kau diam dan tidak memberitahuku jika dia adalah anggotamu?" tanya Kimberly dengan kesal.


"Karena aku tidak bisa mengatakan jika aku adalah iblis api, dan karena kamu sudah tahu semuanya. maka aku ingin kamu mengenal mereka," jawab Raymond dengan senyum


"Lain kali jangan menyuruhnya muncul di hadapanku, jika tidak maka bukan teh panas lagi, tapi aku akan mengunakan tanganku menarik sehingga putus," kecam Kimbery yang tidak sadar dengan ucapannya.


Teddy yang mendengar kecaman ratunya langsung menutup senjatanya dengan ke dua tangan.


"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Raymond dengan menahan emosi.


"Sadar! kenapa?"


"Kau ingin mengunakan tanganmu menarik alatnya?"


"Kalau dia masih berani menampakkan sotong bengkoknya, maka aku tidak akan sungkan memutuskan sehingga tidak tersisa, sama dengan raja ular itu," jawab Kimberly.


"Ada apa dengan raja ular?"


"Aku juga memotongnya di malam itu."


"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Raymond dengan menyentuh wajah istrinya.


"Dia mengodaku! dan aku memotongnya, dan setelah itu sotongnya meloncat-loncat di lantai," jelas Kimberly yang merasa geli.


Raymond yang mendengar penjelasan istrinya lalu ia memeriksa handphone miliknya, dan kemudian ia pun memutar rekaman yang terjadi sebelumnya.

__ADS_1


Saat ia melihat semua kejadian di dalam rumah raut wajahnya menjadi begitu menakutkan.


"Ada apa?" tanya Kimberly yang merasa heran


"Apa yang kalian lakukan di dapur?" tanya Raymond dengan menahan emosi.


"Seperti yang di rekaman itu, dia mengodaku dan aku berpura-pura menurut padanya, agar aku bisa melukainya," jelas Kimberly.


"Dengan cara kau memeluknya? dan kau bahkan menyuapinya, apa ini termasuk wajar?" tanya Raymond dengan tatapan dingin.


"Kalau aku tidak melakukan ini, bagaimana aku bisa melindungi diriku?" tanya Kimberly dengan kesal.


"Walaupun begini kau tidak boleh memeluk pria lain selain suamimu sendiri," bentak Raymond yang mengenggam tangan Kimberly dengan erat.


"Demon Fire, lepaskan tanganmu! kau sudah menyakitiku!" bentak Kimberly dengan kasar.


"Kimberly, kau harus ingat satu hal. jangan pernah bermesraan dengan pria lain walau hanya sekadar berpura-pura," kecam Raymond dengan tatapan aura membunuh.


"Kau tidak masuk akal sama sekali! jika di saat itu aku tidak melakukannya, maka aku pasti sudah jatuh di tangannya," ketus Kimberly.


"Aku tidak ingin mendengar alasanmu!" jawab Raymond dengan tegas.


"Iya, aku mengaku salah karena aku mengodanya, seharusnya aku membiarkan saja dia memperkosa ku dan menelanku hidup-hidup, dengan begini maka kau tidak akan marah seperti sekarang," bentak Kimberly dengan merasa kesal, dan kemudian bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


Teddy dan Licon yang dari tadinya mendengar perdebatan raja dan ratu hanya bisa diam tidak berani bergerak.


"Teddy, pergi meminta gadis nakal itu membuatkan kopi untukku!" perintah Raymond.


"Iya, Raja," jawab Teddy dengan menurut.


Sementara Kimberly menuju ke dapur dan membuka kulkas dengan mengeluarkan semua ikan dan sayur yang ada di dalam sana. lalu ia pun memotong ikan sambil merasa kesal dengan sikap suaminya itu.


PRAK...PRAK...PRAK...


Bunyi potongan yang di lakukan oleh Kimberly sehingga ikan itu terbelah beberapa potongan.


"Ratu, raja dia mau meminta...." kata Teddy yang terpotong.


"Meminta apa?" tanya Kimberly dengan kesal sambil memotong ikan.


PRAK...PRAK...PRAK...


"Raja dia ingin...." jawab Teddy yang terpotong.

__ADS_1


"Aku memberi peringatan padamu, jangan pernah coba-coba menampakan sotong bengkok mu lagi, kalau tidak, akan ku potong dan ku cincang dan ku rebus untuk menjadikan makan malam mu!" bentak Kimberly dengan kesal sambil memotong ikan itu sehingga berserak ke mana-mana.


PRAK...PRAK...PRAK...


"I-iya," jawab Teddy yang melihat ke pusakanya dan lalu menutupi dengan ke dua tangannya.


"Ratu, raja dia meminta kopi,"


"Rajamu itu sudah tua masih saja ingin minum kopi, apa dia tidak takut darah tinggi dan kena stroke?" bentak Kimberly dengan nada kesal.


"Raja adalah iblis, jadi tidak akan darah tinggi ataupun stroke, Ratu."


"Kalian semua adalah iblis aneh! dan kenapa aku bisa menjadi istrinya" ketus Kimberly yang sedang menyeduh kopi sambil mencampurkan sepuluh sendok garam ke dalam kopi itu.


"Ambil ini! suruh raja kamu habiskan!"


"Iya," jawab Teddy dengan menurut.


"Dan jangan memanggilku ratu lagi! jika di dengar orang lain maka mereka akan mentertawakan ku!"


"Iya."


"Kenapa aku bisa menjadi istri pria tua itu? tidak ada pengertian sama sekali," ketus Kimberly yang memotong ikan itu tanpa berhenti.


PRAK...PRAK...PRAK...


"Kau juga sama menjengkelkan!" ketus Kimberly yang menatap ke ikan itu.


"Kenapa kau yang sudah tewas masih tidak memejamkan mata...ha?" bentak Kimberly yang melihat kesal terhadap ikan itu.


"Biar aku congkel mata mu untuk makan si kakek api itu," ngoceh Kimberly tanpa berhenti.


"Kalau tahu begitu maunya sotong ular itu aku rebus saja untuk makan si Teddy, selama ini dia sudah menakutiku, dan ternyata dia adalah anak buah raja api si kepala batu!" ocehan Kimberly yang sibuk dengan tangannya.


"Nyonya," sapa Wilson yang baru datang sambil memegang dokumen.


"Wilson, apa kamu ingin mencari si batu itu?" tanya Kimberly dengan nada kesal.


"Batu?" tanya Wilson dengan merasa heran.


"Iya, si batu itu. dia ada di atas," jawab Kimberly dengan kesal


"Iya Nyonya," jawab Wilson yang melangkah menuju ke anak tangga

__ADS_1


"Sayang sekali! di malam itu begitu banyak ular akan tetapi aku tidak menyimpan satu ekor pun. jika tidak maka aku bisa memasak untuk Wilson."


"Andaikan masih ada siluman ular pasti akan ku simpan, dagingnya untuk Wilson sementara otak ular aku berikan ke si kapala batu itu, dan sotong siluman aku berikan pada Teddy," oceh Kimberly sambil mengcongkel mata ikan itu.


__ADS_2