
"Apa lagi yang kau ingin lakukan di sana?" tanya paman Sean yang melihat ke arah Kimberly yang sedang duduk di pohon sambil memeluk tiang lampu.
"Aku mau menghitung bintang," jawab Kimberly yang sambil memandang langit.
"Hitung kepalamu, dari dulu kau juga menghitungnya tapi tidak pernah betul sekalipun," bentak Holdie.
"Apa tidak berencana untuk turun?" tanya paman Sean.
"Tidak!"jawab Kimberly dengan tegas.
"Kimberly, katakan apa yang harus ku lakukan agar kau mau ikut aku pulang!" ujar Raymond dengan tersenyum.
"Aku mau menghajar wanita siluman itu," jawab Kimberly dengan kesal.
"Hahahahaha...apa perlu aku mengundangnya ke sini?" tanya Raymond sambil tertawa.
"Tidak usah! jika aku menghajarnya kau pasti marah padaku dan menghajarku juga, aku tidak mau mati di tanganmu," ketus Kimberly.
"Lalu, apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya paman Sean yang merasa kesal.
"Aku mau turun asal paman janji satu hal padaku!" ujar Kimberly yang sedang memeluk tiang lampu.
"Kau ingin paman janji apa?" tanya paman Sean.
"Tangkap harimau jantan untukku!" jawab Kimberly yang sedang merajuk.
"Ha-harimau jantan?" tanya paman Sean dengan heran.
"Kenapa kau malah inginkan harimau jantan, memang untuk apa?" tanya Holdie dengan penasaran.
"Aku mau potong sotong harimau jantan untuk masak dan berikan pada wanita gatal itu!" jawab Kimberly yang sedang menangis.
"Hahahahaha...istriku, apa kau serius dengan semua ini?" tanya Raymond dengan tertawa lucu.
"Iya aku serius! aku tidak sedang bercanda!" jawab Kimberly dengan tegas.
"Apa kau masih waras...ha? mana ada orang yang mengunakan harimau untuk membalas dendam, apa lagi harus memotong alat kela.minnya," ketus paman Sean yang merasa kesal.
"Untuk menghajar wanita pengoda harus mengunakan itu, dan untuk pria yang suka berselingkuh harus makan telurnya," kata Kimberly.
"Te-telur apanya?" tanya paman dengan binggung.
"Iya telur yang biasa di miliki setiap pria, sama seperti paman," jawab Kimberly yang sedang menangis sambil memeluk tiang lampu.
"Kau semakin tidak waras saja! cepat turun dari sana!" bentak paman Sean dengan kesal.
"Di sini lebih nyaman!" jawab Kimberly.
__ADS_1
"Iya...kalau begitu kau selamanya duduk dan tidur di sana saja, jangan pernah turun lagi!" ketus paman Sean.
"Paman jahat! kalian semua jahat, semua pria di dunia ini jahat," ketus Kimberly yang sambil menangis.
"Hei...hei...kenapa kau malah melibatkanku?" tanya paman Sean dengan kesal.
"Karena paman adalah pria makanya jahat, Wilson juga jahat, Raymond Martinez juga jahat, Alex Martinez juga jahat, Jacky Martinez juga jahat, Simon Martinez juga jahat, Teddy juga jahat, Markus silvellton juga jahat, raja ular juga jahat, siluman ular juga jahat, kalian semua jahat," ocehan Kimberly tanpa berhenti.
"Kenapa namaku dan nama keluarga tuan juga di sebut, bahkan ular juga di sebut?" batin Wilson.
"Hei...hei...apa perlu kau menyalahkan semua orang hanya karena salah paham? bahkan ular yang tidak tahu apa-apa juga kau salahkan. Kimberly, jaga sikapmu jangan berulah lagi, cepat turun!" kata paman Sean dengan tegas.
"Aku mau tinggal sini aku tidak mau pulang, aku tidak mau berbaik lagi dengan dia!" ketus Kimberly.
"Kimberly, apa kamu ingin sesuatu? katakan saja apa mau mu? aku akan memberikan semua padamu," ucap Raymond dengan berusaha membujuk istrinya.
"Aku mau rumah, aku mau mobil, aku mau semua kartu kreditmu," jawab Kimberly sambil menangis memeluk tiang.
"Hahahahahah...apa hanya ini mau mu?" tanya Raymond dengan tertawa.
"Iya, agar wanita itu tidak mendapatkan apapun dari mu," jawab Kimberly dengan tegas.
"Semua milikku adalah milikmu, Kimberly. dia tidak akan masuk ke dalam keluarga kita," jelas Raymond.
"Tapi dia bisa memberimu keuntungan mencapai dua miliyaran dollar, kau pasti tidak bisa lepas dari dia, walau di sini kau mengatakan tidak menjalin hubungan dengan dia, kalian tetap bisa berhubungan di luar di saat aku tidak ada. aku tidak mau lagi hadir di pesta pernikahan pria yang melukaiku," kata Kimberly yang masih ingat luka lamanya.
"Tidak akan terjadi di antara kita, Kimberly. turunlah sekarang. kita pulang ke rumah ya. ada yang ingin ku berikan padamu!" bujuk Raymond.
"Temanmu ini benar-benar spesies langka," kata paman Sean sambil mengeleng kepala.
"Kimberly, untuk apa monyet itu? apa kau ingin memotong alat kela.min juga?" tanya Holdie.
"Aku mau rebus dan berikan pada wanita itu" jawab Kimberly.
"Kau ini gila dan semakin tidak waras! " ketus Holdie.
"Hei...apa kau kenal dengan orang tua nyonya?" tanya Wilson yang berbisik di telinga Holdie.
"Tidak ada yang kenal, bahkan Kimberly sendiri juga sudah tidak ingat. ada apa?" tanya Holdie.
"Aku hanya penasaran nyonya pengeluaran dari pabrik apa, kenapa sifatnya beda dengan wanita lain!" jawab Wilson.
"Jangan berkata sembarangan, kau akan bertemu dengan gadis seperti dia!" kata Holdie.
"Aku akan pendek umur jika istriku bertingkah seperti itu," ujar Wilson.
"Kimberly, mari kita pulang! aku ada hadiah untukmu!" bujuk Raymond.
__ADS_1
"Aku akan pulang bersamamu, asal kau belikan laba-laba untukku!" jawab Kimberly.
"Apa hanya itu yang kau mau?" tanya Raymond dengan senyum.
"Iya!" jawab Kimberly dengan tegas.
"Temanmu ini memang aneh, bertengkar dengan suami sendiri tapi melibatkan semua hewan," ucap paman Sean.
"Papa bukannya tidak tahu dengan sifatnya, biarkan saja!" ujar Holdie.
"Wilson, kumpulkan seratus ekor laba-laba!" perintah Raymond.
"Ha...la-laba-laba? Tuan apakah serius?" tanya Wilson yang merasa geli dengan hewan yang memiliki delapan kaki itu.
"Iya, jangan sampai kurang seekor pun!" jawab Raymond dengan tegas.
"Ba-baik!" jawab Wilson dengan gemetaran.
"Mari kita pulang!" ajak Raymond dengan senyum.
"Aku masih belum selesai menghitung bintang!" ujar Kimberly yang memandang ke langit.
"Wilson!"
"Iya Tuan."
"Suruh anggota pindahkan pohon dan tiang lampu ini ke depan rumah kita!" perintah Raymond dengan senyum.
"A-apa, di pindahkan?" tanya Wilson dengan kebingungan.
"Iya, segera lakukan!" titah Raymond dengan senyum.
"Kimberly, walau kau sangat menyukai pohon dan tiang listrik itu kau juga tidak perlu memeluknya sehingga tidak mau melepaskannya!" kata paman Sean.
"Lebih baik aku memeluk tiang lampu ini dari pada aku memeluk paman," jawab Kimberly yang tidak mau kalah.
"Aku juga tidak mau di peluk mu, pamanmu ini hanya mau di peluk satu wanita, yiatu ibunya Holdie," ketus paman Sean.
"Tentu saja hanya bibi, karena wanita muda tidak akan mau memeluk pria yang sudah tua jatuh temponya!" jawab Kimberly.
"Apa maksudmu jatuh tempo?" tanya paman Sean.
"Kadaluwarsa!" jawab Kimberly yang asal-asalan.
"Kau...ini...!" ucap paman Sean yang merasa kesal sambil melepaskan sandalnya dan ingin melempar ke arah Kimberly.
"Pa, sudah jangan emosi!" ujar Holdie yang menghentikan niat ayahnya.
__ADS_1
"Dasar spesies langka!" ketus paman Sean.
"Kimberly, aku ada cara untuk membawamu pulang ke rumah, walau kau tidak mau!" ujar Raymond dengan senyum.