Mystery

Mystery
Kegalauan Kimberly


__ADS_3

Di siang itu mereka berempat berjalan ke arah masing-masing..


Demon yang melangkah masuk ke dalam kantornya dengan raut wajah kesal, ia merasa sangat cemburu dengan kemunculan Vincent sehingga tidak bisa menahan emosinya.


"Dasar gadis nakal, berani sekali kau bertengkar dengan ku demi pria lain!" ketus Demon yang berdiri dekat jendela.


Tidak lama kemudian Rico melangkah masuk ke ruangan atasannya itu


"Bos," sapa Rico dengan sopan.


"Ada apa?" tanya Demon yang menoleh ke arah Rico.


"Tuan, apakah Anda bertengkar dengan nyonya?"


"Iya, kenapa?"


"Apakah karena nona itu?"


"Nona yang mana maksudmu?"


"Yang sedang berbicara dengan Anda."


"Jenitca?"


"Nyonya sepertinya ingin mengantar makan siang untuk Anda tadi, dan saat nyonya melihat nona itu ia pun melangkah pergi dengan wajahnya yang sedih," jelas Rico.


"Apa mungkin karena dia salah paham denganku?"


"Mungkin saja nyonya marah karena hal itu, oleh sebab itu dia pergi," kata Rico.


"Apakah gadis nakal itu cemburu?" gumam Demon.


"Kimberly, kau sangat luar biasa melihat suami mu sedang berbicara dengan wanita lain kau memilih pergi dan menghampiri pria lain," batin Demon.


Tempat tinggal paman Sean.


Prak...prak...prak...prak...prak...


Potongan yang di lakukan oleh Kimberly.


Saat ia melakukan potongan ikan itu paman Sean dan Holdie termenung melihat aksi gadis itu. ia merasa sakit hati karena kepala ikan kesukaannya sudah hancur tidak berbentuk.


Prak...prak...prak...prak...prak...


"Kimberly, sebenarnya...kau sedang memotong apa?"tanya paman Sean.


"Paman, ikan yang kamu beli sangat keras kepalanya dan tidak mau putus walau aku sudah mencobanya berkali-kali," jawab Kimberly dengan sedang melakukan hentakan pisau daging ke arah kepala ikan itu.


Prak...prak...prak...prak...prak...


"Kimberly, apa kau masih waras?kepala ikannya sudah putus dari tadi dan sudah hancur tidak berbentuk lagi di buatmu," jawab paman Sean.


"Bukan hanya kepala ikan saja yang hancur, tapi telenan kayunya juga sudah terbelah dua," ujar Holdie.


"Kimberly, apa kau menaruh dendam pada kepala ikan ini sehingga kau menghancurkan dia?" tanya paman Sean.

__ADS_1


"Ini bukan salahku, Paman," jawab Kimberly yang tidak mau mengaku salah.


"Kalau bukan salahmu, lalu salah siapa?" tanya paman Sean.


"Salah pisau paman terlalu tajam," jawab Kimberly yang tidak mau kalah.


"Kau ini sangat tidak masuk akal sekali!" bentak paman Sean dengan kesal.


"Apa kau sedang bertengkar lagi dengan suami mu itu?" tanya Holdie.


"Tidak, siapa yang mau bertengkar dengan dia," jawab Kimberly sambil sibuk tangannya.


"Lalu, kenapa suasana hati mu sangat buruk hari ini?" tanya paman Sean.


"Tidak ada! lagi pula di dunia ini masih banyak pria lebih baik dari dia," jawab Kimberly dengan mengupas kulit kentang dan wortel.


"Kalian pasti bertengkar lagi, kalau tidak mana mungkin kau pulang ke sini dan melampiaskan kemarahanmu pada ikanku sehingga talenan ku ikut menjadi korban," kata paman Sean.


"Dia bukan pria satu-satunya di dunia ini, dan aku bisa mencari pria yang lebih muda darinya," ujar Kimberly yang sambil sibuk dengan tangannya.


"Bertengkar adalah hal yang biasa, bukan masalah besar dan jangan di perbesarkan!" ucap paman Sean.


"Kimberly, nasibmu sangat baik karena mendapatkan suami yang begitu mencintaimu, selain dewasa dia juga sangat kaya dan tampan. tipe pria seperti ini sudah tidak bisa di cari lagi. kau harus merasa puas," ujar Holdie.


"Lagi pula tipe seperti dia ada di mana-mana, kalau kami tidak cocok lagi maka aku akan mencari yang lain saja," jawab Kimberly yang sedang membuang kentang dan wortel ke tong sampah sementara kulitnya di masukkan ke baskom dan di cuci.


Paman Sean dan Holdie melihat apa yang di lakukan oleh Kimberly membuat mereka menjadi kebingungan.


"Kimberly, apa kau sadar apa yang lakukan sekarang?" tanya paman Sean.


"Kimberly, coba kau lihat lagi apa yang kau cuci itu!" ujar Holdie.


"Aku sedang mencuci sayur, kalian keluar jangan mengangguku," jawab Kimberly yang membuka kran air sambil membilas kulit kentang dan wortel.


"Kimberly, kentang dan wortel sudah kau buang ke dalam tong sampah," kata paman Sean yang berjalan menghampiri Kimberly.


"Paman, kalian keluar saja dulu! biarkan aku yang memasak kali ini! cepat keluar dulu!" pinta Kimberly sambil mendorong paman Sean dan Holdie keluar dari dapur.


"Tapi kentangnya kau..." ucap paman Sean yang di potong oleh Kimberly.


"Iya aku tahu, aku akan mengiris tipis-tipis dan tumis untukmu. aku tahu itu makanan kesukaan paman," jawab Kimberly yang kemudian menutup pintu dapur.


"Hei...perhatikan dulu, sayurnya sudah kau buang ke tong sampah!" teriak Holdie yang berada di luar pintu


"Apa kau masih waras ya? masa menyuruhku membuang sayurnya ke tong sampah," ketus Kimberly yang sudah salah dengar.


"Apa, aku...," ucap Holdie


"Kimberly, apa kau tuli ya, maksudku adalah kentang dan wortel sudah kau buang ke tong sampah, lalu kita mau makan apa?" teriak Holdie yang dari luar


"Kau sangat keterlaluan," bentak Kimberly dengan nada tinggi


"Ke-kenapa aku keterlaluan?"tanya Holdie dengan heran.


"Masa menyuruhku makan makanan dari tong sampah," bentak Kimberly.

__ADS_1


"Hei...buka pintu dulu! kau sudah salah dengar, periksa dulu apa yang ada di baskom mu itu!" teriak Holdie dengan nada tinggi.


"Kau saja yang pergi periksa!" jawab Kimberly dengan nada kesal


"Periksa apa?" tanya Holdie.


"Kau harus periksa ke dokter, aku baik- baik saja masa kau menyuruhku periksa ke dokter," jawab Kimberly dengan ketus dan sambil mencuci kulit kentang dan wortel.


"Pa, gadis ini apa sudah gila ya? kenapa lain yang ku katakan lain pula yang dia jawab," kata Holdie dengan kesal.


"Holdie, pikirannya sudah melayang ke Raymond sehingga dirinya tidak sadar dengan apa yang dia lakukan," kata paman Sean.


"Pa, jadi kita makan apa malam ini?" tanya Holdie.


"Mudah-mudahan saja ikannya masih bisa di makan," jawab paman Sean.


Kimberly yang merasa kesal mengingat pertengkaran dengan suaminya sehingga tidak sadar dengan apa yang dia masak. kepala ikannya yang sudah hancur di goreng, sementara tubuh ikannya di buang ke tong sampah, bukan hanya itu saja, kulit kentang dan wortel juga di tumis.


"Demon kurang ajar, aku tidak akan pulang malam ini, lebih nyaman di sini lagi!" ketus Kimberly yang sedang kesal dan menuangkan setengah botol minyak goreng ke kuali dan kemudian ia pun memasukan kepala ikan yang sudah hancur itu ke kuali.


"Jangan berharap aku akan memohon padamu untuk tinggal bersama mu," ocehan Kimberly sambil sibuk dengan tangannya.


Setelah satu jam kemudian.


Holdie dan paman Sean sedang menunggu lauk yang dimasak oleh Kimberly.


"Apa kau yakin dia bisa masak malam ini?" tanya Holdie


"Seharusnya bisa, aroma ikan gorengnya sangat wangi bahkan tercium oleh kita walau pintu dapur sudah di tutup." jawab paman Sean.


"Hanya saja sayurnya aku tidak berani membayangkan apa yang terjadi pada sayur itu nanti,"jawab paman Sean.


Tidak lama kemudian Kimberly membawa satu mangkok dan satu piring lauk meletakan ke meja makan.


Paman Sean dan Holdie yang melihat dua lauk itu langsung terdiam dan binggung.


"Apa yang kamu masak? ini ikan goreng atau ikan sop?" tanya paman Sean yang melihat kepala ikan yang hancur tadi di banjiri oleh semangkok minyak.


"Dan ini...kulit kentang dan kulit wortel yang kau tumis? bagaimana cara makannya?" tanya Holdie dengan heran.


"Hah....itu.." jawab Kimberly dengan binggung.


"Kimberly, apa kau bisa jelaskan dari mana kau belajar menu ini?" tanya paman Sean dengan menahan emosi.


"Paman, aku lupa kepalanya di goreng, aku salah ingat aku mengira di masak sop. oleh sebab itu aku angkat kepala ikannya dan sekalian minyaknya," jelas Kimberly.


"Dan bagaimana pula dengan penjelasan kulit kentang dan sayur ini?" tanya Holdie.


"Aku salah melihat, aku mengira kentang dan wortel yang sudah ku iris, oleh karena itu aku tumis untuk paman," jawab Kimberly.


"Kau ingin menyuruhku makan kepala ikan yang sudah hancur ini dan minum minyaknya? dan juga menyuruhku makan sayur kulit kentangmu ini?" tanya paman Sean dengan menahan emosi.


"Paman, sekali-kali makan saja tidak apa-apa!" jawab Kimberly dengan mengaruk kepalanya.


"Kimberly, kau sangat pintar sekali. seharusnya paman merasa bangga padamu!"ucap paman Sean yang bangkit dari tempat duduknya dan kemudian langsung menarik telinga Kimberly.

__ADS_1


"Aaarrrghhh...." teriakan Kimberly yang mengema satu ruangan.


__ADS_2