
"Ingin kabur jangan berharap," bentak Diana yang mengeluarkan kekuatannya menyerang Kimberly.
Kimberly yang di serang oleh Diana tepat mengenai dadanya. sehingga ia menampakan diri dan terhempas ke jalan.
Bruk...
"Aarrghh..." jerit Kimberly yang kesakitan dan muntah darah.
"Mama...." teriak Debermon.
"Mama...." teriak Deberly.
"Anak-anak, hati-hati! mama tidak ada apa-apa," kata Kimberly yang langsung bangkit dan melindungi si kembar.
"Dengan kekuatanmu yang tidak seberapa itu ingin melawanku? jangan berharap," ketus Diana.
"Nenek, kenapa ingin membunuh kami? kami tidak berhutang padamu!" bentak Debermon yang berdiri di depan Kimberly dengan tanpa merasa takut.
"Karena kalian adalah hama penganggu," ketus Diana.
"Diana, sebenci apapun dirimu padaku, kau tidak boleh menyentuh anakku," bentak Kimberly dengan kesal.
"Memang kau mengira layak mengatakan itu padaku? kau melahirkan dua orang anak yang tidak seharusnya kau lahirkan," ketus Diana.
"Kau tidak ada hak untuk melarangku, aku yang mengandung mereka selama 9 bulan dan aku mempertaruhkan nyawaku untuk melahirkan mereka. kamu tidak layak membunuh mereka," bentak Kimberly dengan kesal.
"Kau sangat berani melawanku, Kimberly. tidak ada baiknya untukmu dan anak-anakmu, hari ini aku tidak akan tinggal diam dan aku akan mengubur kalian hidup-hidup, manusia sampah, mati saja," bentak Diana yang mengeluarkan api dan menyerang Kimberly dan sepasang kembar itu.
Kimberly yang sudah terluka berusaha mengunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi sang buah hatinya. kekuatan yang di milikinya yang tidak seberapa dan juga kondisinya yang terluka tidak membuatnya menyerah.
Debermon dan Deberly yang melihat mulut ibunya mengeluarkan darah, mereka pun mengunakan kekuatan api untuk menyerang Diana.
"Ingin menyerang kami? tidak semudah itu," bentak Debermon dan Deberly yang mengeluarkan kekuatannya.
Di sisi lain Demon yang sedang istirahat siang tiba-tiba saja membuka matanya. ia langsung berubah posisi duduk dan terdiam sejenak.
"Kenapa sepertinya aku mendengar suara teriakan Kimberly?" gumam Demon.
Demon yang merasa tidak nyaman, lalu ia pun turun dari kasurnya. dan kemudian ia menghilang.
Sementara Kimberly yang masih menahan serangan Diana akhirnya dia dan dua anaknya kalah dan ambruk. Kimberly muntah darah karena memaksa diri, sementara si kembar terlempar jauh dari posisi tempat dia berdiri tadi.
__ADS_1
Bruk...bruk...
"Debermon, Deberly..." teriak Kimberly yang sambil menahan sakit bagian dadanya.
"Mama...kami tidak apa-apa," jawab Debermon dan Deberly dengan serentak.
"Jangan salahkan aku melenyapkan kalian hari ini," kecam Diana.
Kimberly berusaha bangkit dan memeluk si kembar ingin melindungi anaknya dari Diana yang ingin menyerangnya.
Saat Diana menyerang dengan api besar untuk membakar Kimberly dan si kembar. serangan Diana tidak mengenai sasarannya karena ada kekuatan yang tiba-tiba muncul sedang melindungi Kimberly dan si kembar.
Diana merasa terkejut di saat melihat orang yang muncul dan melindungi Kimberly dan anaknya adalah orang dekat dengannya.
"Ke-kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Diana yang melihat ke arah pria yang berdiri di belakang Kimberly yang tak lain adalah cucunya sendiri, Demon.
"Untuk apa nenek melakukan ini? kenapa harus membunuh mereka?" tanya Demon.
Kimberly yang mendengar suara yang tidak asing baginya ia langsung menoleh ke arah Demon yang berdiri di belakangnya.
"Paman tampan, nenek itu jahat ingin membunuh kami sama mama," kata Deberly yang mendekati Demon.
"Deberly" sahut Demon yang mengenal anak kecil itu yang pernah dia jumpa sebelumnya.
"Iya," jawab Kimberly.
Demon melihat ke arah Debermon yang sangat mirip dengannya, ia menatap heran begitu juga dengan Debermon yang terdiam sambil menatap Demon.
"Nenek, kenapa melakukan ini terhadap mereka?" tanya Demon yang berhadapan dengan neneknya.
"Mereka adalah pegganggu, Demon, jangan ikut campur. karena wanita ini dan anak-anaknya adalah pengganggu," jawab Diana.
"Seorang wanita lemah dan anak-anak yang tidak bersalah bisa menjadi sasaranmu, bukankah ini sangat aneh," kata Demon.
"Paman, nenek ini ingin membunuh kami. padahal kami tidak mengenalnya," ujar Deberly yang memegang tangan Demon.
"Untuk apa melakukan itu?" tanya Demon yang menatap ke arah neneknya.
"Demon, jangan ikut campur! mereka tidak ada hubungannya denganmu," ujar Diana.
"Walau tidak ada hubungannya denganku, aku juga tidak mengizinkan mu melukai mereka," kata Demon dengan tegas.
__ADS_1
"Demon, kau...."
"Aku akan membawa mereka pergi! apapun alasannya nenek tidak seharusnya melukai mereka," kata Demon dengan tegas dan berpaling ke arah Kimberly.
"Ikut aku pulang!" ajak Demon dengan memegang tangan kiri Kimberly dan Deberly. sementara Debermon memegang tangan kanan Kimbery.
Demon membawa mereka meninggalkan tempat itu. sementara Diana hanya bisa diam sambil mengepal tangan.
"Kenapa bisa begini jadinya? seharusnya mereka semakin jauh bukan semakin dekat, wanita itu pintar sekali mencari caranya untuk mendekati Demon. apakah Demon suatu saat akan ingat kembali. jika iya, maka dia pasti akan marah besar," gumam Diana.
Demon membawa Kimberly dan si kembar kembali ke tempat tinggalnya.
Setelah pulang Deberly yang masih trauma menangis di pelukan Kimberly. Kimberly berusaha memujuk putri kecilnya yang menangis tanpa berhenti..
"Deberly, kita sudah aman, jangan takut ya!" bujuk Kimberly yang mengendong Deberly sambil membujuknya.
"Kimberly, kamu sudah terluka apa kamu baik-baik saja?" tanya Demon yang menghampirinya.
"Aku tidak apa-apa, hanya Deberly masih ketakutan," jawab Kimbely yang sambil mengendong putri kecilnya.
"Kimberly, kamu pergilah istirahat dulu di kamar! biar aku yang membujuknya, ini semua karena nenekku juga," kata Demon yang mengendong Deberly.
"Paman, aku takut nenek itu datang lagi," tangisan Deberly yang di dalam gendongan Demon.
"Nenek tidak akan datang lagi, jangan takut!" bujuk Demon dengan mengusap air mata putri kecilnya.
Debermon yang hanya duduk diam sambil memerhatikan Demon. ia merasa dekat dengan pria dewasa itu. apa lagi wajah mereka yang hampir mirip.
Demon mengendong Deberly sambil membujuk gadis kecil itu dengan penuh kesabaran. sementara Kimberly yang merasa tidak enak badan ia pun ke kamar Demon dan berbaring di sana.
"Diana semakin keterlaluan, apakah Demon percaya kalau aku mengatakan jika Deberly dan Debermon adalah anaknya?" gumam Kimberly.
Saat Demon sedang membujuk Deberly muncul bayangan di kepalanya.
"Kenapa perasaan ku sepertinya dulu ada yang menangis di pelukanku juga?" batin Demon.
"Tangisan anak ini sangat mirip dengan seseorang,"batin Demon.
"Paman, jangan heran kalau adikku menangis dan tidak mau diam. dia sangat mirip dengan mama ku, sekali menangis butuh dua atau tiga jam baru bisa diam," ujar Debermon.
"Debermon, apa kamu tahu apa penyebabnya nenek paman ingin mengincar kalian?"
__ADS_1
"Tidak tahu, dia tiba-tiba muncul di rumah kami dan membawa kami pergi. serta ingin membunuh kami," jawab Debermon.