Mystery

Mystery
Aku berjanji


__ADS_3

"Tidak! aku hanya sedang mencari sesuatu," jawab Kimberly dengan alasan.


"Ternyata begitu! apa bisa memberitahuku kau sedang mencari apa di sana?" tanya Raymond dengan senyum.


"Handphoneku...iya handphoneku...aku lupa taroh di mana," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban Kimberly semua karyawan di sana sedang menahan tawa.


"Handphonemu ada bersamaku! aku menemuinya di kantorku," kata Raymond dengan mengeluarkan handphone milik Kimberly dari sakunya.


"Oh ternyata di kantormu, pantas saja aku sudah cari-cari tapi tidak ada di dalam sini," jawab Kimberly dengan senyum.


"Apakah istriku sudah bisa turun?"tanya Raymond dengan senyum.


"Hah....belum bisa!"


"Oh...kenapa, apa masih ingin mencari sesuatu?" tanya Raymond dengan bersikap tenang.


"Iya...aku sedang mencari dompetku?" jawab Kimberly dengan alasan.


"Dompet mu ada di dalam tas mu, dan kamu meninggalkannya di kantorku," jawab Raymond.


"Ternyata begitu!"


"Iya, dan apakah istriku sudah bisa turun?" tanya Raymond dengan senyum.


"Belum bisa!" jawab Kimberly yang sedang mencari alasan.


"Apakah masih ada yang hilang?" tanya Raymond dengan penuh kesabaran.


"Aku sedang mencari koinku! koinku hilang!" jawab Kimberly.


"Koinmu hilang di mana, kenapa harus mencarinya di dalam sana?" tanya Raymond dengan senyum.


"Tadi hilang di saat aku sedang bertarung dengan siluman itu!" jawab Kimberly


"Apakah hilang di ruangan kerja itu?" tanya Raymond yang sudah mengerti ulah istrinya.


"I-iya!


"Lalu, kenapa istriku malah mencarinya di dalam sana?"


"Karena koinnya sudah hilang tidak tahu kemana, oleh karena itu aku mencoba mencarinya di sini!"


"Hilangnya di ruangan itu dan kau mencarinya di dalam plafon, kelihatannya ide mu sangat bagus," ujar Raymond dengan senyum.


"Mungkin saja koinnya menyasar ke sini!" jawab Kimberly.


"Apa sudah bisa turun?" tanya Raymond.


"Tidak bisa! koinnya aku belum dapat" jawab Kimberly dengan alasan.


"Apakah di sini ada yang memiliki koin?" tanya Raymond kepada para karyawannya di sana.

__ADS_1


Semua karyawan mengeluarkan koin mereka sambil menahan tawa.


"Ada!" jawab mereka semua dengan serentak dan masing-masing memegang koin.


"Istriku, lihatlah mereka ada koinnya kau bisa mengambilnya jika kau butuh," ujar Raymond dengan senyum.


"Dasar pengkhianat," batin Kimberly.


"Aku tidak butuh lagi!" jawab Kimberly dengan senyum.


"Oh ternyata begitu, dan apakah istriku sudah bisa turun dari sana?"


"Belum bisa!" jawab Kimberly yang menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa, apa masih mau mencari sesuatu?" tanya Raymond.


"Aku belum mau turun!"


"Apakah dia sedang takut karena telah menghancurkan barang-barang perusahaan?" batin Raymond.


"Lalu, kamu berencana kapan baru mau turun dari sana? apakah di sana sangat nyaman?" tanya Raymond sedang menahan tawa.


"Iya, di sini lumayan nyaman dan aku bisa melihat orang lalu lalang di sini!" jawab Kimberly dengan alasan.


"Nyonya, di sini adalah pojokan. jadi, jarang ada yang lewat di sini," kata salah satu karyawan yang sedang mengusik Kimberly.


"Memang kau tidak bisa diam saja kalau kau tahu!" ucap Kimberly dengan kesal dan menurunkan tangannya.


"Istriku, kalau kamu suka melihat orang lalu lalang maka kamu bisa duduk di kantin sebelah, kamu bisa melihat orang-orang di sana!" ujar Raymond dengan senyum.


"Kenapa nyawamu bisa terancam? suamimu ada di sini mana ada yang bisa menyakitimu!" kata Raymond yang tersenyum lucu melihat istrinya itu.


"Justru karena kau adalah suamiku aku takut di telan hidup-hidup?' jawab Kimberly dengan suara rendah dan sambil menutup wajahnya.


"Kenapa gadis ini bisa begitu mengemaskan," batin Raymond


"Hahahaha...suamimu ini bukan pemakan daging manusia. jadi, mana mungkin aku akan menelanmu!" jawab Raymond dengan tertawa.


"Apa benar kau tidak akan menelanku?"


"Tentu saja! apa sudah bisa turun dari sana? atau...aku yang akan naik ke sana membawamu turun?" tanya Raymond dengan senyum.


"Aku masih mau di sini!" jawab Kimberly.


"Kenapa?"


"Karena senyumanmu menakutkan," jawab Kimberly.


"Hahahaha...aku tidak mungkin akan menelanmu, karena kau adalah istriku!" jawab Raymond dengam tertawa.


"Senyuman mu itu seperti mau memangsa orang," ucap Kimberly yang menutup ke dua mata dengan tangannya.


"Dia sedang takut aku marah padanya? memang anak kecil yang sangat mengemaskan," batin Raymond.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin memangsa mu, kau adalah istriku. lagi pula aku tidak ada alasan melakukannya. turunlah!"


"Aku sudah menghancurkan semua barang di sini mana mungkin kau tidak marah," ujar Kimberly yang sedang menutupi wajahnya.


"Kau sudah sadar di mana letaknya kesalahanmu?" tanya Raymond dengan sengaja mengusik istrinya.


"Iya, tapi dia yang mau membunuhku dulu, makanya aku balas. aku juga demi keselamatan sendiri," jelas Kimberly.


"Kimberly, aku akan mengambil tindakan terhadapnya. dan sekarang kamu sudah boleh turun," ujar Raymond.


"Apa kalau aku turun kau akan menghukumku?" tanya Kimberly yang mengintip dari sela-sela jari.


"Menurut mu aku akan mengunakan cara apa untuk menghukummu?"


"Apa kau akan merotan tanganku?"


"Hahahaha....apa kamu mengira aku akan seperti guru di sekolah yang menghukum murid mereka?"


"Aku sudah pernah kena di rotan rasanya masih ingat hingga sekarang," jawab Kimberly.


"Kimberly, aku beri kamu dua pilihan! kamu turun sendiri atau aku akan menyuruh orang membongkar plafonnya!" ucap Raymond dengan senyum.


"Aku turun sendiri saja! tapi kau janji jangan merotanku, ya!"


"Baiklah! aku berjanji padamu!" jawab Raymond dengan tertawa lucu.


"Nyonya ini ada saja tingkahnya! tidak tahu hanya dia yang begini atau wanita lain juga sama seperti dia?" batin Wilson.


Tidak lama kemudian Kimberly turun dari plafon dan kemudian di bawa Raymond ke ruangannya. Raymond membiarkan Kimberly duduk di pangkuannya sambil melihat-lihat ke dua tangan istrinya itu.


"Apa yang kamu lakukan, kenapa melihat tanganku terus, apa yang kamu cari?" tanya Kimberly dengan heran.


"Apa kamu tidak terluka?" tanya Raymond yang sedang memeriksa ke dua tangan istrinya.


"Tidak! yang terluka adalah siluman itu!"


"Kimberly, lihatlah telapak tanganmu sudah merah, apa kamu tidak sakit?" tanya Raymond.


"Tadi aku menamparnya dengan begitu kuat makanya telapak tanganku jadi merah," jawab Kimberly


"Kamu ini sangat ceroboh, kau menghajarnya sehingga tanganmu jadi merah," tegur Raymond yang sambil meniup telapak tangan istrinya.


"Apa kamu tidak marah padaku?"


"Apa karena kamu takut aku memarahimu, oleh karena itu kau bersembunyi di plafon?"


"Iya, aku sudah menghancurkan sebagian barang di sini, apa kamu akan menghukumku?"


"Hahahaha...kenapa aku harus marah padamu dan kenapa aku harus menghukummu? barang yang rusak masih bisa di ganti baru. ini bukan masalah bagiku. sedangkan jika kamu terluka aku akan merasa sakit hati. jadi mana mungkin aku memarahimu," jawab Raymond dengan mencium wajah istrinya.


"Atas kerusakan itu kau pasti harus mengeluarkan banyak biaya lagikan?" tanya Kimberly dengan merasa bersalah.


"Itu tidak seberapa bagiku, Kimberly. aku hanya mengutamakan mu," jawab Raymond yang mencium bibir istrinya.

__ADS_1


"Aku berjanji padamu! aku tidak akan merusakkan barang lagi sehingga menyebabkan kamu mengalami kerugian," ucap Kimberly yang sedang bersumpah.


__ADS_2