
Setelah selesai belanja Kimberly dan Holdie memasukkan barang belanjaan mereka ke bagasi. kemudian paman Sean dan Holdie masuk ke dalam mobil. sementara Wilson yang sudah menunggu di dalam mobil menghidupkan mesinnya.
"Haus sekali!" gumam Wilson yang keluar dari mobilnya.
"Nyonya, aku beli air mineral sebentar!" kata Wilson yang menatap ke arah Kimberly yang sedang menyusun barangnya di bagasi.
"Wilson, tolong belikan untuk kami juga! ini ambil uangnya!" pinta Kimberly yang mengeluarkan dompet dan memberikan lembaran uang.
"Baik Nyonya," jawab Wilson yang melangkah masuk ke salah satu toko di sana.
Saat Kimberly ingin memasukkan dompetnya ke dalam tas tiba-tiba dompetnya di rebut dan di bawa lari oleh pria yang bersepeda.
"HEI....DASAR...KEMBALIKAN DOMPETKU..." teriakan Kimberly dengan nada tinggi.
Kimberly yang merasa kesal dan masuk ke dalam mobil dengan berniat mengejar pria yang membawa lari dompetnya.
"Kimberly, apa yang kau lakukan?" tanya paman Sean.
"Aku ingin mengejar di penjambret itu!" jawab Kimberly yang ingin menginjak gas..
"Nyonya, sedang melakukan apa?" tanya Wilson yang menghampiri mobil atasannya itu
"Cepat masuk!" perintah Kimberly.
"Iya," jawab Wilson yang duduk bersama dengan paman Sean dan Holdie di belakang.
"Sebentar...sebentar...Kimberly, apa kau sudah belajar menyetir sebelumnya?" tanya paman Sean.
"Belum pernah," jawab Kimberly sambil menginjak gas.
"APA?"teriak paman Sean, Holdie, dan Wilson yang kemudian tubuh mereka sama-sama terhentak ke sandar kursi.
"Aarggh...!"teriakan mereka bertiga dengan serentak.
BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...
Kimberly melajukan mobilnya dengan berniat mengejar sepeda yang di depan itu, ia yang tidak bisa menyetir mobil belok ke kanan dan ke kiri. sementara mereka yang duduk di belakang ikut terguncang ke kanan ke kiri
Bruk...
Benturan kepala Wilson yang terkena kaca mobil.
"Aargghh..." jerit Wilson.
"Aarrghh...." teriakan mereka dengan serentak yang sedang terguncang ke depan dan belakang serta ke kiri dan ke kanan.
Di sepanjang jalan mereka berteriak tanpa berhenti karena ketakutan. Kimberly yang menyetir mobil dengan laju serta menabrak beberapa mobil yang sedang parkir di pinggir jalan sebelah kiri.
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
"Aarrghhh..."
PRAK...
Puluhan mobil yang sedang parkir di tabrak sehingga pecah lampu belakang dan rusak bagian lainnya. sementara mobil yang di bawa oleh Kimberly di bagian kirinya telah penyok, dan bergores-gores, lampu bagian depan pecah.
"Aarrghhh..."
Teriakan mereka bertiga yang terguncang sehingga terbentur kepala ke kaca mobil.
Bruk.
Benturan kepala Holdie mengenai kaca mobil itu.
"Auuhkk," jerit Holdie.
"Aku tidak percaya tidak bisa mendapatkanmu!" teriak Kimberly dengan belok kiri dan kanan sambil melewati semua mobil yang di depannya.
BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...
__ADS_1
Di saat mobilnya melewati polisi tidur dengan kecepatan yang tinggi. mobilnya terangkat karena kelajuannya
"Aargghhh..." teriakan mereka dengan serentak yang sama-sama tubuhnya terangkat dan terbentur kepala mengenai langit mobil.
BRUK...
"Aaugh," pekik mereka dengan serentak.
"Hei...apa kau bisa berhenti!" teriak paman Sean yang terguncang sana sini sehingga saling menabrak dengan Wilson dan Holdie.
"Tidak bisa!" jawab Kimberly dengan fokus dengan sasarannya sehingga menerobos lampu merah.
Puluhan mobil sedang berhenti di sana, mobil Kimberly melewati semua mobil tersebut sambil menabrak samping mobil mereka.
BRAK...
BRAK...
BRAK...
BRAK...
BRAK...
BRAK...
BRAK...
Tabrakan mobil bagian sisi kanan sehingga lampu pecah dan rusak di bagian bodynya.
"Aaargghh..." teriakan mereka bertiga yang ikut terguncang.
"Nyonya, to-tolong hentikan! mobil ini baru di beli tuan!" pinta Wilson yang sedang ketakutan.
BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...
"Aku tidak percaya tidak bisa mendapatkan sasaranku itu," jawab Kimberly yang menginjak rem dengan tiba-tiba karena ada mobil di depannya.
"Aaarrghh," teriakan mereka bertiga yang terguncang ke depan sehingga kepalanya terbentur kursi depan.
Brugh...
"Aaurgh..." jerit mereka yang kesakitan.
Sesaat kemudian Kimberly mulai menginjak gas dengan kecepatan tinggi secara tiba-tiba.
"Aaarrghh," teriakan mereka bertiga yang tubuhnya terguncang ke belakang.
"Aku akan segera bertemu dengan ibumu...aarghh." jerit paman Sean yang tubuhnya sedang terguncang ke kiri dan membentur kepala Wilson.
BRUGH...
"Aauggh," pekik paman Sean dan Wilson.
Kimberly membelok setirnya ke kanan dengan kencang untuk melewati mobil depannya.
"Aaargghhh!" teriakan mereka bertiga yang sama-sama terguncang ke kanan sehingga kepala Holdie membentur kaca mobil.
BRUK...
"Aarghh..." jerit Holdie yang kesakitan.
Pria yang mengayuh sepeda itu berusaha menjauh dari mobil Kimberly. akan tetapi usahanya sia-sia saja. Kimberly yang menyetir mobil suaminya itu menerobos lampu merah sehingga menabrak belasan mobil hanya demi ingin menangkap si pelaku itu.
"Apa wanita ini gila ya, memangnya ada berapa jumlah uangnya di dompet ini?" gumam pria itu yang sedang mengayuh dengan cepat.
BRUM...BRUM...BRUM...BRUM...
"Baiklah, rasakan ini!" ucap Kimberly yang melaju melewati sepeda itu dan kemudian ia membelok ke kiri dan langsung menginjak rem.
BRUGH...
BRUGH...
BRUGH...
"Aaargghh...." teriakan mereka bertiga yang terguncang ke kanan dan ke belakang.
"Kembalikan dompetku, kurang ajar!" bentak Kimberly yang keluar dari mobil dan menghampiri pria itu.
"Kau gila!" ketus pria yang merasa terkejut dengan aksi Kimberly
"Kau ingin merampokku? maka kau sudah salah orang!" bentak Kimberly yang memegang pundak pria itu
Wilson, paman Sean dan Holdie yang turun dari mobil merasa lemas pada kaki mereka, karena guncangan dan benturan membuat mereka merasa pusing dan muntah tanpa berhenti.
Woak...woak...woak...woak...woak...
Wilson kebingungan melihat mobil bosnya yang baru beli pagi tadi. kondisinya sudah berbeda dengan 99 derajat. dua lampu depan pecah, body mobil kiri kanan penyok dan bergores dari depan ke belakang.
__ADS_1
"Gawat! tujuh puluh lima ribu dollar habis begitu saja!" ucap Wilson sambil mengaruk kepalanya.
Paman Sean dan Holdie yang melihat kondisi mobil mewah itu sudah tidak berbentuk merasa kaget dan terdiam sesaat.
"Akhirnya aku mendapatkan dompetku kembali," ucap Kimberly dengan kegirangan.
"Kimberly, paman ingin bertanya padamu, berapa isi dompetmu ini sehingga membuatmu mengejar pria itu dari ujung sana sampai ke sini, dan kami bertiga juga menjadi korbanmu selama dalam perjalanan. bukan hanya itu, kondisi mobil suamimu juga menjadi korbanmu!"tanya paman Sean.
"Lima puluh dollar!" jawab Kimberly.
"Hah....kenapa bisa begitu?" tanya Kimberly yang melihat mobil suaminya yang sudah tidak berbentuk.
"Kau menabrak semua mobil yang kau lihat di sepanjang jalan, bahkan mobil yang parkir di pinggir saja juga kau tabrak, apa kau mengira mobil suamimu ini untuk di jadikan mainan?"
"Paman, aku..." ucap Kimberly dengan kebingungan.
"Wilson, berapa harga mobil ini?" tanya Holdie.
"Tujuh puluh lima ribu dollar!"
"Apaa, tujuh puluh lima ribu dollar? teriak paman Sean dan Holdie dengan serentak.
"Kimberly, apa kau masih waras ha? demi lima puluh dollar kau menghancurkan tujuh puluh lima ribu dollar!" bentak paman Sean.
Tidak lama kemudian handphone milik Wilson berbunyi.
"Ha-hallo, Tuan!" sapa Wilson dengan gemetaran seakan nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Di mana kalian?" tanya Raymond yang di seberang sana.
"Kami pas di depan hotel, Tuan!"
"Aku sudah melihat semua kejadian itu, bagus sekali kalian. hanya dalam sehari mobil yang baru ku beli sudah tidak berbentuk karena ulah kalian,"
"Ma-maaf, Tuan!" ucap Wilson yang sedang gemetaran.
"Kimberly, nanti jika suamimu datang kau ha...." kata paman Sean yang terhenti karena melihat Kimberly yang sudah menghilang entah kemana.
"Heh...kemana dia?" tanya paman Sean dengan penasaran.
"Tadi dia masih berdiri di sampingku!" jawab Holdie dengan melihat ke sana ke sini.
"Nyonya...." panggil Wilson yang mencari keberadaan Kimberly.
"Kemana lagi dia, kenapa bisa hilang secara tiba-tiba?" tanya Holdie yang melihat ke atas pohon hias.
"Dia tidak ada di atas pohon, jadi dia kemana?" tanya paman Sean dengan penasaran.
"Aku di sini!" jawab Kimberly yang entah dari mana.
Paman Sean, Holdie dan Wilson melihat ke sekitaran sana akan tetapi tidak melihat keberadaan gadis itu.
"Kau di mana?" tanya paman Sean.
"Aku di sini!" jawab Kimberly yang dekat dengan posisi mereka.
Mereka bertiga lalu menunduk melihat ke bawah
"Kenapa kau berada di sana?" tanya paman Sean.
"Aku sedang menghitung semut!" jawab Kimberly yang sedang bersembunyi di bawah kolong mobil.
"Menghitung kepalamu!" bentak paman Sean dan Holdie dengan serentak.
"Apa kepala mu terbentur ya? cepat keluar dari sana!" bentak paman Sean dengan kesal.
"Malaikat pencabut nyawa sudah mau datang," jawab Kimberly.
"Kimberly, di mana pria itu, aku melihat kau menahannya tadi?" tanya Holdie.
"Dia ada di atas bangunan sana!" jawab Kimberly.
"Atas bangunan?" tanya Wilson dengan heran.
"Bagaimana caranya dia naik ke atas sana?" tanya paman Sean dengan penasaran.
"Aku yang melemparnya tadi!" jawab Kimberly.
"Nyonya, tuan sudah mau datang ke sini!" ujar Wilson.
"Kalian jangan mengatakan jika aku ada di bawah kolong mobil ya!" pinta Kimberly yang sedang terlungkup.
"Iya...iya..." jawab paman Sean dan Holdie dengan mengeleng-geleng kepala.
Tidak lama kemudian Raymond tiba di depan hotel. ia yang turun dari mobil dengan raut wajah serius dan melangkah cepat menghampiri paman Sean yang bersama dengan Wilson dan Holdie.
"Raymond!" sapa paman Sean.
"Paman, di mana Kimberly?" tanya Raymond yang melihat ke sekeliling .
__ADS_1
"Dia mengatakan jika dia tidak ada di bawah kolong mobil," jawab paman Sean, Wilson dan Holdie dengan serentak.
"Dasar pengkhianat!" batin Kimberly.