
"Tuan, bukankah itu hanya akan melukai nyonya?" tanya Wilson yang merasa khawatir.
"Istri kecilku ini tidak mudah di tindas, dan aku yakin dia pasti akan berulah," jawab Raymond dengan tertawa kecil.
Tidak lama kemudian seorang pria yang melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Martinez, pesanan Anda sudah tiba!" kata seorang pria yang membawakan box berwarna merah dan memberikan kepada Raymond.
Ryamond mengambil pemberian pria itu dan kemudian ia membukanya dan sambil tersenyum.
"Aku yakin dia pasti akan menyukainya!" ucap Raymond yang menyentuh set perhiasan berlian yang terdapat kalung berlian, anting-anting berlian, gelang tangan berlian, gelang kaki berlian.
"Wah...Tuan, ini adalah set berlian yang nilainya mencapai milyaran dollar dan pengeluaran baru, apakah ini untuk nyonya?" tanya Wilson.
"Iya, aku sudah memesannya bulan lalu dan ini sangat layak untuk istri ku itu," jawab Raymond dengan senyum.
"Tuan, Anda sangat sayang pada istri Anda, set perhiasan ini nilai sangat tinggi, dan saya yakin nyonya pasti akan menyukainya," kata pria itu yang tak lain adalah pelayan toko perhiasan.
"Terima kasih karena sudah mengantarnya!" ucap Raymond.
"Istri kecilku, kau pasti sedang marah sekarang, tentu saja kau tidak menyadari jika dirimu itu sangat penting bagiku," batin Raymond.
Mansion Raymond.
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
Suara potongan yang di lakukan oleh Kimberly
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
"Dasar pasangan hina! beraninya melakukan di hadapanku tanpa segan-segan!" ketus Kimberly yang sedang memotong ayam.
Ayam yang di potong sebagian hancur berkecai kecai.
"Ingin aku siapkan untuk kalian berdua? jangan berharap. sayang sekali tidak ada ular, jika tidak maka aku bisa campur untuk siluman itu," oceh Kimberly yang sedang kesal sambil mencincang ayam itu sehingga tidak berbentuk
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
"Sayang sekali anggota si raja api itu tidak berada di sini, jika tidak aku pasti akan mengambil sotongnya untuk di masak dan berikan kepada siluman itu!" ketus Kimberly.
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
Kimberly melakukannya selama beberapa menit, rasa kesal dan marah melanda dirinya sehingga ia melampiaskan semuanya ke ayam itu.
Setelah di potong daging ayam yang tanpa membuang kepalanya dan juga kulit langsung di masukkan ke dalam panci dan kemudian di campur air.
"Ini makan malam kalian semoga kalian menyukainya!" ketus Kimberly yang mencampur satu bungkus garam dan bahan-bahan lainnya.
__ADS_1
"Raja api bajing*n! kau yang berjanji tidak akan menikah lagi tapi sekarang kita baru bersama beberapa bulan sudah mau menikah lagi, kau sangat keterlaluan," ketus Kimberly
Ia terdiam selama beberapa saat. dan mengeluarkan air matanya saat ia mengingat kembali dengan apa yang sudah dia lihat dan setiap ucapan yang di lontarkan oleh Raymond. Raymond yang ingin mengusik istrinya ia tidak menyadari jika candaannya itu telah menghancurkan hati sang istri, sehingga akhirnya tangisan istrinya pun pecah karena merasa telah di khianati.
"Raymond Martinez, aku pernah mengatakan jika kau mencintai wanita lain aku akan pergi, walau kau adalah raja aku tetap tidak bisa berbesar hati melihat kau bermesraan dengan wanita lain. aku akan pergi!" ucap Kimberly yang melangkah keluar dari rumahnya.
Setelah tiga jam kemudian.
Tempat tinggal paman Sean.
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
"Pa, ada apa dengan dia?" tanya Holdie yang sedang mengintip di luar dari dapur bersama paman Sean.
"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya!" jawab paman Sean yang ikutan mengintip ke dalam.
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
"Katanya dia ingin memasak untuk kita makan malam ini!" jawab Holdie.
"Memasak atau membalas dendam pada ayam dan ikan itu? kau lihat saja tiga jam dia di dalam dapur dan memotong tidak berhenti, mana ada orang yang memotong ikan dan ayam selama tiga jam tidak selesai," ujar paman Sean yang sedang melihat Kimberly.
"Mana ku tahu! aku hanya kasihan pada ikan dan ayam yang sudah ku beli, semua itu untuk seminggu. tapi dia malah mengeluarkan semuanya dan menyiksa mereka tanpa berhenti."
"Sabar Pa, sabar. bagaimana kalau aku menghubungi Raymond dan bertanya padanya apa yang sudah terjadi," kata Holdie.
"Iya cepat-cepat hubungi dia! jika tidak, maka semua ayamku pasti di potong sampai habis!"
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
"Dasar sia.lan! kenapa aku harus merasa kesal, besok aku akan ajukan penceraian saja," gumam Kimberly yang sedang memotong tanpa berhenti.
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
PRAK...PRAK...PRAK...PRAK...
Ayam dan ikan yang di kulkas semua telah di potong sehingga tidak berbentuk dan berserakan di dapur sana.
Paman Sean dan Holdie lalu melangkah masuk ke dapur dan melihat dapur mereka yang sudah berserak akibat ulah Kimberly.
"Ehem...Kimberly, bagaimana kalau paman saja yang memasaknya, dan kau istirahat saja dulu di kamar!" ujar paman Sean yang melangkah masuk ke kamar.
__ADS_1
"Iya Paman, aku ingin tidur sebentar!" jawab Kimberly yang menghentikan aksinya dan berjalan menuju ke kamar.
"Wah....ayam dan ikan ku ini sudah menjadi hancur begini, apakah dia menaruh dendam pada ikan dan ayam ku ini!" gumam paman Sean.
Jam dinding menunjukan pukul 19.00.
Kimberly telah berada di kamar selama tiga jam dan menangis tanpa berhenti.
Raymond yang di temani Wilson mendatangi rumah paman Sean setelah di hubungi Holdie.
"Raymond, apa kalian sedang bertengkar? kenapa gadis itu menghancurkan ayam dan ikan ku?" tanya paman Sean.
"Maaf! Paman, ini semua salahku, aku akan membujuknya. di mana dia sekarang?"ucap Raymond dengan senyum.
Kimberly yang sedang menangis mendengar suara Raymond ia langsung bersembunyi agar tidak di temukan oleh suaminya itu.
"Sudah mau menikahi wanita lain untuk apa kau mencariku lagi!" batin Kimberly yang sedang bersembunyi sambil memeluk bonekanya.
Klek...
"Kimberly, Raymond da...." seru paman Sean yang melangkah masuk ke kamar.
"Eh...kemana dia?" tanya paman Sean yang melihat ke arah sana sini akan tetapi tidak melihat keberadaan Kimberly.
"Apa dia keluar dari jendela!" ucap Holdie yang berjalan menghampiri jendela.
"Tidak mungkin! di sana adalah pohon dan tiang lampu dia mana bisa keluar dari sana, kecuali kalau dia duduk di atas pohon!"jawab paman Sean.
"Kimberly, kau ada di mana?" panggil paman Sean yang membuka pintu lemari.
"Tidak ada di sini juga!" kata paman Sean yang melihat lemarinya yang kosong melempong.
"Di sini tidak ada juga, Pa!" ujar Holdie yang membuka pintu kamar mandi.
"Lalu kemana dia? di sini tidak ada ruangan lain!" ujar Holdie dengan penasaran.
Raymond yang mengetahui keberadaan istrinya ia pun membungkuk dan melihat ke bawah kolong tempat tidur.
"Hai...istriku!" sapa Raymond dengan tersenyum.
Paman Sean dan Holdie sama-sama membungkuk dan melihat ke bawah kolong tempat tidur.
"Kenapa kau ada di dalam sana?" tanya Paman Sean dan Holdie yang melihat Kimberly di bawah kolong tempat tidur dan sedang terlungkup sambil memegang bonekanya.
"Aku sedang menghitung bintang," jawab Kimberly yang sedang posisi terlungkup sambil memegang bonekanya
"Menghitung bintang di bawah kolong tempat tidur, apa kau masih waras?" tanya paman Sean dan Holdie dengan serentak.
__ADS_1