Mystery

Mystery
Merasa Malu


__ADS_3

"Tuan Martinez, kenapa wanita ini bisa berada di sini?" tanya Almost dengan merasa heran.


"Karena dia adalah istriku," jawab Raymond dengan senyum dan memegang tangan istrinya.


"A-apa, istrimu? tidak mungkin. Anda pasti hanya bercanda karena tidak ada berita mengenai pernikahan kalian," ujar Yolanda dengan rasa tidak percaya.


"Aku tergila-gila padanya dan langsung menikahinya di pertemuan pertama, karena terburu-buru kami tidak mengadakan pesta," jawab Raymond dengan senyum mesra dan menatap ke arah istrinya.


"Raymond, apa kamu setuju bekerjasama dengan mereka?" tanya Kimberly yang berdiri di samping suaminya.


"Tentu saja tidak! karena mereka tidak memenuhi syarat," jawab Raymond dengan senyum.


"Apa kalian sudah dengar? suamiku mengatakan kalian tidak memenuhi syarat. jadi, kenapa kalian masih di sini?" tanya Kimberly dengan mengejek.


"Kimberly, tadi aku mendengar tuan Almost mengatakan jika kalian sudah kenal sebelumnya, kenapa aku tidak pernah mendengar mu mengungkitnya?"tanya Raymond.


"Saat aku makan di restoran bersama paman Sean, wanita ini menabrakku dan dia marah-marah serta menghinaku. dan tidak lama kemudian dia juga datang. bukannya mendidik anaknya dia malah menyalahkanku. dan kami bertengkar," jelas Kimberly.


"Tuan, ini hanya kesalahpahaman saja," ucap Almost dengan merasa segan.


"Tuan Martinez, tidak seperti yang di katakan nona ini. saya adalah orang yang terpelajar dan seorang pengusaha. mana mungkin saya bersikap seperti itu terhadap orang sikapnya seperti anak kecil. adik kecil, kamu sudah salah paham padaku," kata Yolanda dengan berusaha dengan menyindir.


"Kenapa kau tiba-tiba saja berubah? apa kamu kerasukan? atau hanya akting karena di depan Raymond agar bisa menarik perhatiannya? kalau begitu maka kau sudah salah," ujar Kimberly dengan menyindir.


"Adik kecil yang kamu katakan ini adalah istriku, siapapun yang mencari masalah dengannya akan berhadapan denganku," kata Raymond dengan tegas.


Tidak lama kemudian Veronica yang sedang emosi melangkah masuk ke ruangan kantor Raymond dalam keadaan basah kunyup di seluruh tubuhnya.


"Tuan Martinez, aku ingin bertanya siapa wanita yang...?" tanya Veronica yang terhenti karena melihat Kimberly di sana.


"Hai...nenek tua," sapa Kimberly dengan sengaja.


"Ne-nenek? kau memanggil ku nenek? kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Veronica dengan menahan emosi.


"Tuan Martinez, wanita ini dia..." ucap Veronica yang di potong.


"Di siram oleh ku dan selain itu aku juga mengurung mu di dalam ruangan closet itu kan, aku yakin kejadian itu seluruh orang yang di perusahaan ini sudah melihatnya," kata Kimberly yang menunjukan ke arah televisi besar itu.


Veronica yang melihat ke tayangan itu merasa emosi dan sangat memalukan.

__ADS_1


"Oh..iya aku lupa beritahu padamu, di restoran kemarin itu aku juga yang siram air di saat kamu sedang buang air besar!" kata Kimberly dengan sengaja.


"A-apa, kau juga pelakunya?" tanya Veronica dengan membulatkan mata besarnya.


"Iya, aku orangnya, dan kita sangat berjodoh sekali. tidak menyangka pertemuan kita yang ke dua kau di siram aku lagi," jawab Kimberly dengan tertawa.


"Kurang ajar!" ketus Veronica


"Jaga mulut mu Nyonya Almost! kalian sudah boleh pergi! di sini tidak menyambut kedatangan kalian," kata Raymond dengan tegas.


"Tuan, kalau karena perselisihan kami, kami minta maaf. ini semua hanyalah salah paham saja!" ucap Almost.


"Salah paham apanya? kemarin dirimu sangat galak dan memaksaku berlutut untuk berminta maaf dengan anak mu ini, kenapa sekarang sikap kalian berbeda dengan kemarin?" kata Kimberly dengan sengaja.


"Tuan Almost, istriku tidak pantas berlutut di depan orang lain, kalian adalah orang rendahan yang suka menindas orang," ucap Raymond dengan nada kesal.


"Dan kau juga Veronica, hinaanmu terhadap istriku sangat keterlaluan, istriku ini bukan wanita murahan dan juga bukan wanita rendahan seperti yang kau katakan. dia adalah wanita yang paling ku cintai. jangan lupa dia adalah istri Raymond Martinez, nyonya besar Sea World Group," kata Raymond dengan tegas.


"Aku tidak bermaksud ingin menghina, hanya saja di saat itu aku...." ucap Veronica yang terhenti.


"Di saat itu kamu belum tahu aku adalah istri siapa, dan kau juga menganggap aku adalah karyawan rendahan di sini," lanjut Kimberly.


Mereka bertiga hanya terdiam tanpa bisa berkata apapun, dan kemudian melangkah pergi dengan penuh kekecewaan.


"Mereka pasti sangat kecewa," kata Kimberly.


"Kimberly, kelihatannya masalah yang kau timbulkan semalam bukan hanya di jalan besar, tapi di restoran juga," ujar Raymond dengan senyum


"Ini bukan salahku, mereka dulu yang mencari masalah denganku, bayangkan saja wanita itu demi closet dia mendorongku sehingga terjatuh. tentu saja aku tidak puas makanya aku siram air saja," jawab Kimberly.


"Oh ya, masih ada lagi kejutan untuk mereka," ujar Kimberly dengan tertawa.


"Kejutan apa?" tanya Raymond dengan penasaran.


"Mari kita tonton saja reaksi mereka dari sini!" ajak Kimberly yang memegang tangan suaminya berjalan menghampiri jendela.


Di sisi lain Almost bersama anak dan istrinya yang ingin meninggalkan perusahaan mendapat cemohan dan kata-kata yang tidak enak di dengar oleh para karyawan di seluruh gedung itu.


"Dasar orang kaya tidak tahu diri."

__ADS_1


"Iya, mereka suka menghina orang."


"Perusahaan mereka hanya biasa-biasa saja, tapi sudah berani menginjak kepala orang."


"Memang pantas mendapatkan pembalasan begini, untuk saja bukan air kotoran yang di siram."


"Hanya dalam sehari mereka sudah menjadi terkenal, hebat sekali."


Beginilah cemohan dari mereka dan bahkan ada yang lebih menyakitkan.


Almost dan keluarganya merasa malu sehingga menunduk. bagaimana tidak, sikap Veronica yang bertindak kasar terhadap pekerja di sana, membuat semua orang yang di gedung tidak segan-segan untuk mengejeknya.


Setelah tidak lama kemudian mereka berjalan keluar dari perusahaan dan di saat mereka ingin menuju ke mobilnya mata mereka berfokus pada tempat parkirnya tadi.


"Mana mobil kita?" tanya Yolanda yang melihat ke ayahnya itu.


"Tadi mobilnya parkir di sini," jawab Almost.


"Di sini adalah perusahaan besar, mana mungkin bisa hilang," ujar Veronica.


Almost yang merasa heran dirinya berjalan mendekati salah satu staf di perusahaan itu dengan bertanya," tuan, di mana mobilku? tadi aku parkir di depan sana."


"Tuan, mobilnya sudah di derek ke bengkel karena dua bannya terkena paku besar," jawab staf itu dengan sopan.


"De-derek? bengkel mana?"


"Ke arah timur sana."


"Apa, kenapa derek jauh kesana? di sini bukankah ada bengkel mobil juga?"tanya Almost.


"Ada, hanya saja mereka tidak terima lagi karena bengkel mereka sedang sibuk. jadi mobil Anda terpaksa di bawa ke arah timur."


"Di sini adalah barat, bagaimana kami bisa ke sana tanpa mobil."


"Hubungi taksi saja."


"Di tempat ini mana ada taksi yang lewat," ketus Almost yang mulai kesal.


"Anda bisa berjalan sejauh beberapa kilometer, dan bisa mendapatkan taksi di sana," jawab Staf yang kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


"Kenapa si.al sekali hari ini, sudah di tolak dan di permalukan, sekarang mobilku juga di derek begitu saja. dan kami malah harus berjalan kaki di bawah sinar terik matahari" batin Almost.


__ADS_2