
"Paman, Kimberly dan si kembar sangat penting bagiku, aku sangat ingin melakukan sesuatu untuk mereka," kata Willy.
"Tapi, Willy. yang kamu lakukan itu sudah lebih dari cukup selama ini, 5 tahun bukan jangka waktu yang pendek. kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri," kata paman Sean.
"Paman, aku sudah mengenal Kimberly cukup lama. walaupun dia menolakku aku tahu apa alasannya, itu karena dia belum bisa melupakan tuan Demon sehingga dia menolakku berkali-kali," jawab Willy.
"Willy, dengan profesimu tidak sulit bagimu untuk mencari pasangan, tapi kau malah membuang waktumu selama 5 tahun. walau kamu tahu dia masih belum menerimamu," ucap Holdie.
"Mungkin karena jodoh kami belum tiba, walaupun sudah bertemu akan tetapi jika belum berjodoh maka tidak bisa bersatu," ujar Willy.
"Willy, andaikan Kimberly masih menolak mu, apakah kamu masih akan tetap menunggu?" tanya paman Sean.
"Kalau saja Kimberly sudah bertemu dengan pria yang bisa menjaganya dan mencintainya dengan sepenuh hati, maka aku akan berhenti menunggu," jawab Willy..
"Terlalu setia juga akan membuatmu sakit," ujar paman Sean.
Beberapa menit kemudian Kimberly pulang bersama anak-anak dan Demon..
"Paman, aku pulang,"ucap Kimberly yang melangkah masuk sambil mengendong putranya, sementara Demon mengikuti dari belakangnya sambil mengendong Deberly.
"Kimberly akhirnya kau pu...." sahut paman Sean dan Holdie dengan terhenti karena melihat pria yang pulang bersamanya itu.
"De..demon?" sebut paman Sean yang merasa heran.
"Paman, mengenalku?" tanya Demon yang berdiri di hadapan mereka semua.
Paman Sean, Holdie dan Willy yang melihat kemunculan Demon langsung terdiam dan saling memandang.
"Willy, kamu sudah datang. maaf, kamu sudah menunggu lama," ucap Kimberly yang menurunkan putranya.
"Tidak masalah, yang penting kamu dan anak-anak baik-baik saja," jawab Willy dengan senyum paksa.
"Hallo, Paman Willy," sapa Debermon dengan ramah.
"Hai...Paman Willy," sapa Deberly sambil melambai tangan mungilnya.
"Hai...anak-anak," balas sapaan Willy dengan menatap senyum ke arah dua anak itu.
"Kimberly, Tuan Demon dia...." sebut Willy yang terhenti.
"Anda mengenalku?" tanya Demon.
"Kita adalah tetangga saat masih tinggal di komplek rumah mewah," jawab Willy dengan ramah.
"Ternyata begitu, tapi kenapa aku tidak mengenalmu?" tanya Demon.
"Kita belum pernah bertemu sebelumnya, hanya saja aku sering melihatmu," jelas Willy.
"Karena kalian semua sudah datang bagaimana kalau kita makan bersama malam ini!" ajak paman Sean
__ADS_1
"Hore....sudah mau makan, Kakek paman jangan lupa udang saos," teriak Deberly dengan kegirangan.
"Iya, kakek paman akan memasaknya untukmu,"jawab paman Sean dengan senyum.
"Debermon, Deberly, kalian pergilah bermain dulu di kamar!" ujar Kimberly yang ingin mengendong Deberly yang dalam gendongan Demon
"Tidak mau, aku mau bersama paman," jawab Deberly yang memeluk Demon dengan erat.
"Deberly, jangan menganggu paman terus!" ujar Kimberly.
"Kimberly, tidak apa-apa. aku akan menjaganya," ucap Demon dengan mengelus rambut putri kecilnya.
Istana api.
Diana yang sedang ingin mencari cara agar bisa menghapus Kimberly serta sepasang kembarnya, ia sedang memikirkan cara untuk mengulangi kegagalannya.
"Kimberly, jika sudah begini maka jangan salahkan aku!" gumam Diana yang mengeluarkan mata api.
Malam Hari makan bersama.
Sean, dan Holdie sedang menghidangkan lauk ke atas meja, terdapat empat jenis lauk dari udang saos, ikan dan dua jenis sayuran.
Saat makan malam Sean, Holdie, Willy dan Kimberly di buat binggung karena melihat Demon dan Debermon yang sedang mengupas kulit udang. bukannya makan mereka malah melihat tingkah ayah dan anak itu. mereka sama-sama menaroh udang yang sudah bersih tanpa kulit di mangkok kecil.
"Ini untukmu!" ucap Demon dengan Debermon dengan serentak.
Kimberly yang melihat apa yang di lakukan oleh Demon ia mengingat masa lalu yang sering di lakukan oleh suaminya itu.
"Kenapa kau mengupasnya untuk ku?" tanya Kimberly dengan mata berkaca-kaca
"Dengan begini kau akan lebih mudah untuk makan dan tidak perlu mengupasnya lagi," jawab Demon dengan senyum.
Sean dan Holdie merasa heran dan saling memandang dan kemudian memandang ke arah mereka berdua.
"Kenapa? apa kau tidak menyukainya?" tanya Demon.
"Apa kau selalu melakukan ini?" tanya Kimberly.
"Iya, aku tidak begitu menyukai udang saos, akan tetapi aku akan makan setiap hari dan setiap kali aku pasti akan mengupas dan mengumpulnya di mangkok.
"Paman sama dengan kakakku, setiap mama memasak udang saos kakakku pasti akan melakukan hal yang sama," ujar Deberly.
"Benarkah?" tanya Demon dengan senyum.
"Iya, Paman," jawab Deberly.
"Adik sangat menyukai udang saos sama dengan mamaku," jawab Debermon.
"Kimberly, apa kamu juga menyukainya?"tanya Demon.
__ADS_1
"Iya, ini makanan Favorit ku," jawab Kimberly.
"Kimberly, apakah kau pernah berbisik di telingaku?"
"Apa yang ku bisikan?"
"Kau mengatakan masih ingin makan masakanku, dan juga kau ingin aku mengupas udang untukmu," jawab Demon.
"Apakah bisikan itu hanya mimpi atau kenyataan?" tanya Demon dengan menatap dalam ke arah Kimberly.
"Aku juga tidak tahu, sepertinya sangat nyata," jawab Demon.
Willy yang melihat kedekatan mereka berdua hanya bisa terdiam dengan merasa cemburu dan sedih.
Tidak lama kemudian tiba-tiba rumah paman Sean mendapatkan serangan api dari jendela. semburan api memecahkan kaca jendela sehingga membakar sofa dan gorden.
Prang...prang...prang...
"Aaarrghh...."teriakan Holdie dan Deberly yang terkejut.
Mereka semua langsung bangkit dari tempat duduk dan menuju ke ruang tamu yang apinya mulai menjalar.
"Kebakaran...cepat ambil air!" teriak paman Sean yang merasa cemas.
Deberly yang ketakutan lagi-lagi menangis dengan histeris.
"Paman, jangan cemas! aku akan memadamkan apinya, bawa anak-anak masuk ke kamar!" kata Demon yang sudah tahu asal api itu.
"Holdie, Kimberly, cepat bawa mereka masuk ke kamar!" teriak paman Sean.
Demon mengunakan kekuatannya untuk memadamkan api yang membakar sofa dan gorden. hanya dalam beberapa detik api berhasil di padamkan oleh Demon.
Demon melangkah keluar dengan di ikuti oleh paman Sean dan Willy.
Saat keluar mereka melihat beberapa iblis api yang berdiri di atas udara bersama Diana.
"Raja," sapa anggota iblis dengan serentak.
"Hei...kalian, kenapa berani sekali membakar rumahku? Diana, apa kami menyinggungmu sehingga ingin menghancurkan tempat tinggalku?" tanya paman Sean dengan kesal.
"Demon, kenapa kau bisa berada di sini?"tanya Diana.
"Kenapa aku tidak boleh berada di sini?"tanya Demon dengan kesal dan menyerang ke semua anggota Diana sehingga mereka lenyap menjadi abu.
"Demon, kau...." ucap Diana yang terhenti.
"Katakan padaku kenapa melakukan semua ini?" tanya Demon yang rambutnya berubah menjadi putih.
Kimberly yang melangkah keluar dari rumah merasa kaget dengan warna rambut suaminya itu.
__ADS_1