
"Siapa yang begitu berani menindasmu?"tanya Demon dengan menahan emosi.
"Mereka bertiga," jawab Kimberly yang menunjukan ke arah keluarga Almost.
"Apa yang kalian lakukan terhadap istriku?" tanya Raymond dengan menghampiri Almost dan Veronica yang sedang berlutut karena kakinya yang lemas saat melihat kemunculan Raymond.
"Raymond, sebenarnya ini hanya salah paham saja," kata Almost yang berusaha berdiri bersama istrinya.
Yolanda yang melihat Raymond ia mengambil kesempatan untuk menghampirinya.
"Raymond, kita adalah sekeluarga, adikku hanya merajuk saja. tidak ada apa-apa. dia masih muda dan terlalu kekanakan," kata Yolanda yang memegang tangan Raymond.
"Kekanakan? asal kau tahu dia adalah istriku walau dia kekanakan tapi aku tetap menyayanginya,"jawab Raymond dengan tatapan tajam dan menepis tangan wanita itu
"Dasar wanita gatal, berani sekali dia ingin mengoda suamiku di depan mataku," gumam Kimberly yang melepaskan sebelah sepatu tumit yang dia pakai dan melempar ke arah kakaknya itu.
Bruk...
Lemparan sepatunya yang tepat mengenai dahi Yolanda.
"Aaarrghhh..." jeritan Yolanda yang sedang kesakitan.
"Kalian semua sangat tidak tahu malu, beda di depan ku dan beda lagi di depan Raymond," ketus Kimberly dengan kesal.
"Kimberly, turunlah dulu di sana sangat bahaya! ingat kataku kau akan terluka jika kau jatuh dari ketinggian!" kata Demon yang khawatir karena di dalam tubuh istrinya tanpa mutiara api.
"Raymond, hidupku tidak berguna lagi, papa, mama dan kakakku semua bersikap jahat padaku. mereka semua tadi menghina ku. aku benar-benar gagal menjadi seorang anak," kata Kimberly dengan menangis tanpa berhenti.
"Mereka menghina mu? apa yang mereka katakan?" tanya Demon dengan menahan emosi.
"Mamaku mengatakan aku anak sial sama seperti papaku begitu juga, dan mereka juga menamparku, wajahku sakit sekali. kakakku juga menghinaku mengodamu demi hartamu. hatiku sangat sakit sekali," jawab Kimberly sambil menepuk dadanya.
"Almost, Veronica, kalian berani sekali menamparnya, apa kalian sudah lupa siapa suaminya? aku yang sebagai suaminya saja tidak tega untuk menamparnya. tapi kalian berani sekali menyakitinya," bentak Demon yang mendorong pasangan suami istri itu sehingga terlempar jauh dan terhempas ke atas tanah.
Brugh...
"Aaarrghh..."
Brugh...
"Aaarrghh..."
"Pa, Ma," teriak Yolanda.
"Raymond, semua ini hanya salah paham, papa dan mama adalah mertuamu. jangan sakiti mereka!" kata Yolanda dengan memohon dan memegang tangan Demon.
"Siapa yang mengatakan jika mereka adalah mertuaku? aku tidak mengakui kalian semua. dan jangan berharap aku akan berhati lembut pada kalian," bentak Demon dan mendorong Yolanda sehingga terduduk ke tanah.
Brugh..
__ADS_1
"Aaarrghh..."jeritan Yolanda yang kesakitan dan di saat dirinya terduduk di atas tanah tiba-tiba saja kepalanya lagi-lagi terkena lemparan sepatu tumit milik Kimberly.
Bruk.
"Aaughk," jerit Yolanda yang merasa kesakitan.
"Wanita sialan, kenapa kau melemparku terus?" ketus Yolanda.
"Karena tanganmu gatal," jawab Kimberly dengan kesal.
"Kimberly, jangan berada di sana lagi! cepatlah turun!" kata paman Sean.
"Kimberly, mari kita pulang!" ajak Demon.
"Aku tidak mau, tadi mereka menyuruhku mati saja, nanti kalau aku mati tolong kirim mereka menemuiku di alam sana!" jawab Kimberly.
"Tanpa izin dari ku kau tidak boleh melakukan tindakan bodoh," kata Demon.
"Tapi wajahku masih sakit, mereka menamparnya dengan sangat kuat," ujar Kimberly.
"Turunlah! biar aku melihat wajahmu!" kata Demon.
"Tidak mau! tamparan mereka sudah meninggalkan bekas merah, wajahku sangat jelek dan sakitnya menusuk jantung," jawab Kimberly dengan sengaja.
"Lolipop, turunlah dulu! kami hanya bercanda dengan mu. jangan di anggap benar!" bujuk Almost yang berusaha ingin menenangkan putri bungsunya itu.
"Kimberly, apa wajahmu masih sakit?" tanya Demon.
Paman Sean dan Holdie yang paham dengan tingkah Kimberly mereka pun hanya duduk diam di halaman itu.
"Lolipop, kami hanya marah sesaat bukan berarti kami membencimu," bujuk Veronica yang mulai pusing akibat tensi.
"Aarrghh," jeritan Veronica yang hampir tumbang dan langsung di tahan oleh suaminya.
" Veronica, bagaimana dengan mu?"tanya Almost dengan merasa cemas
"Mungkin darahku tinggi lagi," jawab Veronica.
"Lolipop, mamamu sedang tidak sehat darahnya tinggi lagi," kata Almost yang sedang memandang ke arah genteng sana.
"Bawa saja ke rumah duka!" jawab Kimberly dengan ceplas ceplos.
"Kau...."ucap Veronica dengan merasa kesal.
"Kimberly, Veronica hanya sakit bukan meninggal," kata paman Sean.
"Kalau begitu bawa saja ke kamar mayat," jawab Kimberly dengan asal-asalan.
"Bicara sembarangan," ketus Veronica sambil menahan pusing di kepalanya.
__ADS_1
"Kimberly, dia belum meninggal hanya tidak sehat," ujar Holdie.
" Kalau begitu masukkan saja ke rumah sakit jiwa," jawab Kimberly.
"Kenapa masuk ke rumah sakit jiwa?" tanya paman Sean dan Holdie dengan serentak.
"Karena orang yang meninggalkan anaknya adalah orang yang tidak waras, jadi rumah sakit jiwa sangat cocok untuk mereka bertiga," jawab Kimberly dengan terus terang.
"Lolipop, kau sangat keterlaluan," bentak Veronica
"Jangan marah lagi kalau darahmu sudah tinggi, nanti kalau kamu meninggal maka suamimu ini akan menikah baru lagi. dan Yolanda akan mendapatkan mama tiri, di luar sana banyak wanita yang masih menunggu dudamu," jawab Kimberly dengan ceplas ceplos.
"Diaaaam," bentak Veronica dengan emosi tinggi.
"Lolipop, jangan bicara sembarangan lagi!" bentak Almost
"Papaku yang baik, jangan cemas kalau menjadi duda, karena di luar sana banyak wanita cantik dan baik. tidak seperti istrimu itu yang suka melahirkan anak dan kemudian di buang. jadi walau dia tidak bisa melewati malam ini juga tidak apa-apa," kata Kimberly dengan sengaja.
"Anak sialaaaaan," teriak Veronica yang akhirnya pingsan.
"Veronica," teriak Almost.
"Mama," panggil Yolanda.
"Cepat bawa ke rumah sakit dulu!" kata Almost dengan mengendong istrinya dengan melangkah menuju ke mobilnya
"Kimberly, kau sangat hebat sehingga berhasil membuat wanita itu pingsan," ucap paman Sean.
"Kimberly, mereka sudah pergi, kamu sudah bisa turun sekarang!" kata paman Sean.
"Aku masih mau di sini," jawab Kimberly.
"Kimberly, apa kamu masih marah padaku?"tanya Demon.
"Iya, aku tidak mau pulang," jawab Kimbery
"Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. apakah kau tidak ingin mencicipinya?" tanya Demon dengan senyum.
"Tidak mau, aku baru makan."
"Kimberly, Jenitca adalah utusan ku untuk menjaga keselamatanmu, oleh karena itu dia datang menjumpaiku. kami tidak ada hubungan apapun," jelas Demon.
"Aku tidak butuh! baru datang saja kalian sudah begitu akrab, bagaimana kalau dia keluar masuk rumah kita nantinya."
"Kami tidak akrab sama sekali, dia menanyakan apa kesukaan mu dan apa yang kamu tidak suka. kamu adalah majikannya, oleh sebab itu dia ingin lebih memahamimu," jelas Demon.
"Aku tidak butuh! aku bukan anak kecil yang harus di jaga," jawab Kimberly dengan kesal.
" Kenapa bukan Teddy saja yang melindungiku?"
__ADS_1
"Dia ada tugas lain," jawab Demon.