
"Aku tahu maksudmu, kalau kau mengunakan caramu itu aku tidak mau bicara lagi denganmu!" kata Kimberly dengan tegas.
Raymond melangkah menghampiri pohon itu.
"Turunlah! aku akan menyambutmu!" ujar Raymond yang membuka ke dua tangannya.
"Aku masih belum puas di sini!" kata Kimberly dengan tegas.
"Kimberly, Raymond sudah menuruti permintaanmu dengan mengumpulkan seratus ekor laba-laba, apa lagi yang kau inginkan?"tanya paman Sean.
"Laba-laba itu ingin ku masak jadikan sop untuk siluman laba-laba itu," jawab Kimberly.
"Iya...ya...di saat kau sedang marah semua kau anggap siluman," ketus paman Sean.
Di saat Kimberly sedang memeluk tiang lampu, tiba-tiba saja ia melihat ada bayangan yang di sampingnya.
"Han-hantuuuu!" teriak Kimberly yang melepaskan pegangannya dan akhirnya dia pun~✓
"Aaarrgghh....!" teriakan Kimberly yang terjatuh dari pohon.
Bruk...
Hentakan tubuh Kimberly yang terhempas ke lantai
"Kimberly...." teriak paman Sean dan Holdie dengan serentak yang berlari menghampiri gadis itu.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Holdie.
"Apa kepala mu terbentur?" tanya paman Sean.
Di saat Kimberly terjatuh Raymond bukannya merasa cemas malah hanya tertawa lucu, karena ia tahu jatuh dari ketinggian tidak akan bisa melukai istrinya itu.
Wilson yang melihat ekspresi bosnya itu tentu merasa heran.
"Aneh! nyonya jatuh dari ketinggian kenapa tuan hanya tertawa bukan khawatir?" batin Wilson.
"Aku tidak apa-apa!" jawab Kimberly yang bangkit sambil merasa kesal.
"Woi....dasar hantu kurang ajar, cepat nampakan dirimu sekarang juga!" teriak Kimberly yang melihat ke atas pohon sana.
"Kimberly, apa kau sudah gila ya? apa kepalamu terbentur?" tanya Holdie.
"Ada bayangan perempuan di atas sana yang tiba-tiba muncul, karena dia maka aku terjatuh!" jawab Kimberly dengan sambil menunjuk ke atas pohon itu.
"Hantu perempuan yang kami lihat itu hanya dirimu saja, tidak ada hantu yang lain," kata paman Sean.
"Turun sekarang juga! jika tidak aku yang akan naik ke atas sana membuat perhitungan denganmu!" bentak Kimberly dengan kesal dan ingin memanjat pohon tersebut.
"Hei...hei sudah!" kata paman Sean yang menahan Kimberly.
__ADS_1
"Kenapa paman menahan ku?" tanya Kimberly.
"Apa kau masih mengenal kami?" tanya paman Sean yang ingin memastikan.
"Tidak mungkin kau tidak merasa sakit?" tanya Holdie dengan heran yang melihat tubuh temannya itu yang tanpa luka.
"Aku masih kenal dengan kalian. otakku masih utuh!" jawab Kimberly.
"Baguslah kalau otakmu masih utuh, paman hanya takut kau akan meninggal di usia muda," ujar paman Sean dengan sengaja.
"Aku tidak akan begitu cepat pergi karena masih harus mengantar paman ke dunia lain. jadi aku harus hidup lebih lama!" jawab Kimberly dengan tidak mau kalah.
"Kau...." ucap paman Sean yang menarik telinga Kimberly karena merasa kesal.
"Sakit! kenapa paman sama dengan hantu wanita itu sama-sama menjengkelkan, apakah dia adalah istri paman ya?" teriak Kimberly yang melepaskan tangan paman Sean
"Kenapa kau suka sekali bicara sembarangan!" ketus paman Sean dengan kesal.
"Paman, jangan marah-marah terus, nanti darah mu naik, kolestrol mu naik, sementara Holdie belum menikah, nanti kalau paman koma siapa yang menghadiri pesta pernikahan Holdie!" kata Kimberly yang ceplas ceplos.
"Apa kau tidak bisa diam? kenapa kau suka sekali bicara sembarangan!" bentak paman Sean dengan kesal.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Kimberly yang tidak mau kalah.
Raymond menghampiri Kimberly dan kemudian langsung mengangkat tubuh istrinya itu.
"Jatuh dari ketinggian juga bukan pertama kali bagimu, bukan!" jawab Raymond dengan senyum.
"Kau jahat! saat melihat aku jatuh kau malah tertawa, kau memang sudah berubah, bukan yang dulu!" bentak Kimberly yang menangis karena kesal.
"Hahahaha...apa istriku sedang marah?" tanya Raymond yang sedang mengendong istrinya.
"Aku marah sekali!" jawab Kimberly.
"Baiklah! kita pulang ke rumah dan aku akan membujukmu gadis kecilku ini!" jawab Raymond dengan senyum sambil mengecup dahinya Kimberly dan melangkah menuju ke mobilnya.
"Aku bukan anak kecil lagi, jangan mengatakan aku gadis kecil," bentak Kimberly dengan kesal.
"Raymond sangat bersabar menghadapi gadis ini, mudah-mudahan saja dia akan bersabar untuk selamanya!" ucap paman Sean.
"Pa, yang benar adalah semoga panjang umurnya karena butuh kesabaran yang cukup tinggi untuk membujuk temanku itu," kata Holdie.
"Hari ini dia masuk ke bawah kolong tempat tidur, dan duduk di pohon sambil memeluk tiang, tidak tahu ulah apa lagi yang akan dia lakukan jika saja mereka bertengkar lagi!' ujar paman Sean.
"Terserah dia, Pa. asalkan dia tidak membakar rumah orang saja," jawab Holdie.
Dua jam kemudian.
Mansion Raymond.
__ADS_1
Setelah pulang ke rumah Kimberly menangis selama dua jam tanpa berhenti, Raymond yang sedang memangkunya sambil memeluk dan membujuknya dengan penuh kesabaran.
"Sudah jangan menangis lagi! mata mu sudah bengkak," bujuk Raymond yang memeluk istrinya dengan erat dan sambil mengelus ujung kepalanya.
"Kenapa kau jahat padaku? aku juga tidak memintamu untuk menjemputku pulang ke sini," kata Kimberly yang mengusap air mata sambil menangis.
"Kau adalah istriku, mana mungkin aku tidak menjemputmu pulang, aku tidak akan mengizinkan istriku tidur di luar. istriku hanya boleh tidur di sampingku," bujuk Raymond yang mengusap air mata Kimberly sambil mencium wajahnya.
"Aku hanya mengusikmu saja! dan aku tidak berniat untuk menikahinya sama sekali!" ucap Raymond dengan mencium bibirnya Kimberly.
"Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Kimberly yang sedang sesenggukan
"Tidak!" jawab Raymond dengan senyum.
"Dia sangat cantik, tidak ada pria yang bisa lepas darinya!"
"Pria lain aku tidak tahu, tapi aku bukan mereka. aku sudah memilikimu ini sudah cukup bagiku," ucap Raymond mengusap wajah istrinya.
"Jangan menangis lagi ya! aku berjanji padamu tidak akan membuatmu kecewa ataupun menyakitimu." ucap Raymond.
"Tapi hari ini kau sudah melakukannya." ketus Kimberly.
"Ada yang ingin ku berikan padamu!" kata Raymond yanb memberikan box kepada istrinya.
"Apa ini?"
"Bukalah!"
Kimberly membuka hadiah yang di berikan oleh suaminya itu, saat dia melihat isi dalamnya ia terdiam sesaat.
"Kenapa, apa kau tidak menyukainya?" tanya Raymond mengusapkan air mata Kimberly.
"Ini pasti mahalkan? set perhiasan ini senilai miliayaran dollar," ucap Kimberly yang mata sudah bengkak.
"Untukmu ini tidak seberapa!"jawab Raymond dengan senyum.
"Kenapa memberiku hadiah?"
"Karena kau adalah istriku jadi aku bisa memberikan hadiah kapanpun ku mau," jawab Raymond dengan senyum.
"Sudah! jangan menangis lagi! aku yang bersalah karena bercanda denganmu," bujuk Raymond yang memeluk istrinya dengan erat.
"Ada sesuatu di sana!" kata Kimberly yang menunjuk ke arah pojokan ruangan itu.
Raymond yang telah sadar kemunculan bayangan itu dirinya hanya terdiam.
"Tidak ada apapun di sana, mungkin kamu hanya salah lihat!" ujar Raymond.
"Bayangan itu sama seperti tadi, aku tidak mungkin salah melihatnya, apa dia adalah siluman lain yang mau menjadi istri ke dua mu juga?" tanya Kimberly yang sedang sesenggukan.
__ADS_1