
Raymond yang mendengar jawaban mereka bertiga telah mengerti di mana keberadaan istrinya itu.
"Dahi kalian bengkak!" kata Raymond yang melihat kondisi mereka sedang terluka di bagian dahi akibat benturan di sepanjang jalan.
"Kami tidak apa-apa!" jawab paman Sean yang masih dalam keadaan oyong.
"Wilson, kalian cepat pergi ke rumah sakit! periksa seluruh tubuh kalian! jangan sampai ada luka dalam!" perintah Raymond.
"Kami pulang ke rumah saja!" pinta paman Sean.
"Kami tidak luka parah, hanya luaran saja," lanjut Holdie.
"Kalian harus di periksa untuk memastikan. jika ada luka dalam maka harus segera di rawat. ini tidak bisa di anggap remeh!" kata Raymond.
"Kalian cepatlah pergi!" titah Raymond.
"Baik Tuan," jawab Wilson.
"Paman Sean, Nona Holdie mari kita pergi!" ajak Wilson.
"Iya, kami pergi. tapi...!" kata paman Sean yang melihat ke arah bawah mobil sana
"Tidak apa-apa! aku bisa mengatasinya!" jawab Raymond yang mengerti maksud paman Sean.
"Wilson, gunakan saja mobilku! ini kuncinya!" perintah Raymond yang menyerahkan kunci kepada asistennya itu.
"Tuan, bagaimana dengan mobil yang rusak itu?" tanya Wilson.
"Sudah hancur dan tidak berguna lagi. walau di servis hanya membuang waktu dan uang. biarkan saja di sini tidak usah di bawa lagi!" jawab Raymond.
"Tujuh puluh lima ribu dollar terbuang begitu saja," ucap paman Sean dengan mengeleng kepalanya.
Tidak lama kemudian mereka bertiga pergi dan sisalah Raymond yang harus menghadapi istrinya yang sedang bersembunyi di bawah mobil yang sedang parkir di sana.
"Kimberly, keluar sendiri atau aku yang akan menarikmu keluar?" tanya Raymond dengan suara tegas.
"Aku sedang menghitung semut!" jawab Kimberly yang masih sedang bersembunyi di bawah sana.
"Kimberly, jangan membuatku marah padamu di tempat ini, keluar sekarang atau aku yang akan memindahkan mobil ini!" kecam Raymond yang sedang berdiri di depan mobil tersebut.
"Apa kau akan memukulku?"
"Apa kau sudah tahu di mana letaknya kesalahan mu?"
"Aku tahu!" jawab Kimberly dengan suara pelan.
"Kalau sudah tahu maka kau harus mempertanggung jawabkan atas semua yang sudah kau lakukan!"
"Aku harus melakukan apa untuk menebusnya?" tanya Kimberly yang sedang bertelungkup.
"Keluar dan terima hukuman!"
"Apa itu sakit?" tanya Kimberly yang hampir menangis.
__ADS_1
"Aku bersalah telah merusakkan mobilmu, aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi dan tidak akan menyentuh mobilmu lagi," ucap Kimberly.
"Tadi pagi kau sudah berjanji padaku, Kimberly. tapi kau gagal melakukannya!"
"Karena aku berjanji di pagi hari, jadi sudah tidak berlaku di malam hari!" jawab Kimberly.
"Iya...iya...kau pintar sekali, keluar sekarang juga atau aku yang masuk ke bawah sana dan menarikmu keluar!" kecam Raymond dengan menahan emosi
"Nadanya sedang kesal, selama ini aku belum pernah mendengar dia mengunakan nada tinggi bicara denganku. gawat, dia adalah iblis, aku pasti mati di tangannya. sudahlah, kalaupun aku harus mati di tangannya juga tidak apa-apa. memang salahku!"
batin Kimberly.
Setelah beberapa saat kemudian Kimberly keluar dari bawah mobil dan berdiri di depan suaminya sambil menunduk. ia tidak berani menatap mata pria itu yang sedang menatapnya dengan tajam.
Raymond menarik lengan Kimberly dan menghilang dari sana.
Mansion Raymond.
PLAK...
"Aaarrghh...." teriakan Kimberly yang menembus keluar kamar.
PLAK...
"Sakit..."
PLAK...
"Hentikan...."
PLAK...
PLAK...
"Sakit...."
PLAK...
"Jangan...."
PLAK...
"Aku mohon jangan pukul lagi! sakit sekali!" tangisan Kimberly yang terisak
"Malam ini jika aku tidak mendidikmu mau sampai kapan kau baru tahu apa arti kata bahaya itu!" bentak Raymond sambil memukul istrinya.
PLAK...
PLAK...
PLAK...
"Sakit, jangan pukul lagi! aku tidak akan merusakan mobilmu lagi!" tangsian Kimberly yang sedang kesakitan.
__ADS_1
PLAK...
PLAK...
"Tanganmu ini nakal sekali dan sifatmu ini juga nakal sekali, sehingga tidak bisa membedakan yang mana benar dan yang mana salah," bentak Raymond dengan kesal.
PLAK...
PLAK...
"Sakit sekali! aku mohon jangan pukul lagi!" tangisan Kimberly dengan tanpa berhenti.
PLAK...
PLAK...
Pukulan demi pukulan yang di lakukan oleh Raymond di dalam kamar sehingga membuat gadis itu menangis dengan histeris.
Tidak lama kemudian Raymond keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke dapur. sementara dari dalam kamar masih terdengar tangisan Kimberly yang sedang ketakutan.
Raymond sedang memasak setelah menghukum istrinya itu selama beberapa menit.
Ia memasak bubur dengan bahan-bahan lainnya dan mencampur udang yang adalah makanan kesukaan istrinya. di saat mengaduk bubur mata Raymond sedang berkaca-kaca. sehingga dia menghentikan tangannya dan terdiam.
Walau dirinya merasa sangat emosi akan tetapi di lubuk hati yang dalam dia merasa lebih sakit di hatinya karena harus menghukum istrinya itu.
Kericuhan yang di lakukan oleh Kimberly sangat membahayakan nyawanya sendiri, Raymond yang merasa khawatir dan cemas terhadap istrinya, merasa emosi sehingga memukul istrinya itu
Kimberly yang sedang berada di kamar duduk di kasur dan menangis tanpa berhenti. ia melihat telapak tangan kanannya merah akibat mendapat pukulan dari suaminya itu.
"Dia seperti guru sekolah yang menghukum murid, sakit sekali telapak tanganku," ucap Kimberly.
Saat mendengar langkah suaminya Kimberly yang merasa takut langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.
"Apa dia akan pukul aku lagi!" gumam Kimberly yang ketakutan.
Klek...
Kimberly yang melihat sepasang kaki suaminya yang menginjak masuk ke kamar gemetaran di seluruh tubuhnya. hanya suaminya mampu membuatnya ketakutan sehingga bersembunyi.
"Kimberly, jangan bersembunyi lagi! keluarlah!" panggil Raymond yang meletakkan bubur yang dia masak untuk istri tercintanya itu.
"Kimberly, keluar! jangan bersembunyi lagi!"panggil Raymond dengan suara lembut.
Kimberly sedang menangis dan memegang telapak tangannya yang masih merasa sakit itu, dan sedang bertelungkup di bawah kasur.
"Kimberly... keluar dari sana!" titah Raymond yang membungkuk dan melihat istrinya yang sedang gemetaran.
"Raymond, jangan pukul lagi! sebagai ganti semua kartu kredit mu aku kembali saja padamu. semua isi uang itu cukup untuk kamu membeli mobil baru lagi. kemarin aku mengunakan uang itu untuk membeli cemilan akan ku kembalikan padamu, aku tidak akan meminta apa-apa lagi padamu. semua kartu itu ada di lemari. aku berjanji tidak akan merusakan mobilmu lagi. aku tahu nilai mobil itu juga tidak murah makanya kau sangat emosi. ini salahku, aku tidak seharusnya mengejar dia hanya karena lima puluh dollar," ucap Kimberly yang sedang sesengukan.
"Gadis bodoh, apa dia mengira aku marah dan memukul telapak tangannya karena mobilku yang rusak, sehingga dia begitu ketakutan!" batin Raymond.
"Kimberly, apa kau tahu kenapa aku marah padamu?"
__ADS_1
"Karena aku sudah merusakan mobilmu!" jawab Kimberly sesenggukan.