Mystery

Mystery
Ulah-Ulah Kimberly


__ADS_3

"Kimberly, di sana sangat bahaya, cepat turun!" teriak Holdie.


"Kimberly, jangan melakukan hal bodoh karena mereka, kau tidak sendirian kau masih ada kami dan suamimu," ucap paman Sean.


"Kau ingin mati karena merasa bersalah pada kami ya? maka kau sudah salah. walau kau mati kami juga tidak akan meminta maaf padamu," bentak Veronica.


"Setelah melakukan kesalahan baru mau mati, kami tidak akan memohon padamu. lakukan saja!" teriak Yolanda.


"Lolipop, percuma walau kau ingin terjun dari sana, karena kami tidak akan memaafkanmu," ketus Almost.


"Kalian ini sedang bicara apa? yang di atas sana itu adalah anak yang kamu kandung selama sembilan bulan. apa hati kalian terbuat dari bin*tang," bentak paman Sean dengan menatap kesal ke arah Almost dan Veronica.


"Paman, tidak usah marah dengan mereka, lagi pula aku ingin bunuh diri bukan karena merasa bersalah terhadap mereka," kata Kimberly yang sedang duduk di atas genteng.


"Lalu, untuk apa kau bunuh diri?" tanya paman Sean.


"Mereka ingin menangkapku untuk mengancam Raymond, aku tidak begitu bodoh harus membiarkan mereka berhasil," jawab Kimberly.


"Kimberly, walaupun begitu kau juga tidak perlu bunuh diri. tidak ada yang bisa membawa mu pergi. di sini masih ada paman dan Holdie," ujar paman Sean


"Kimberly, betul kata papa, kita bertiga dan mereka juga bertiga. jadi kita masih bisa melawan mereka," ujar Holdie.


"Tidak usah kau berpura-pura, kalau ingin melompat maka lakukan saja!" bentak Veronica.


Mendengar ucapan Veronica Kimberly langsung menangis histeris tanpa mengeluarkan air mata.


"Paman, Holdie, di dunia ini hanya kalian berdua dan Raymond yang baik padaku, hidupku sudah cukup bahagia untuk sekarang. tapi aku sangat kecewa dengan mereka bertiga, kami sedarah dan semarga tapi seperti bermusuhan saja, banyak anak gadis yang mendapat kasih sayang dari orang tua. sementara aku di buang dan di caci maki. hidupku tidak berarti lagi," tangisan Kimberly sambil berteriak histeris.


"Kimberly, kau jangan melakukan hal bodoh seperti ini! bagaimana dengan suamimu jika kau ada apa-apa?" bujuk paman Sean.


"Biarkan saja dia mati!" bentak Veronica.


"Apa kau bisa diam," teriak Sean yang merasa kesal terhadap Veronica.


"Paman, sebelum aku mati tolong sampaikan pesanku kepada Raymond, kalau aku mati bukan karena salahnya tapi karena tiga makhluk asing ini, mereka menyuruh ku mati maka aku pun dengar saja. dan pesan Raymond untuk mencari mereka buat perhitungan, setelah itu bawa mereka ke depan makam ku. kalau tidak, aku yang akan menghantui mereka setiap malam," kata Kimberly sambil berpura-pura menangis.

__ADS_1


"Kimberly, baiklah kami turuti permintaanmu, apa kamu masih ada pesan lain? misalnya mau apakan mereka sebelum mereka tewas?" tanya Holdie yang sudah paham dengan ulah sahabatnya itu


"Aku mau kepala mereka bertiga," jawab Kimberly.


"Hei...kau yang mau mati kenapa melibatkan kami?" tanya Veronica.


"Veronica, kejadian ini karena kalian yang menyuruhnya, Kimberly hanya menuruti permintaan mu saja, dan kalian jangan lupa juga, bahwa Raymond sangat menyayangi gadis ini dan memanjakan dia. kalau saja Raymond mengetahui penyebab dia bunuh diri aku yakin dia pasti akan membuat kalian tidur dalam penjara," kata Sean dengan sengaja menakuti mereka bertiga.


"Paman, bukan seperti itu, dulu ada yang menyinggung ku saja tubuh orang itu sudah terbagi menjadi lima bagian. dan aku yakin jika aku mati maka mereka bertiga pasti akan mengalami hal yang sama," kata Kimberly dengan asal-asalan.


Mendengar ucapan Kimberly Almost, Veronica dan Yolanda merasa cemas, keringat dingin serta lemas di kaki mereka yang hampir terduduk.


"Aku yang mau bunuh diri kenapa kalian yang lemas? apakah karena aku belum melompat? kalau begitu aku akan melompat sekarang!" ujar Kimberly yang ingin menurun kakinya


"TIDAK...TIDAK...JANGAN...JANGAN...JANGAN MELAKUKANNYA!"teriak Almost dan Veronica dengan serentak dan saling memapah karena kaki mereka yang sedang bergetar.


" Kenapa jangan melakukannya? aku sudah menuruti permintaan kalian, kenapa kalian masih tidak puas?"


"Bukan itu maksud kami, Lolipop, ini hanya salah paham saja, kami hanya bercanda dengan mu. jangan melakukannya dan cepat turun dari sana!" jawab Almost.


"Apa kamu salah makan obat ya? tadinya ingin aku mati, dan sekarang malah ingin aku hidup. apa karena kalian sudah tua dan sudah menjadi pikun?"


"Nyonya Veronica, kamu semakin lama semakin pikun, dan bicaramu juga tidak ada yang benar. kamu itu sudah tua dan tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan raja neraka, tapi kenapa mulutmu masih saja tidak bisa di jaga?"ucap Kimberly dengan sengaja.


"Aku tidak ingin buang waktu dengan kalian, aku ingin melompat saja!" kata Kimberly yang lagi-lagi ingin menurunkan kakinya


"TIDAK...TIDAK...JANGAN...JANGAN...JANGAN MELAKUKANNYA!"teriak Almost dan Veronica dengan merasa cemas.


"Kenapa kalian melarangku? apa kalian sayang padaku?"tanya Kimberly.


"Sayang tentu saja sayang, kau adalah putri bungsu kami mana mungkin kami tidak sayang," jawab Almost sambil lap keringatnya.


"Benar kata papamu, mama juga sangat padamu. cepat turunlah! di sana sangat bahaya!" bujuk Veronica dengan gemetaran.


"Kalau begitu tidak apa-apa, kalau aku sudah meninggal maka setiap malam aku akan menemui kalian dan tidur di samping kalian. kalau saja Raymond lebih cepat bertindak maka kalian akan lebih cepat menemuiku di alam sana. dan kita berkumpul lagi," kata Kimberly dengan sengaja.

__ADS_1


"Paman, tolong sampaikan ke Raymond agar cepat memotong leher mereka dan bawa kepala mereka ke depan makamku, dengan begitu maka kami akan cepat bertemu," ujar Kimberly.


"Baiklah paman sudah mengerti, kalau begitu kau cepatlah melompat! ini sudah malam!" jawab Sean dengan sengaja.


"Jangan melakukannya, Lolipop!" pinta Almost yang merasa cemas.


"Sean, apa kau sudah tidak waras, kenapa kau malah mendukungnya," bentak Almost.


"Kalian yang menyuruh dia mati tadi bukan aku!" jawab Sean.


"Tuan Almost, hartamu sudah ku kuras hingga habis, apa kau tidak membenciku?" tanya Kimberly.


"Tidak membencimu, kau adalah putriku mana mungkin aku membencimu. cepat turunlah dari sana!" jawab Almost yang sedang keringat dingin.


"Tapi kalian datang memang ingin membuat perhitungan ku, wajah ku masih sakit dengan tamparan dari kalian," ujar Kimberly yang sambil menangis dengan histeris.


"Maafkan kami, Lolipop. biarkan kami oles obat untukmu!" ucap Veronica dengan berusaha membujuk putri bungsunya itu.


"Tidak mau! hatiku sudah sakit, aku mau mati saja!" jawab Kimberly dengan sengaja dan ingin menurunkan kakinya.


Almost yang merasa cemas langsung menghampiri di bawah sana dengan terbuka ke dua tangannya.


"Lolipop, jangan melakukannya! kita adalah sekeluarga. turunlah jangan melompat!" pinta Almost.


"Gawat, jika saja dia mati sama saja kami harus ikut mati dengannya, Raymond tidak akan tinggal diam jika ada terjadi sesuatu padanya," batin Veronica.


Tidak lama kemudian Demon muncul di halaman itu. semua orang yang sedang fokus memandang ke arah Kimberly tidak menyadari jika Demon muncul di belakang mereka.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Demon yang mengagetkan Almost dan istrinya sehingga kaki mereka lemas dan berlutut di atas tanah.


"Kenapa kalian berlutut?" tanya paman Sean dan Holdie dengan serentak..


"Raymond, kenapa muncul di sini?" tanya Kimberly


"Aku datang untuk membawamu pulang," jawab Raymond.

__ADS_1


"Kau sangat keterlaluan, istrimu di sini di tindas oleh mereka, dan kau baru muncul sekarang," tangisan Kimberly dengan terisak.


Mendengar perkataan Kimberly dan melihat kemunculan Demon di sana keluarga Almost ketakutan bagaikan di ujung tanduk.


__ADS_2