
Makhluk yang mereka lihat adalah yang selama ini berada di dalam laut, iblis air yang memiliki kekuatan air yang selalu saja menelan korban di lautan sana. iblis itu seperti manusia akan tetapi ia berwarna hitam di seluruh tubuhnya. ia menghampiri Yolanda dan kemudian mencengkeram leher wanita itu dan mengangkatnya. Yolanda yang melihat Makhluk yang ada di depan matanya, telah sadar hidupnya sudah di ujung tanduk.
Makhluk itu lalu membuka mulutnya besar-besar dan menelan wanita itu dengan kondisi utuh tanpa di potong ataupun di hancurkan.
Tentu saja pemandangan ini membuat tiga pria itu ketakutan sehingga gemetar.
Setelah melahap mangsanya Makhluk itu kembali ke dalam lautan dan menghilang.
"A-apa itu?"
"Kenapa bisa ada Makhluk aneh di dalam sana?"
"Mari kita pergi! aku menjadi merinding."
Mereka yang ketakutan segera pergi dengan mobil mereka. salah satunya mengirim rekaman ke nomor Almost.
Keesokan harinya.
Rumah sakit tempat Veronica di rawat.
Di pagi itu Veronica baru membuka matanya dan melihat suaminya sedang duduk di kursi dengan termenung dan wajahnya yang pucat. dirinya sudah mengetahui nasib putrinya itu sudah berakhir
"Almost," panggil Veronica yang menatap ke arah suaminya.
"Veronica, kau sudah bangun, bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Almost.
"Aku merasa agak baikkan, di mana Yolanda?" tanya Veronica.
"Dia...dia...," jawab Almost dengan ragu ingin mengatakannya.
"Ada apa Almost?" tanya Veronica yang mulai khawatir.
"Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakannya atau tidak? kalau saja aku mengatakannya Veronica pasti tidak bisa menerima kenyataan ini. tapi jika aku tidak mengatakannya aku harus mengunakan alasan apa untuk membohonginya," batin Almost.
"Almost, katakan padaku di mana putri kita? dia tidak ada apa-apa, kan?" tanya Veronica yang mulai merasa cemas.
"Veronica, aku akan memberitahumu, tapi berjanjilah padaku untuk bersikap tenang!" jawab Almost.
"Katakan padaku apa yang sudah terjadi!" pinta Veronica yang mulai merasa cemas.
"Yolanda dia...dia meninggal karena kecelakaan," jawab Almost..
__ADS_1
"A-apa? meninggal? putriku sudah meninggal? tidak mungkin....itu tidak mungkin, Almost," jawab Veronica yang tidak bisa menerima kenyataan itu.
Almost hanya bisa mengunakan cara ini untuk menceritakan kepada istrinya, ia tidak ingin istrinya semakin tertekan dan hanya bisa merekayasa penyebab kematian putrinya itu.
Veronica menangis dengan histeris setelah mendengar semua kejadian yang di katakan oleh suaminya. menangis dan berteriak sambil menepuk dadanya.
"Kenapa nasibnya begitu malang? dia adalah putriku yang ku jaga dan rawat dari kecil hingga dewasa, kenapa bisa begini. keluarga kita sudah tidak memiliki keturunan. bagaimana dengan masa tua kita nanti tanpa seorang anak di samping kita," tangisan Veronica selama berjam-jam pada akhirnya dokter harus memberikan suntikan obat penenang. dan tidak lama kemudian Veronica tertidur akibat efek suntikan itu.
Almost hanya bisa menangis pasrah saat melihat nasib putrinya berakhir dengan begitu tragis. tidak cukup di gilir oleh sejumlah pria, ia juga harus di buang begitu saja ke tepi pantai sana. bukan hanya itu Almost juga melihat putri kesayangannya itu di telan hidup-hidup oleh Makhluk yang keluar dari laut besar sana.
Almost kemudian menghapus semua kiriman dari tiga pria itu. karena tidak ingin di lihat oleh istrinya.
"Handphone ku di jual saja untuk biaya ongkos," ucap Almost.
Mansion Demon.
"Hah...Demon, apa sudah bis berhenti? aku lapar mau sarapan."
"Belum, sebentar lagi aku akan mengakhirinya," jawab Demon yang sedang melakukan penyatuan dengan istrinya.
"Kita sering melakukannya kenapa aku masih tidak hamil? apa ada yang salah ya?" tanya Kimberly yang merasakan gesekan di bawah sana.
"Bagaimana kalau aku pergi ke rumah sakit dan periksa kesehatanku?"
"Jangan terburu-buru! aku yakin kesehatan mu baik-baik saja," jawab Demon dengan mencium bibir istrinya.
Setelah satu jam kemudian.
Setelah Kimberly dan Demon selesai mandi mereka pun sarapan bersama.
"Demon, bagaimana kalau kesehatan ku ada masalah dan tidak bisa melahirkan?" tanya Kimberly dengan khawatir.
"Jangan mencemaskan hal ini, Kimberly!" jawab Demon dengan senyum.
"Mana mungkin aku tidak cemas, tidak mungkin kita menikah tanpa anak, dan aku yakin kau pasti bisa bosan," kata Kimberly.
"Kimberly, sebelumnya sudah ku katakan, kita memiliki waktu yang cukup panjang, untuk apa kamu merasa cemas sekarang? yang paling penting adalah kita bisa selalu bersama," ujar Demon.
"Apa kau yakin aku bisa hamil?"
"Tentu saja!" jawab Demon dengan senyum.
__ADS_1
"Kalau aku mandul maka kita tidak akan memiliki keturunan," ucap Kimberly dengan khawatir.
"Gadis bodoh, kenapa memikirkan hal seperti itu. zaman sekarang sudah canggih dan tidak perlu mencemaskan soal ini," kata Demon dengan menyentuh wajah istrinya.
"Sudah! jangan di pikirkan lagi! kita akan hidup selama ribuan atau puluhan ribu tahun, untuk apa kau khawatir mengenai hal ini," ucap Demon dengan menyuapi istrinya.
"Mungkin aku hanya banyak berpikir saja," jawab Kimberly.
"Jangan di pikirkan lagi! habiskan makanan mu!" ucap Demon dengan senyum.
"Andaikan aku mandul apa Demon masih akan tetap bersamaku? menjadi seorang istri sangat tidak mudah," batin Kimberly.
Demon yang bisa mendengar batin istrinya, ia telah mengetahui apa yang paling di takutkan oleh istrinya adalah kehilangan dirinya jika saja pernikahan mereka tanpa seorang anak.
"Kimberly, setelah makan kita pergi berjalan-jalan!" ajak Demon yang ingin menyenangkan istrinya
"Jalan-jalan kemana? ini sudah jam kerjamu," jawab Kimberly.
"Aku libur hari ini dan ingin temankan istriku berjalan-jalan di kota ini!" jawab Demon dengan senyum.
"Tidak perlu! lagi pula lusa sudah hari minggu. hari minggu saja kita pergi ya!"
"Aku hanya ingin mencari hiburan bersamamu, kita akan ke mana pun yang kamu suka. makan makanan yang lezat. ini yang ingin ku lakukan bersamamu, dan kamu harus menurut kataku. ke mana pun aku pergi kau harus menemaniku!" kata Demon dengan menyubit wajah istrinya.
"Baik, aku akan mendengarkanmu!" jawab Kimberly dengan senyum.
"Setelah siap sarapan kita berganti pakaian dulu! setelah itu kita baru keluar!"
Rumah sakit.
Siang hari
"Veronica, kau tidak apa-apa?"tanya Almost yang duduk di samping istrinya.
"Putriku satu-satunya sudah meninggal, mana mungkin aku tidak apa-apa. dia sangat cantik dan baik. tapi kenapa nasibnya begitu tragis," ucap Veronica yang merasa terluka mendalam.
"Veronica, kita tinggalkan saja tempat ini! kita pergi ke tempat lain untuk mulai dari awal!"
"Kita sudah tua bagaimana mulai dari awal? uang juga tidak ada lagi," kata Veronica.
"Handphone yang ku pakai sudah ku jual. dengan uangnya kita bisa jadikan ongkos. sementara uang untuk biaya rumah sakit masih ada sisa. kita bisa jadikan itu sebagai modal," jawab Almost.
__ADS_1