
Ruangan pribadi Demon.
Demon dan Kimberly duduk berduaan di sofa, setelah Demon kembali mereka belum saling melepaskan rasa rindu. karena mereka menghabiskan waktu untuk menemani sang buah hatinya.
"Kimberly, setelah aku kembali kita belum pernah berduaan, aku sangat merindukanmu," ucap Demon yang memeluk istri dengan erat.
"Aku juga, sekarang kita sudah memiliki sepasang kembar, hidup kita semakin lengkap," kata Kimberly.
"Kimberly, apa kamu pernah menyalahkan ku? selama ini aku tidak berada di sisimu, di saat kau berjuang melahirkan anak kita, aku malah tidak tahu apa-apa," ujar Demon dengan merasa menyesal.
"Jangan mengungkitnya lagi! bukankah kami semua sudah selamat. dan semua ini tentu harus berterima kasih kepada Willy. tanpa dia selama ini aku benar-benar kesulitan untuk menjaga si kembar. di saat mereka masih bayi mereka sering demam. badannya mereka sering panas. tapi saat diperiksa suhunya malah normal-normal saja. aku dan Willy kebingungan. dan di samping itu aku harus bekerja juga untuk membiaya mereka. untung saja Willy banyak membantuku selama ini," jelas Kimberly.
"Selama ini dia selalu merawat si kembar juga?" tanya Demon.
"Iya, si kembar sering panas badannya, mereka dan selalu saja menangis, Willy membantuku merawat mereka dengan membiarkan mereka inap di rumah sakit. dengan begitu Willy bisa lebih mudah memantau kondisinya. sementara aku harus bekerja. tapi semua ini sudah berlalu. dan aku sangat bahagia karena mereka tumbuh besar dengan cepat dan sehat."
"Aku sebagai suamimu dan juga sebagai orang tua si kembar harus mencari kesempatan untuk berterima kasih kepada Willy."
"Aku akan mengajaknya makan bersama," ujar Kimberly.
"Atur saja waktu dan tempatnya!" kata Demon dengan mencium wajah istrinya.
"Di mana si kembar?" tanya Demon
"Mereka sedang bermain di kamar," jawab Kimberly.
"Aku ingin melakukannya sekarang juga," ucap Demon yang berbisik di telinga Kimberly.
"Melakukan apa?" tanya Kimberly.
"Bukankah kita sudah lama tidak bersama? dan aku sudah lama tidak menyentuh gadis nakalku ini. sekarang si kembar tidur bersama kita. aku hanya bisa memelukmu dan tidak bisa melakukan apapun," jawab Demon dengan mencium bibir istrinya .
Di siang itu Demon dan Kimberly bercinta di kamar yang di ruangan pribadinya. berpisah selama lima tahun akhirnya Demon melepaskan hasratnya di siang itu.
__ADS_1
Tempat tinggal paman Sean.
"Pa, tidak tahu bagaimana dengan si kembar?" tanya Holdie yang sedang memotong sayur di dapur.
"Mereka pasti sangat bahagia sekarang, karena bisa berkumpul bersama Demon dan Kimberly," jawab paman Sean yang sedang membersihkan ikan.
"Aku merindukan dua bocah itu, awalnya aku sangat bahagia karena mereka tinggal di sini. tidak ku sangka aku harus pisah dengan mereka lagi," ujar Holdie.
"Mereka hanya tinggal bersama orang tua mereka, kau tidak perlu bersedih. bukankah ini adalah suatu hal yang mengembirakan? lima tahun mereka tanpa seorang ayah dan Kimberly tanpa seorang suami, dan sekarang akhirnya mereka bersatu kembali, kita harus ikut bahagia juga," kata paman Sean.
"Iya, Pa. aku masih bisa pergi melihat mereka saat aku merindukan bocah api itu," jawab Holdie.
"Pa, aku khawatir dengan seseorang," kata Holdie.
"Apa maksudmu adalah Willy?"
"Iya, bayangkan saja selama lima tahun dia selalu saja berada di sisi Kimberly dan si kembar. kini Demon sudah bersatu dengan mereka. dan aku yakin Willy pasti terluka," kata Holdie.
"Ini semua dia harus bisa menerimanya, mencintai seorang wanita yang masih mencintai suaminya, maka dia harus bisa menerima kenyataan di saat wanita yang dia cintai bersatu dengan suaminya. Demon dan Kimberly berpisah bukan karena tidak cinta, tapi karena di paksa. jadi kapan-kapan mereka pasti akan bersatu kembali."
Malam hari.
Makhluk besar berwarna hitam serta wajah yang sangat menakutkan itu berdiri di atas salah satu gedung di jalan besar itu. seperti biasa kendaraan masih lalu lalang. tidak ada yang memerhatikan Makhluk besar yang berada di ketinggian yang dalam kondisi gelap. Makhluk besar itu melihat ke bawah karena menunggu waktu yang tepat untuk menyantap mereka. tidak lama kemudian matanya berubah menjadi warna merah.
Selama satu jam ia tidak bergerak di posisinya.
Seberang gedung itu yang adalah sebuah restoran, seorang wanita yang membawa anaknya yang masih kecil keluar dari tempat itu.
"Kita menunggu taksi di sini saja!" ujar wanita itu yang sedang memegang anak laki-laki yang baru berusia lima tahun.
Anak laki-laki itu yang melihat bintang-bintang di langit tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang berdiri di atas gedung depannya.
Karena gelap anak laki-laki itu tidak bisa melihatnya dengan jelas. karena merasa penasaran ia pun melihat tanpa beralih pandangan.
__ADS_1
"Riger, apa yang kamu lihat?" tanya mamanya.
"Mama, ada sesuatu di sana?" tanya anak itu yang menunjuk ke arah Makhluk besar itu.
Wanita itu lalu melihat makhluk besar itu yang diam dan tidak bergerak sama sekali. serta matanya yang berwarna merah.
"Sudah jangan melihatnya lagi! mari kita pulang!" ajak wanita itu yang merasa takut dengan apa yang dia lihat.
Walau tidak bisa dilihat dengan jelas, akan tetapi masih sangat menakutkan karena ukurannya yang sangat tinggi dan besar membuat wanita itu merinding dan memilih pergi dari sana.
Wanita itu dan anaknya sedang berjalan ke jalan yang sepi tanpa ada sesiapapun di sana.
"Ma, kenapa kita tidak menunggu taksi saja?" tanya anak laki-laki itu yang ikuti langkah ibunya dengan cepat.
"Lebih baik kita cepat pulang, jangan bertanya lagi!" jawab wanita itu yang ketakutan karena melihat makhluk besar itu.
Wanita itu memegang tangan anaknya berjalan dengan cepat kemudian tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya karena merasa ada sesuatu yang di belakangnya itu.
Ia menoleh perlahan ke belakang dengan rasa cemas dan takut. saat ia melihat sesuatu yang ada di hadapannya ia langsung terdiam begitu pula dengan anaknya.
"Ce-cepat lari!" pinta wanita itu yang melepaskan pegangannya.
Karena merasa ketakutan ia pun memilih memejamkan matanya. wajahnya memucat dan berkeringat, tubuhnya bergetar ingin berlari akan tetapi kakinya tidak sanggup untuk melangkah.
"Ma-mama," ucap anaknya yang ketakutan karena Makhluk besar itu berada di hadapan mereka yang jaraknya hanya sekitar enam meter.
"Cepat lari!" perintah wanita itu dengan suara kecil.
"Kakiku lemas, Ma."
"Tutup matamu!"ujarnya yang sambil menutup mata anaknya itu.
"Tolong jangan sakiti kami! kami hanya ibu dan anak saja, tidak memiliki siapa-siapa lagi. kami akan pergi dan anggap tidak pernah melihatmu," ucap wanita itu yang bibirnya sedang bergetar.
__ADS_1
Sesaat kemudian makhluk besar itu muncul di depan matanya yang hanya berjarak tiga meter.