Mystery

Mystery
Sasaran Roh Jahat


__ADS_3

"Deberly, apa yang kamu katakan?" tanya Kimberly dengan mencubit pipi putrinya.


"Kakak punya adik sepertiku, dan aku juga mau punya adik yang lucu sepertiku," jawab Deberly dengan tertawa lucu.


"Deberly, untuk saat ini mamamu belum bisa memberikan adik untukmu," kata Demon pada putrinya.


"Kenapa, Pa?"


"Mama masih terluka dan belum waktunya untuk melahirkan," jawab Demon dengan senyum menatap istrinya.


"Aku sudah tidak apa-apa, dan aku sehat-sehat saja," ujar Kimberly yang menatap suaminya.


"Kita harus menunggu kesehatanmu semakin membaik dulu, lagi pula kita sudah memiliki Debermon dan Deberly, jadi jangan di pikirkan dulu!" jawab Demon dengan mengecup dahi istrinya.


"Kalau begitu kita menunggu saja luka mama sembuh, baru buat adik lagi," ujar Deberly dengan puas.


"Deberly, apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Kimberly yang menghampiri putrinya.


"Hahahaha....putri kita sangat mirip denganmu," ucap Demon dengan tertawa gembira.


"Anak nakal," ucap yang mengelitik putra putrinya.


"Hahahaha....Mama, jangan mengelitik aku!" teriak Deberly sambil tertawa.


"Papa, tolong kami. hahahaha, " teriak Debermon dengan sambil tertawa.


"Kebahagiaan keluarga adalah terpenting, dan aku sudah terlewatkan selama lima tahun, aku akan lebih menghargai mereka dan mencintai mereka," batin Demon.


Demon tersenyum bahagia di wajahnya karena melihat istri dan anak-anak sedang tertawa gembira.


"Kimberly, temani anak-anak! biarkan aku yang menyiapkan makanan," ujar Demon yang melipat ujung lengan panjangnya.


"Biarkan aku membantumu, mereka akan bermain-main di sini," jawab Kimberly yang turun dari kasur.


"Deberly, Debermon, kalian main-main di sini ya, mama ingin membantu papa menyiapkan makanan," ucap Kimberly.


"Iya, Ma," jawab Deberly dan Debermon dengan serentak.


Sesaat kemudian Kimberly dan Demon keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ke dapur untuk menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Demon, memang ada apa dengan kesehatanku?" tanya Kimberly yang sedang memotong sayur.


"Lukamu masih belum sembuh, dan aku tidak ingin terburu-buru untuk segera punya anak lagi," jawab Demon yang sedang membersihkan udang yang ingin dia masak untuk istri dan putrinya.


"Tapi aku masih ingin melahirkan," ucap Kimberly yang sambil sibuk dengan tangannya.


"Kimberly, sekarang kita sudah memiliki sepasang kembar yang begitu lucu, untuk apa kita harus terburu-buru?"


"Aku hanya merasa jika rumah kita banyak anak kecil pasti ramai dan seru."


"Kimberly, rawat dulu kesehatanmu dengan baik! aku tidak mau kamu harus menangung resiko lagi. aku tidak mau kejadian yang sama terulang kembali. demi mempertahankan anak kita, kau rela memilih melahirkan sehingga hampir mengorbankan nyawamu." ujar Demon.


"Kita fokus saja dulu pada Deberly dan Debermon ya!" ucap Demon dengan senyum.


"Iya, aku mengerti maksudmu," jawab Kimberly dengan menurut.


Di suatu tempat terdapat seorang pria yang baru pulang ke rumahnya, saat ia turun dari mobil dan menutup pintu mobilnya tiba-tiba saja ia terdiam. bola mata pria itu berubah menjadi merah dan sesaat kemudian menjadi normal kembali. ia pun melangkah masuk ke dalam rumahnya. pria itu yang tak lain adalah Willy salah satu dokter di rumah sakit terbesar di kota itu.


Willy yang diam dengan raut wajah yang berubah-ubah ia melangkah masuk dan duduk di sofa. selama beberapa menit ia duduk di sana tanpa bergerak. ia menatap ke arah depan, bola matanya lagi-lagi berubah menjadi merah.


Sesaat kemudian Willy tersadar dan melihat kesekitaran dalam rumahnya.


"Bukankah tadi aku berada di depan rumah? kenapa cepat sekali aku berada di sini?" ucap Willy yang merasa aneh.


"Aneh kenapa aku tidak bisa menetap di tubuhnya, apa ada yang salah denganku?" batin Willy.


Mansion Demon.


"Demon, masakan mu tetap enak tidak berubah sama seperti dulu," ucap Kimberly yang sambil menyantap makanan.


"Asalkan kau suka, aku akan sering memasak untukmu," jawab Demon dengan menyuapi istrinya.


"Aku juga mau, udang saos papa sangat enak," kata Deberly yang sambil di suapi oleh Debermon.


"Makan jangan banyak bicara! orang dewasa sedang bicara kau jangan ikut menyampuk!" kata Debermon yang menyodorkan makanan ke mulut adiknya.


"Hahahahahah....Debermon, jangan buru-buru suapi adikmu!" ujar Demon pada putranya.


"Dia sangat mirip denganmu, selalu saja mengupas kulit udang untuk adiknya," ucap Kimberly dengan senyum.

__ADS_1


"Karena dia adalah putraku," jawab Demon sambil menyuapi istrinya.


"Demon, apakah saat ini kalau kita keluar di luar aman-aman saja?"


"Selagi bersamaku tidak masalah, asal kalian tidak bersendirian di luar," jawab Demon.


"Aku hanya akan keluar saat di temani olehmu," ujar Kimberly.


Sementara Willy yang sedang tidur tiba-tiba saja membuka matanya. bola matanya berubah menjadi merah dan kemudian bangkit dari tempat tidurnya. ia melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan di ruang tamu. tidak lama kemudian Willy tumbang dan tidak sadarkan diri. roh jahat keluar lagi dari tubuh pria itu, setelah ia gagal ingin menetap dalam tubuhnya.


"Kelihatannya aku mencari salah sasaran, pria ini sangat aneh. kenapa bisa gagal terus," batin hantu gunung itu yang kemudian menghilang.


Keesokan harinya.


Demon bersama keluarganya berjalan-jalan mengelilingi kota. si kembar yang duduk di belakang sambil melihat luar jendela dengan sambil tertawa gembira.


Sementara Demon menyetir mobil dan Kimberly duduk di sampingnya.


"Mereka sudah lama tidak keluar, sejak kami pulang ke sini mereka hanya berada di rumah," ujar Kimberly


"Aku masih ingat saat di jepang paman Willy membawa kita jalan-jalan dan ke restoran, di saat itu aku bertemu dengan papa," kata Deberly.


"Di saat itu aku mencarimu ke mana-mana, rupanya kau sedang bersama papa," ujar Debermon.


"Di saat itu kalian sudah bertemu, sangat tidak ku sangka," ucap Kimberly yang melihat ke arah suaminya.


"Dan kita juga bertemu untuk pertama kali setelah pisah selama lima tahun," kata Demon dengan senyum.


"Dan kini kita sudah berkumpul," lanjut Debermon yang duduk diam di belakang.


"Papa, jangan kerja di tempat lain lagi ya! kami tidak ingin berpisah denganmu," pinta Deberly.


"Tidak sayang, papa tidak akan pergi meninggalkan kalian lagi," jawab Demon dengan senyum.


"Kalau begitu kita bisa makan bersama, jalan bersama dan tidur bersama," ucap Deberly


"Kita sudah dewasa harus tidur di kamar lain," ujar Debermon.


"Aku masih mau tidur di pelukan mama dan papa," jawab Deberly.

__ADS_1


"Jangan manja! kau sudah besar dan seharusnya tidur kamar lain, jangan membantah," kata Debermon.


"Apa kalau kita pindah kamar papa dan mama bisa buat adik untukku?" tanya Deberly dengan polos


__ADS_2