
Siang hari.
Kimberly yang baru bangun ia mendapati Demon sedang duduk di sampingnya.
"Demon, di mana Deberly dan Debermon?" tanya Kimberly dengan cemas.
"Jangan mencemaskan mereka! mereka baik-baik dan aman-aman saja," jawab Demon.
Kimberly berubah posisi duduk dengan bersandar.
"Apa lukamu masih sakit?" tanya Demon.
"Sakitnya sudah berkurang," jawab Kimberly sambil mengelus dadanya.
"Dari mana datangnya luka dalammu itu?"
"Luka ini dari tendangan seseorang dulu."
"Tendangan? siapa yang melakukannya? tendangannya itu bukanlah tendangan biasa, melainkan mengunakan kekuatan sehingga bisa meninggalkan luka dalam yang tak kunjung sembuh," tanya Demon.
"Biarkan saja! lagi pula semua ini sudah berlalu, aku ingin pulang!" jawab Kimberly yang ingin turun dari ranjang.
"Sebentar! siapa yang mengizinkanmu pulang?" tanya Demon dengan menahan Kimberly.
"Aku sudah baikkan, tidak baik jika terlalu lama di sini," jawab Kimberly yang ingin bangkit dari kasur.
Demon yang melihat wanita itu ingin bangkit, dirinya langsung mendorongnya ke kasur.
"Demon, kenapa kau...."tanya Kimberly yang di tahan ke kasur.
"Aku adalah tuan rumah, jika aku tidak mengizinkanmu keluar, maka kau dan anak-anak tidak bisa pulang."
"Apa hak mu melarangku?"
"Tentu saja aku memiliki hak, ini adalah rumahku. dan tanpa izinkan ku kalian tidak bisa melangkah keluar dari rumah ini," jawab Demon.
"Cepat bangun dulu!" pinta Kimberly yang mendorong tubuh Demon yang berada di atasnya.
Demon menekan ke dua tangan Kimberly dan langsung mencium bibirnya.
Saat mereka sedang berciuman si kembar mengintip dari luar pintu. mereka tertawa kecil melihat mereka yang sedang berciuman itu. lalu Deberly langsung melangkah masuk dengan tertawa senang.
"Hore...hore...hore...hore..." aku sudah mendapat papa baru....aku sudah mendapat papa baru....hore....,"teriak Deberly yang kegirangan.
"Dasar bocah, kenapa dia malah masuk ke dalam," gumam Debermon sambil menepuk jidat.
Demon dan Kimberly yang mendengar teriakan putri kecilnya mereka langsung menghentikan ciumannya.
"Deberly, apa yang kamu katakan?" tanya Kimberly yang mendorong Demon menjauh darinya.
"Mama, paman sudah bisa menjadi papa kami," ujar Deberly dengan berharap.
__ADS_1
"Deberly, apa kamu serius?" tanya Demon yang berdiri di samping kasur.
"Serius, Paman. aku ingin paman menjadi papaku," jawab Deberly.
"Tapi ada syaratnya!" kata Deberly.
"Syarat apa yang kau minta?" tanya Demon dengan senyum.
"Syaratnya adalah kartu kredit," jawab Deberly.
"Untuk apa dengan kartu kredit?" tanya Kimberly.
"Karena paman sudah mencium mamaku, jadi harus membayarku dengan kartu kredit," jawab Deberly dengan mengulurkan tangannya.
"Jangan bercanda! memangnya kamu mau menjual mamamu ya?" tanya Kimberly dengan kesal.
"Mama sudah di cium oleh paman, jadi rugi kalau paman tidak membayar kami," jawab Debermon dan Deberly dengan kompak.
"Dasar anak durhaka, kalian mengira mama mu ini bisa di jual ya?" tanya Kimberly dengan kesal.
"Paman, ciuman sekali cukup bayar dengan satu kartu kredit, ciuman dua kali harus bayar dua kartu kredit," kata Debermon dan Deberly dengan serentak.
"Debermon, Deberly...apa kalian mengira ciuman mama mu ini bisa di perjual belikan?" tanya Kimberly dengan kesal.
"Mama, jangan marah! ini untuk kebaikan mama, agar tidak rugi," ujar Deberly.
"Dasar setan kecil," ucap Kimberly sambil menahan emosi.
"Cukup tiga saja, tapi isi uangnya harus banyak," jawab Debermon.
"Hahahaha....ternyata masih kecil saja sudah bisa membuat perhitungan," jawab Demon dengan tertawa.
"Paman tidak rugi memberikan kami 3 kartu kredit, karena paman bisa mendapatkan mama kami dan bonusnya adalah kami," jawab Debermon dan Deberly dengan serentak.
"Dasar setan kecil," ujar Kimberly dengan merasa kesal.
"Jangan mendengar mereka! mereka masih anak-anak yang tidak mengerti apa-apa,"kata Kimberly.
"Mereka sungguh menyenangkan, aku sangat menyukainya," ucap Demon dengan tertawa.
"Demon, apa kamu sangat menyukai mereka?"tanya Kimberly.
"Benar, aku menyukai mereka, dan aku juga ingin mereka menjadi anakku," jawab Demon dengan senyum.
Tidak lama kemudian nada panggilan masuk ke handphone milik kimberly.
Kimberly mengambil handphonenya dan kemudian membaca nama yang menghubunginya itu.
"Hallo," sapa Kimberly yang menjawab panggilan masuk.
"Kimberly, kau ada di mana? aku sudah kembali ke kota dan ingin bertemu denganmu dan anak-anak," jawab Willy yang di seberang sana.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang dan di mana sekarang?" tanya Kimberly.
"Sedang berada di rumah paman Sean, kau ada di mana sekarang? kamu dan anak-anak apa baik-baik saja?" beritahu aku posisimu aku akan pergi menjemputmu," kata Willy.
"Aku aman-aman saja di sini, sebentar lagi aku ke sana," jawab Kimberly yang tidak lama kemudian memutuskan panggilannya.
Demon yang sudah mendengar suara pria itu ia merasa tidak senang, raut wajahnya berubah menjadi menakutkan. Debermon dan Deberly yang melihat reaksi Demon langsung menghampiri mama mereka.
"Mama, apa paman Willy sudah pulang?" tanya Debermon.
"Paman Willy biasa tinggal di jepang kenapa bisa kembali ke sini ya? apa karena dia ingin melamar mama lagi?" tanya Deberly dengan sengaja.
"Apa yang kamu katakan? jangan bicara sembarangan!" ujar Kimberly
"Mama bukannya tidak tahu jika paman Willy selama ini selalu saja ingin mengejar mama, dan masih belum putus asa hingga sekarang. apa mama akan menerima lamarannya kali ini?" tanya Debermon dengan sengaja.
"Hah...itu..." jawab Kimberly yang terhenti.
"Kimberly, apa kamu mau pulang?" tanya Demon.
"Iya, sudah lama aku di sini, aku tidak mau paman Sean dan Holdie merasa khawatir denganku,"jawab Kimberly.
"Siapa mereka?" tanya Demon.
"Mereka adalah keluargaku," jawab Kimberly.
"Aku akan mengantar kalian pulang!" kata Demon.
"Hore....paman akan mengantar kami pulang," ujar Debermon dengan girang.
"Paman, bisa tolong mengendongku?" tanya Deberly yang membukakan ke dua tangannya.
Demon tersenyum saat melihat anak kecil itu yang bersikap manja dengannya, dengan senang hati ia pun mengendong Deberly dan mencium pipinya.
"Deberly, kenapa kamu sangat manja?" tanya Kimberly.
"Aku ingin paman mengendongku!" jawab Deberly.
"Mama, aku mau di gendong juga!" pinta Debermon yang membuka ke dua tangannya.
"Mari sayang kita pulang!" kata Kimberly yang mengendong putranya itu.
Setelah beberapa menit kemudian mereka meninggalkan apartemen dan menuju ke tempat tinggal paman Sean.
Tempat tinggal paman Sean.
"Willy, kenapa kau bisa berpindah ke kota ini? bukankah kamu bertugas di sana?" tanya Holdie.
"Aku hanya ingin merawat Kimberly dan si kembar, kondisi Kimberly masih sangat mengkhawatirkan," jawab Willy.
"Willy, selama ini kamu selalu saja merawat mereka, paman sangat tenang saat kamu bersamanya, dan kini dirimu malah pindah ke sini demi Kimberly. kamu sangat setia padanya," ujar paman Sean.
__ADS_1