
"Aku tidak mau di jaga oleh wanita itu, aku tidak butuh karena aku bukan anak kecil," jawab Kimberly.
"Kimberly, cepat turun! kita masih belum selesai makan," kata paman Sean.
"Aku masih belum puas duduk di sini," ujar Kimberly
"Kimberly, bibi Veronica sudah masuk rumah sakit lagi karena mu, kau jangan membuat papaku masuk rumah sakit juga!" ucap Holdie.
"Itu karena dia sudah tua dan melakukan banyak kesalahan sehingga dia pingsan terus," jawab Kimberly.
"Kimberly, mari kita pulang!" bujuk Demon
"Tidak mau," jawab Kimberly.
"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Demon.
"Tidak!"
Demon mengeluarkan dompetnya dan mengambilkan salah satu kartu kredit dan menunjukan kepada istrinya.
"Kimberly, ini untukmu!"
"Itu apa?"
"Ini adalah kartu yang baru ku buat untukmu,"jawab Demon.
"Tapi aku sudah memilikinya."
"Yang ini aku membuatkannya untukmu, pinnya adalah hari pernikahan kita," jelas Demon.
"Aku tidak butuh lagi, lagi pula yang kau berikan padaku itu masih belum ku gunakan uangnya," jawab Kimberly.
"Untuk apa kau buat kartu baru lagi?"
"Kimberly, ini untuk permintaan maafku padamu karena telah membuat mu marah," ucap Demon dengan senyum.
"Aku tidak mau, aku sudah memiliki banyak kartu mu. asalkan kau setiap bulan kirim dananya itu sudah cukup. terlalu banyak kartu hanya merepotkan saja," jawab Kimberly.
"Kimberly, jangan berulah lagi! cepat turun dari sana!" ujar paman Sean.
"Kimberly, aku sudah memasak makanan kesukaanmu," kata Demon dengan membujuk istrinya itu.
"Lauk apa itu?"
"Saos udang kesukaanmu," jawab Demon.
"Aku sudah lapar dan mau makan," ucap Kimberly yang ingin melompat ke bawah.
"Hei...hei...apa kau masih waras? kalau kau melompat kau akan mengalami patah tulang," teriak Sean dengan merasa cemas.
"Raymond akan menyambutku!" jawab Kimberly dengan santai.
"Kau ini...tadi kau masih merajuk, dan sekarang karena saos udang kau baru mau turun," kata paman Sean dengan mengejek.
__ADS_1
"Aku belum kenyang karena tiga makhluk asing itu," jawab Kimberly yang langsung melompat dan di sambut oleh suaminya.
Saat Demon melihat wajah istrinya ia langsung menurunkan istrinya itu.
"Kimberly, apa wajahmu masih sakit?" tanya Demon dengan menyentuh wajah istrinya.
"Tentu saja sakit, mereka berdua menampar di wajah kiriku. kalau bukan karena mereka adalah orang tuaku maka aku juga ingin menampar mereka," jawab Kimberly.
"Berani sekali mereka menamparmu," ketus Demon
"Mana kartu kreditmu? cepat berikan padaku!" pinta Kimberly dengan mengulurkan tangannya.
"Kimberly, bukankah tadi kau mengatakan tidak mau, kenapa kau meminta lagi?" tanya Holdie dengan mengejek.
"Karena itu milikku, jadi aku harus memilikinya," jawab Kimberly.
"Semuanya seenak mu saja! malam ini makan malam kami jadi tertunda," kata paman Sean.
"Jangan salahkan aku, Paman. mereka yang datang membuat onar di sini," jawab Kimberly.
"Hm...iya...iya...siapa yang memotong kepala ikan sampai hancur dan mengoreng dengan minyak yang sekuali, selain itu kulit kentang dan wortel di tumis sementara kentang dan wortelnya dibuang?" kata paman Sean dengan mengejek.
"Apakah itu menu yang baru kamu pelajari?" tanya Demon dengan seraya bercanda.
"Itu salahmu juga, karena kau membuatku marah makanya aku jadi salah masak lauk, ini semua salahmu," jawab Kimberly yang tidak mau kalah.
"Hm...kau yang salah, malah suamimu yang kau salahkan," kata paman Sean..
"Kalau bukan karena dia yang membangkitkan kemarahan ku mana mungkin bisa seperti ini," jawab Kimberly dengan kesal.
"Mana kartu kreditmu? berikan padaku sekarang juga. dan aku sudah lapar dan ingin makan saos udang," kata Kimberly.
"Ini memang khusus untukmu!" jawab Demon yang memberikan kartunya kepada Kimberly.
"Paman, kami pulang dulu!" pamit Demon dengan mengendong istrinya.
"Bawa saja si biang onar ini pergi! jadi aku bisa makan dengan tenang," jawab paman Sean dengan mengejek.
" Hahahahah...." suara tertawa Demon dan Holdie.
"Kenapa kalian semua mengejekku?" bentak Kimberly dengan kesal.
"Mari kita pulang!" ajak Demon dengan melangkah pergi sambil mengendong istrinya.
"Mari kita lanjut makan!" ajak paman yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan di temani oleh Holdie.
Mansion Demon
Setelah tiba di rumah Demon menyuapi istrinya makan malam, seperti biasa Demon akan kupas kulit udang dan memberikan kepada istrinya.
"Kenapa aku tidak boleh makan nasi?" tanya Kimberly yang duduk di pangkuan suaminya.
"Sekarang sudah pukul sembilan, makan saja sayur dan udangnya ya. tadi kau juga sudah makan nasi di rumah paman," jawab Demon.
__ADS_1
"Kapan kau memasaknya?"
"Saat aku pulang kerja tadi sore," jawab Demon sambil menyuapi istrinya
"Apa wajah mu masih sakit?" tanya Demon.
"Masih, mereka menamparnya dengan begitu kuat,'' jawab Kimberly.
"Setelah siap makan aku akan mengoleskan obat di wajahmu!" kata Demon dengan mencium wajah istrinya.
"Masakanmu enak sekali, besok aku mau lagi!" ujar Kimberly sambil menyantap makanannya dengan lahap.
"Baiklah, aku akan memasaknya kalau kau suka," jawab Demon dengan mencium wajah istrinya.
"Jangan menciumku lagi, aku sedang makan,"ucap Kimberly yang sedang makan dengan lahap.
" Hahahahahaha..wajahmu begitu manis, mana mungkin aku tidak menciumnya," jawab Demon dengan mengusik istrinya itu.
Setelah selesai makan Kimberly ketiduran di pelukan suaminya. di malam itu Demon belum memejamkan matanya, ia menatap wajah istrinya itu yang ada bekas tamparan.
"Gadis malang, dari kecil hidup tanpa orang tua. kini mereka sudah kembali dan bukannya menebus kesalahan mereka. tapi malah semakin melukai gadis ini. karena mereka sudah melewati batas maka aku juga tidak akan segan," batin Demon.
Demon bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia beranjak dari kamar dan menghubungi seseorang.
"Hallo, Tuan," sapa seorang pria yang di sebarang sana.
"Hubungi semua pemegang saham perusahaan Almost!" perintah Demon.
"Baik, Tuan."
Tidak lama kemudian Demon memutuskan panggilannya.
"Karena kalian sudah keterlaluan maka jangan salahkan aku. aku akan membuat kalian kehilangan segalanya," batin Demon.
Demon kembali ke kamarnya dan tidur di samping istrinya itu.
"Demon, kamu belum tidur ya?" tanya Kimberly yang terbangun.
"Aku minum air, apa kamu haus?" tanya Demon dengan menyentuh wajah istrinya.
"Tidak, aku mau tidur di pelukanmu!" jawab Kimberly yang memeluk suaminya itu.
"Aku akan memelukmu setiap kamu tidur," jawab Demon yang memeluk istrinya dengan erat.
"Mungkin saja dengan begini akan membuatnya lebih nyaman dan aman," batin Demon.
Rumah sakit.
Veronica yang pingsan dan di bawa kembali ke rumah sakit karena ketinggian darahnya mencapai 250. Almost dan Yolanda harus menjaga kondisi Veronica untuk setiap saat.
"Pa, wanita itu sangat keterlaluan, mama darahnya semakin tinggi karena ulahnya," ujar Yolanda yang duduk di dalam kamar ibunya.
"Kita bukan saja tidak mendapatkan harta kita kembali, tapi juga menyinggung Raymond dan kondisi mamamu semakin parah. darahnya sangat tinggi. dokter juga mengatakan untung saja pembuluh darahnya tidak pecah. kalau tidak maka fatal akibatnya," kata Almost dengan merasa kecewa.
__ADS_1
"Dia begitu berani jual semua aset kita, sehingga kita kehilangan semuanya, sekarang kita hanya bisa mengharapkan perusahaan. untuk sementara waktu kita harus tinggal di sana," ujar Yolanda dengan merasa tidak puas.