
"Selama ini aku sangat ingin tinggal di sini, hanya saja....," kata Kimberly yang terhenti.
"Kimberly, kami mengerti maksudmu, sini adalah keluargamu. dirimu sudah menghadapinya sendirian selama ini. sangat tidak mudah bagi seorang wanita yang harus bekerja sambil menjaga anak. kau boleh mulai dari awal di sini. dan masih ada kami yang mendukungmu," kata paman Sean.
"Paman, terima kasih selalu ada untukku. selama ini paman dan Holdie selalu saja membantuku. ini yang membantu ku untuk bangkit," ucap Kimberly.
"Jangan berkata demikian! kita adalah sekeluarga dan bukan orang luar, kami juga berharap bisa tinggal bersama dengan dua jagoan ini," jawab Holdie dengan senyum.
"Deberly, Debermon, mari istirahat dulu! tentu kalian sudah mengantuk ya!" ajak Holdie.
"Kami sudah mengantuk, mau tidur sebentar," jawab Deberly dan Debermon dengan serentak.
"Mari bibi tunjukan kamarnya!" kata Holdie yang membawa si kembar menuju ke kamar.
"Kimberly, apakah terjadi sesuatu?" tanya paman Sean dengan khawatir.
"Paman, aku bertemu dengan Demon, dia tidak mengenalku lagi," kata Kimberly.
"Lalu, apakah dia melihat anak-anak?"
"Tidak, aku juga tidak mengatakan padanya. aku tidak mau neneknya tahu keberadaan Deberly dan Debermon, ini sangat membahayakan. aku tidak mau kehilangan mereka," jawab Kimberly.
"Kimberly, selagi Deberly dan Debermon tidak keluar ataupun bertemu dengan Demon dan Diana, maka mereka akan aman-aman saja," kata paman Sean.
"Paman, maaf. karena melibatkanmu dan Holdie lagi, nenek Diana mengancamku dan aku sangat khawatir," ucap Kimberly dengan merasa bersalah.
"Kimberly, kali ini kau pulang karena merasa khawatir dengan kami, kan? dan bagaimana dengan kerjamu di sana?"
"Aku sudah berhenti, aku tidak fokus di sana. karena aku takut dia akan ke sini menyakiti paman dan Holdie," jawab Kimberly.
"Kimberly, jangan khawatir mengenai itu. andaikan kau bertemu kembali dengan Demon. berusahalah berbaik dengan dia. mungkin saja dengan cara ini dia akan mengingatmu lagi. paman sangat berharap kalian masih bisa kembali bersama," kata paman Sean.
"Nenek Diana mengatakan kalau Demon bukan yang dulu lagi. dia sudah menikahi beberapa wanita iblis dan memiliki beberapa orang anak. dia adalah iblis yang hidupnya ribuan tahun, jadi wajar kalau dia menikah lagi. lagi pula dia sudah melupakanku," ujar Kimberly yang menetes air mata.
__ADS_1
"Paman mengerti perasaanmu, cintamu terhadap suamimu itu masih begitu dalam. akan tetapi kalau dia memang sudah menikah dan memiliki anak, paman ingin ingatkan kamu satu hal."
"Ingatkan apa, Paman?"
"Kalau kau masih ingin bersamanya, apakah kau akan bersiap untuk menerima kehadiran semua istrinya? di saat itu yang harus kamu hadapi bukan hanya Diana tapi juga semua istri Demon. Demon sekarang sudah berbeda dengan dulu. Demon yang dulu hatinya hanya milikmu dan sekarang hatinya sudah berbagi dengan semua istrinya. dan kau bukan utama baginya lagi. mungkin saja dia tidak akan seperti dulu yang begitu sabar denganmu. dan juga tidak ingat lagi apa makanan kesukaanmu," jelas paman Sean.
"Paman, apa ada cara untuk aku melupakan dia? hatiku sangat sakit setiap mengingat tentang dia. dari awal kami bersama dia selalu saja baik padaku. aku tidak bisa melupakan kebaikan dia padaku. dia selalu saja menganggap ku sebagai anak kecil, dan selalu saja sangat memanjakanku. bahkan setiap kali ketika aku merusakan barangnya dia juga tidak pernah marah. malah di saat aku takut dia yang membujukku. saat aku merusakan mobilnya dia hanya mencemaskanku dan bukan mobilnya yang mahal itu. dia memukul telapak tanganku karena khawatir aku terluka. dan setelah itu dia menyesalinya. dia memasak bubur kesukaan ku dan membujukku," kata Kimberly yang mengingat masa lalu.
"Paman, aku sangat merindukan dia setiap saat, dia begitu baik padaku. dan aku sakit hati saat mendengar dia sudah menikah dengan beberapa wanita lain," tangisan Kimberly.
"Kimberly, menangislah! jangan memendamkan perasaanmu,"kata paman Sean yang memeluk Kimberly yang menangis dengan terisak.
Setelah satu jam kemudian Kimberly kembali ke kamar yang dulu dia tempati. saat ia melangkah masuk ke dalam ia mengingat kembali di saat suaminya itu yang sedang membujuknya di saat ia sedang merajuk dan bersembunyi di bawah tempat tidur.
"Kimberly, aku minta maaf denganmu jika aku telah menyakitimu, katakan apa yang harus ku lakukan agar kau mau keluar menemuiku!"
"Kimberly, ini salahku aku bisa membuktikan jika aku tidak bersalah, aku dan dia sama sekali tidak ada hubungan apa-apa!"
"Kimberly, mari ikut aku pulang. kau bisa meminta apa saja padaku,"
"Kimbely, kuatkan dirimu! kau memilih tinggal di sini agar bisa melindungi paman dan Holdie. andaikan nenek Diana memang datang ke sini maka aku tidak akan sungkan melawannya. walau aku bukan tandingannya. tapi aku tetap akan mengunakan seluruh kekuatanku untuk melawannya," gumam Kimberly.
"Aarrghh...." erangan Kimberly yang merasakan kesakitan di bagian dadanya.
"Luka lama kambuh lagi, tendangan wanita tua itu hampir membuat jantungku berhenti berdetak,"batin Kimberly.
Di sepanjang malam Kimberly duduk di lantai samping kasur sambil menahan sakit bagian dadanya. walau sudah lima tahun akan tetapi tendangannya yang sangat keras itu membuat Kimberly mengalami luka dalam yang cukup parah.
"Diana, walau sudah lima tidak bertemu, tapi luka yang kau berikan padaku hampir menyebabkan ku kehilangan nyawa di saat ingin melahirkan Deberly dan Debermon. kau membuangku begitu saja pada hal aku adalah istri dari cucumu, luka yang kau berikan membuatku sangat menderita. selain rasa sakit kehilangan Demon, aku juga harus menahan sakit setiap luka ini kambuh. kalau saja kali ini kau berani menyentuh keluarga aku akan mati bersamamu," batin Kimberly
Jepang.
Di malam itu Demon berdiri di balkon sambil meneguk minuman anggur merah dan membayangkan air mata Kimberly.
__ADS_1
"Kimberly? siapa dia?" batin Demon.
Tidak lama kemudian Teddy muncul bersama dengan Licon.
"Raja," sapa Teddy dan Licon dengan serentak.
"Apa kalian mengenal seorang gadis yang bernama Kimberly? dia bermata besar, cantik dan hidung mancung?" tanya Demon.
"Kimberly? kami tidak mengenalnya," jawab Teddy.
"Namanya tidak asing, hanya saja tidak ingat di mana pernah mendengar nama ini," jawab Licon.
"Iya, aku juga merasa tidak asing. tapi tidak tahu di mana kami pernah mendengar namanya," ujar Teddy.
"Kenapa mereka sama denganku merasa tidak asing dengan nama itu," batin Demon.
"Raja, apa Anda baik-baik saja?" tanya Teddy.
"Apa lagi rencana nenek?" tanya Demon.
"Nenek Raja dia mengundang nona Connie ke istana api," jawab Teddy.
"Untuk apa lagi wanita itu datang?" tanya Demon dengan merasa kesal.
"Nenek Raja selama ini berharap Connie melahirkan keturunan Raja," jawab Teddy.
"Wanita itu selama ini berusaha ingin melahirkan anakku," ujar Demon.
"Kalau Raja tidak melakukannya maka nenek raja tetap akan berusaha sehingga raja setuju," kata Teddy.
"Wanita itu sangat ingin melahirkan anak untukku? baiklah kalau begitu. aku tidak akan mengabaikan niat baiknya," ujar Demon dengan mengenggam gelas sehingga pecah.
Prang...
__ADS_1
"Raja, apakah Anda setuju?" tanya Licon.