
"Tuan Geffrey, maaf atas kejadian yang tidak menyenangkan itu, Yolanda sangat hancur dan sudah terpuruk," ucap Almost yang berlutut di hadapan Demon.
"Tuan Geffrey, tujuan ku hari ini adalah ingin menjual saham ku. aku butuh biaya untuk istriku. berapapun harganya asal cukup untuk biaya pengobatan istriku," ujar Almost dengan wajah kusut.
"Setelah kejadian memalukan itu tersebar saham mu sudah tidak berguna. dan aku ingin mengingatkan mu perusahaan Deberly sudah menjadi milikku sepenuhnya. kejadian rekaman itu sangat memalukan sekali, sehingga akan mempengaruhi perusahaan Deberly. untung saja berita mengenai aku yang pegang kendali sudah tersebar karena kalau tidak, maka perusahaan itu hanya sisa kulit kosong," ujar Demon.
"Tuan Geffrey, aku mohon padamu! hidupku sudah di ujung tanduk. biaya rumah sakit aku juga tidak sanggup membayarnya. dan...dan...yang paling parahnya adalah Yolanda sudah....sudah...di bawa pergi oleh lintah darat, karena bulan ini aku tidak ada uang untuk membayarnya. Tuan Geffrey, aku hanya sisa saham yang tidak seberapa untuk bisa bertukar uang denganmu," kata Almost dengan sambil menangis.
"Semua itu adalah salahmu! dari awal kalian sudah salah langkah, kalau tidak maka semua ini tidak akan terjadi," ucap Demon dengan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela.
"Tuan Geffrey, tolonglah aku! kalau saham ku sudah tidak laku. maka biarlah aku berkerja di sini untuk menganti uangnya. aku bisa bekerja di bagian cleaning service juga," pinta Almost.
Kimbery yang berada di dalam kamar telah mendengar semua permohonan ayahnya itu. sebagai anak, Kimberly merasakan perih dengan setiap ucapan sang ayahnya. walau selama ini mereka tidak saling mengakui akan tetap Kimberly tetap merasakan rasa sakit dan kecewa karena dirinya selalu di abaikan.
"Almost yang sombong dan kaya dulu sudah hilang. kini dia hanya bisa menangis dan memohon. Yolanda juga harus menerima balasannya," batin Kimberly.
"Almost, apa kau tahu kenapa aku membencimu?" tanya Demon yang berpaling ke arah Almost yang masih berlutut di sana.
"Aku tidak tahu," jawab Almost.
"Apa kau mengenalku?" tanya Demon.
"Tuan Geffrey, siapa yang tidak mengenal Anda, namamu sudah terkenal di dunia bisnis," jawab Almost.
"Almost, aku ingin tahu siapa gadis yang berkelahi dengan putrimu itu?"
__ADS_1
"Dia...dia...adalah...." jawab Almost yang terhenti.
"Kenapa kau tidak bisa menjawab?" tanya dengan tegas.
"Dia...aku...aku tidak akrab dengannya," jawab Almost dengan menunduk.
" Tidak akrab? di luar ada yang mengatakan jika dia adalah putri bungsumu, bagaimana penjelasanmu?"
"Ini hanyalah gosip, tidak benar sama sekali," bantah Almost yang tidak mengakuinya.
"Almost, aku berharap apa yang kau katakan adalah benar."
"Aku dan gadis itu tidak dekat, dan aku tidak tahu apa permasalahan mereka berdua. dan ini hanyalah salah paham saja," jawab Almost dengan alasan.
"Salah paham? apa kau bisa menjelaskan dengan detail?" tanya Demon dengan sengaja.
"Apakah sebenci itu kau terhadapku? sehingga kau mengatakan tidak mengenalku dan juga menuduhku?" tanya Kimberly yang melangkah keluar dari kamar dengan penuh kekecewaan.
Almost yang mendengar suara Kimberly ia pun langsung menoleh ke arah gadis itu.
"Kenapa...kau bisa berada di sini?"tanya Almost dengan penasaran.
"Kimberly adalah istriku, dan aku adalah Raymond yang kau kenal selama ini," jelasnya dengan berubah wajah Raymond.
Almost yang melihat perubahan wajah pria itu merasa ketakutan sehingga terduduk di lantai.
__ADS_1
"Kau...siapa?"tanya Almost dengan ketakutan bagaikan melihat hantu di siang hari.
"Aku tidak perlu menjelaskan, kalau bukan permintaan putri bungsumu ini maka kau sudah mati di tanganku," ujar Demon dengan menahan emosinya.
"Ke-kenapa wajahmu bisa berubah?" tanya Almost dengan gemetar di seluruh tubuhnya.
"Tuan Almost, aku tidak menyangka di hatimu sama sekali tidak menganggapku. dari awal niatmu sudah jahat. dan sekarang nasibmu sudah begitu menyedihkan, akan tetapi kau masih saja tidak ingin mengakuiku. walau aku tidak peduli apa sikapmu. akan tetapi aku penasaran hatimu itu terbuat dari apa sehingga tega membuang anak kandung sendiri," ketus Kimberly.
Almost hanya diam dengan menunduk tanpa berani memandang ke arah Demon.
"Yolanda adalah putri kesayanganmu yang satu-satunya kamu banggakan, sementara aku tidak ada arti sama sekali bagimu. aku memang membencimu. tapi karena kalian memainkan perasaanku sehingga aku tidak ragu membuatmu kehilangan semuanya," ketus Kimberly dengan mengeluarkan air mata.
"Kalau mau pergi maka jangan kembali. apa lagi harus berpura-pura, terima kasih karena sudah membuangku sehingga aku bisa mengenal paman Sean dan Holdie yang selama ini menjagaku dengan baik. dulu aku tidak membutuhkan kalian, dan sekarang sama juga. pergi!" bentak Kimberly yang mengusir ayahnya itu.
"Lolipop, aku...." ucap Almost yang di potong oleh Kimberly.
"Jangan lagi memanggilku Lolipop! di saat kau membuangnya di saat itu dia juga sudah mati!" teriak Kimberly nada keras.
Kimberly mengeluarkan sebuah kartu kredit dan melempar ke arah Almost yang masih terduduk di lantainya.
"Tuan Almost, kartu ini ada dana untuk membiayai rumah sakit. uang ini dari hasil jual mobil mu. aku memberikannya padamu bukan karena aku mengakui kalian. tapi anggap saja aku membayar jasa kalian sudah melahirkan ku. aku bukan manusia yang tidak punya hati. aku juga bisa sakit. aku sakit setiap kali melihat kalian. aku sakit setiap memikirkan kalian menelantarkanku. aku dan Yolanda sama-sama adalah putri kalian.tapi kenapa di mata kalian hanya ada dia?" kata Kimberly yang merasa kecewa.
"Apa salahku sebenarnya? aku tidak meminta kalian untuk melahirkanku. setiap hari aku memikirkannya, sering kali aku melihat anak orang lain hidup bahagia bersama orang tua mereka. sementara aku di abaikan bahkan hingga kini kalian tidak ada penyesalan sedikitpun. lalu siapa aku bagimu? apakah begitu tidak berharga? aku juga memiliki perasaan, aku bukan batu. dan hari ini aku ingin mengatakan jangan muncul di hadapanku lagi. karena setiap melihat kalian perasaan ku sakit sekali. aku menyesal tubuhku mengalir darahmu," lanjut Kimberly.
"Terima kasih untuk kalian karena sudah menelantarkan ku, hidupku sudah sangat bahagia sekarang. tanpa kalian aku hidup lebih bahagia. mulai saat ini jangan muncul lagi!" ucap Kimberly dengan berpaling dan melangkah ke kamar.
__ADS_1
Almost hanya bisa menyesali semua perbuatanya di masa lalu. ia mengambil kartu itu sambil menetes air mata.
"Tidak tahu untuk apa kau menangis, dan ini tidak bisa menyembuhkan rasa sakit yang di alami oleh Kimberly. air mata mu itu tidak bisa menyembuhkan perasaan seorang anak yang kau lantarkan selama belasan tahun, air mata mu itu tidak bisa menyembuhkan perasaan seorang anak yang hidup tanpa kasih sayang orang tua, air mata mu itu hanya bisa untuk dirimu sendiri. pergilah! kalau bukan permintaan Kimberly kau pasti sudah mati di tangan ku!" kata Demon yang sedang menahan emosi.