
"Itu adalah daging yang sangat langka dan tidak bisa di beli dengan uang!" jelas Kimberly.
"Kau jangan mengatakan jika daging itu kau buru sendiri di hutan," ujar Simon.
"Aku tidak perlu berburu di hutan, karena dia yang datang sendiri. dan karena badannya gemuk dan panjang makanya aku masak dan bagi-bagi ke kalian," jawab Kimberly.
"Tidak usah putar belit! apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Cecilia dengan kesal.
"Tujuanku adalah mengantar kulit dan kepalanya ke sini. jadi, kalau bibi mau memasak kulitnya untuk di jadikan obat juga bisa, karena kulitnya itu bisa melicinkan kulit bibi yang sudah berkerut itu. selain itu kepalanya juga bisa meningkatkan gairah papa dan bibi di atas ranjang. apa kalian tahu setelah Raymond memakan kepalanya dia sanggup melakukannya dari malam hingga pagi. apa lagi usia bibi sudah tua pasti papa sudah bosan dan akan mencari wanita yang lebih cantik dan muda. jadi, tidak ada salahnya jika bibi mencoba kepalanya!" kata Kimberly yang panjang lebar.
"Apa kau bisa jangan sembarangan bicara?" bentak Alex dengan kesal.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kalian tidak tahu proses pemotongannya sangat tidak mudah, aku harus memotong kepala sehingga putus saat dia masih hidup, dan dia juga memintaku jangan merebus kepalanya, saat aku memotong dagingnya tubuhnya meronta-ronta kesakitan, aku perlu mencongkel semua isi dalamnya. dan kemudian membersihkan semua isi dalamnya dengan air," lanjut Kimberly.
Semua orang terdiam saat mendengar perkataan Kimberly yang tanpa berhenti.
"Dia memintamu jangan merebusnya? apa dia bisa bicara?" tanya Cecilia dengan tidak percaya.
"Iya, bukan itu saja. apakah kalian tahu di saat aku memasak dagingnya saat di kuali dagingnya masih bergerak-gerak, pada hal aku sudah memotong kecil-kecil," sambung Kimberly yang asal-asalan.
Simon dan lainnya mendengar perkataan Kimberly merasa mual mengingatkan setiap irisan daging yang mereka kunyah dan menelannya.
"Apakah di saat kalian makan dagingnya tidak bergerak?" tanya Kimberly dengan sengaja.
"Jangan bicara sembarangan!" ketus Alex yang mulai merasa geli.
"Kenapa kalian seperti mau muntah saja? apakah daging itu sedang bergerak di dalam perut kalian? karena di saat sudah matang dagingnya masih meloncat-loncat!" ujar Kimberly yang asal-asalan.
"Jangan bicara lagi!" bentak Cecilia yang merasa mual dan sambil mengelus dadanya.
"Iya sudah! ambil kepalanya dan jadikan obat, ini bisa membantu papa dan bibi berhubungan lebih lama. dan kulitnya juga sangat bagus untuk kesehatan," kata Kimberly yang menarik keluar kulit ular dua ekor itu.
Semua yang melihat benda yang di keluarkan oleh Kimberly merasa terkejut dengan mata mereka yang berbuka lebar-lebar.
"A-apa ini?" tanya Jacky yang merasa hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Nah...aku perkenalkan ini adalah siluman ular yang berwarna biru dan hitam, mereka sudah ratusan tahun. oleh karena itu daging mereka masih hidup walau sudah di goreng atau dimasak saos. sebenarnya yang kalian makan kemarin dagingnya masih hidup hanya saja kalian tidak memperhatikannya!" jawab Kimberly.
__ADS_1
Jacky dan Simon yang melihat kulit ular yang masih segar itu serta mendengar setiap perkataan Kimberly langsung muntah di tempat.
WOAK...WOAK...WOAK...WOAK...WOAK...
Cecilia yang melihat dua tubuh hewan melata itu merasa lemas dan akhirnya muntah sehingga mengotori lantai.
WOAK...WOAK...WOAK...WOAK...
"Kulit ular ini aku masukkan ke kulkas kemarin. jadi, masih segar dan kepala sudah ku rebus, agar dia tidak bicara lagi," ujar Kimberly yang mengeluarkan kepala ular itu.
"Aargghh...!" teriak Cecilia yang ketakutan.
"Bibi, jangan takut apa kalian tahu kalian sangat beruntung bisa menyantap daging ular yang berusia ratusan tahun ini. dan aku yakin dagingnya pasti sedang meloncat-loncat di dalam usus kalian," ujar Kimberly yang memberikan kulit ular biru kepada Cecilia.
"Aarrgghh...." teriakan Cecilia yang ketakutan.
"Aarrgghh...."
"Aarrgghh...."
"Bibi, jangan takut. dagingnya saja sudah kau kunyah dan kau telan jadi untuk apa merasa takut lagi, dan aku yakin dua ekor ular ini pasti sedang mengerak-gerak di dalam ususmu," ujar Kimberly dengan sengaja.
"Aarrgghh...."
"Aarrgghh...."
"Ini aku berikan kepada kalian!" ujar Kimberly yang melempar kepala ular ke arah Simon dan Jacky.
"Aarrgghh...." teriakan Simon yang sedang muntah dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan melanjutkan muntahnya di pojokan ruangan sana.
"Aarrgghh...."teriakan Jacky yang di kejutkan dengan kepala ular
"Papa, ini kulitnya buatmu!" kata Kimberly yang ingin memberikan kulit ular hitam kepada Alex.
Alex yang merasa mual dan kesal lalu ia bangkit dan ingin melayangkan tamparan ke wajah Kimberly. Raymond yang melihat aksi Alex ia langsung berdiri dan menghentikan niat ayahnya.
"Kau ingin menamparnya? kau tidak layak sama sekali!" bentak Raymond yang sedang mengenggam tangan Alex dengan erat.
__ADS_1
"Kalian sangat kurang ajar!" ketus Alex.
"Papa, aku sudah berniat baik memasak untuk kalian, tapi kalian masih kasar padaku," ujar Kimberly dengan berpura-pura kecewa.
"Kalian sengaja datang hanya untuk membuat onar," ketus Alex dengan kesal.
"Papaku yang baik! kami hanya melakukan yang seharusnya, jika kami tidak di ganggu maka kami juga tidak akan datang ke sini hari ini," kata Raymond dengan senyum sinis.
"Siapa yang menganggumu? aku tidak menganggumu sama sekali!" bentak Alex dengan merasa kesal.
"Tanyakan saja pada putra kesayanganmu! dia dengan beraninya mengupah pembunuh untuk mengincar kami, dan hampir saja menyebabkan aku kehilangan istriku," jawab Raymond dengan melepaskan pegangannya.
Cecilia dan Jacky yang mendengar perkataan Raymond merasa cemas karena rencana mereka telah di ketahui.
"Ini tidak mungkin! kau hanya ingin mencari kesalahan adikmu!" ketus Alex.
"Mencari kesalahan dia? untuk berhadapan dengannya sangat mudah bagiku, aku hanya perlu mengunakan jari kelingking untuk mengambil nyawanya," ujar Raymond.
"Buang semua benda jijik ini!" teriak Cecilia yang bangkit dari tempat duduknya dan menarik lengan Kimberly dengan kasar.
"Lepaskan tanganmu!" bentak Kimberly yang mendorong Cecilia sehingga terjatuh.
BRUGH...
"Aargghhh!" jerit Cecilia yang kesakitan.
"Kau dasar pela.cur murahan! hanya Raymond yang bodoh mau gadis kampung sepertimu," ketus Cecilia dengan merasa kesal.
"Kau mengatakan aku adalah pela.cur!" bentak Kimberly dengan nada kesal.
"Wanita kurang ajar! kau berani menghina istriku!" ketus Raymond yang bola matanya berubah menjadi kobaran api.
"Biarkan saja aku yang menghajarnya!" kata Kimberly yang menghenti langkah suaminya yang ingin menghampiri wanita itu yang sedang terduduk di lantai.
Kimberly mengambil kepala ular itu dan menghampiri Cecilia.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Cecilia yang ketakutan dengan mengeserkan tubuhnya ke belakang
__ADS_1
"Mulutmu terlalu tajam! aku ingin mengunakan kepala ular ini untuk mengasah gigi dan lidahmu," jawab Kimberly dengan tertawa kecil.