
Mansion Demon.
Demon dan Kimberly yang baru selesai bercinta mereka duduk dengan berpelukan, Kimberly di tutupi selimut karena tidak mengenakan pakaian, begitu juga dengan Demon yang tanpa mengenakan kemejanya menampakan tubuhnya yang kekar dan berotot.
"Begitu mudah kau mendapatkan semua surat ini. Kimberly, kau mengunakan cara apa untuk membohongi mereka?" tanya Demon dengan membaca semua isi surat itu.
"Dengan mengunakan tiga kartu kredit, aku menukarkan kartu ku itu dengan semua hartanya. hanya sisa perusahaannya saja," jawab Kimberly.
"Aku yakin tidak semudah itu kau menyerahkan kartu kredit itu, kan?"tanya Demon yang sudah mengerti ulah istrinya itu.
"Kartu yang ku berikan hanya tinggal nama saja," jawab Kimberly dengan tertawa.
"Kau nakal sekali," ucap Demon yang mendorong Kimberly hingga berbaring dan mencium leher istrinya.
"Hahahaha...jangan mengelitik ku!" teriak Kimberly.
"Ke mana pun kau pergi selalu saja ada masalah yang terjadi," kata Demon dengan mencium bibir istrinya
"Ini bukan salahku, ini salah mereka!" ucap Kimberly yang tindih oleh suaminya.
"Lalu, apakah setelah ini mereka akan tinggal di tepi jalan?" tanya Demon menyentuh wajah istrinya
"Tidak separah itu, mereka masih ada perusahaan. dan mereka bisa tinggal di sana, bukan," jawab Kimberly dengan senyum.
"Hidup mereka langsung berubah drastis di saat bertemu denganmu," kata Demon dengan mencium wajah istrinya sehingga menurun ke area lehernya.
"Siapa yang menyuruh mereka meninggalkanku dan sekarang malah igin memperalatkan ku," kata Kimberly.
"Demon, apa yang kau lakukan?" tanya Kimberly yang dadanya di cium oleh suaminya dengan penuh na*su.
"Kau sangat mengoda,"jawab Demon melanjutkan ciumannya.
"Demon, itu..."kata Kimberly yang merasakan sesuatu yang menyentuh bagian kewanita.annya.
"Tadi kau sudah melakukannya, kenapa masih saja..?" tanya Kimberly yang merasakan pusaka milik suaminya menyentuh bagian intinya.
"Siapa yang menyuruh kau tidak mengenakan pakaian," jawab Demon yang melanjutkan ciumannya.
"Biar aku berpakaian dulu kalau begitu," ujar Kimberly yang membalikkan tubuhnya dan merangkak ingin meraih pakaiannya yang di lantai samping tempat tidurnya.
"Sudah terlambat! dan kau harus menjinakkannya," kata Demon menarik pinggang istrinya dan membalikkan tubuh Kimberly dan berbaring di bawahnya.
Kini pusaka Demon siap melakukan yang dia inginkan
"Hei...hei...sebentar! tadi kita sudah melakukannya selama dua jam," ujar Kimberly.
__ADS_1
"Dan sekarang aku ingin memulainya lagi," kata Demon yang menarik selimut menutupi tubuh mereka dan langsung mendorong masuk pusakanya ke va.gina istrinya itu.
"Dasar mesum," teriak Kimberly yang merasakan gesekan lagi di bagian intinya.
Mereka bercinta di balik selimut, Demon melakukan gerakan maju mundur tanpa berhenti dan terus menerus sampai dia merasa puas.
Setelah puas menyetubuhi istrinya Demon pun menghentikan gerakannya dan mengeluarkan pusaka dari milik istrinya itu
"Jangan melakukannya lagi! pinggangku sudah sakit," gerutu Kimberly.
"Mari kita mandi dulu! setelah itu aku akan memijat pinggang mu," ajak Demon yang mengendong Kimberly
Keesokan harinya.
Almost dan keluarganya menuju ke sebuah rumah yang super mewah dari rumah yang mereka miliki sebelumnya. niat mereka memang ingin membeli rumah yang lebih mewah karena gengsi dan sikap mereka yang sangat suka pamer.
"Rumah ini lumayan bagus, memiliki sepuluh kamar dan halaman yang cukup luas, selain itu kolam berenangnya juga ada di luar dan dalam," kata Yolanda yang sedang melihat kesekitarannya dengan di ikuti oleh orang tuannya dan juga pemilik rumah yang ingin menjual rumah ini.
"Yolanda, bagaimana, apakah cocok?" tanya Veronica.
"Sangat cocok, Ma. rumah ini sangat cocok untuk orang kaya seperti kita," jawab Yolanda dengan sombong.
"Tuan Zen, apakah harga tidak bisa di runding lagi?" tanya Almost.
"Tuan Almost, rumah semewah ini tidaklah seberapa bagi Anda. lagi pula ini adalah rumah baru yang belum di tempati," jawabnya dengan sopan.
"Hahahaha...setiap orang pasti membutuhkan uang, oleh karena itu pasti harus menjual salah satu aset untuk menutupi masalah ekonomi," jawab Zen dengan senyum.
"Enam puluh lima juga dollar ini tidak seberapa bagi kami, ambilah kartu ini!" kata Veronica dengan memberikan tiga kartu pemberian Kimberly
"Apakah tidak ada uang tunai saja ataupun cek?" tanya Zen
"Uang kami sangat banyak, tidak mungkinkan kami harus membawa uang tunai saat kami keluar?" jawab Yolanda dengan angkuh
"Orang kaya seperti kami hanya akan mengunakan kartu ini untuk belanja," kata Yolanda.
"Nona, aku tahu kau sangat kaya. jika membeli rumah apalagi dengan nominal yang begitu tinggi seharusnya mengunakan pembayaran lewat transfer bukan dengan kartu ini. karena kalian bukan belanja di mall," ucap Zen dengan terus terang.
"Tuan Zen, apakah kalian tidak percaya dengan jumlah uang yang ada di dalam kartu ini?" tanya Almost.
"Kalau misalnya ada uangnya lebih baik Anda transfer saja ke rekeningku," jawab Zen.
"Tuan Zen, uang kami lebih banyak darimu, kami adalah pemilik perusahaan Almost. jangan lupa nama perusahaan kami adalah Almost. kami memiliki uang dan kami ingin membeli rumah ini sekarang," kata Yolanda dengan tegas.
"Iya...iya...aku tahu kalian dari mana, kalau memang sudah pasti mari kita mengurus suratnya, dan kalian bisa transfer uangnya!" jawab Zen.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya sekarang juga," kata Almost yang mengeluarkan handphone miliknya.
Almost menekan pin ulang tahun Kimberly dan untuk cek saldo karena berniat untuk membuktikan isi saldo tersebut.
Saat mencoba beberapa kali Almost tetap tidak berhasil.
"Ada apa?" tanya Yolanda yang melihat raut wajah ayahnya yang sedang tidak senang.
"Ketiga kartu ini sudah di blokir," jawab Almost
"Apa...? blokir? mana mungkin. kemarin masih bisa?" tanya Veronica dengan sangking terkejutnya.
"Cepat hubungi pihak bank!" kata Yolanda.
Almost lalu menekan nomor telepon bank untuk menyelidiki tiga kartu kredit tersebut. tiga kartu itu dari tiga cabang bank yang berbeda.
Saat mendengar penjelasan dari pihak tiga bank yang berbeda raut wajah Almost berubah menjadi lesu, handphone yang di pegangnya juga terlepas dari pegangan dan terjatuh ke lantai.
"Almost, ada apa?" tanya Veronica.
"Tiga kartu ini sudah tidak ada uangnya," jawab Almost dengan lemas
"A-apa? tidak ada uangnya?" tanya Veronica dengan tidak percaya.
"Pa, jangan bercanda!" ujar Yolanda.
"Uangnya sudah tidak ada, tiga kartu ini kosong. dia sudah merencanakan dari awal. dia sudah memindahkan dananya dari awal," jawab Almost yang merasa lemas dan hampir terduduk ke lantai akan tetapi langsung di papah oleh istri dan anaknya.
"Almost."
"Pa."
"Bagaimana, apa masih mau membeli rumah ini?" tanya Zen.
"Kami pasti akan membelinya setelah kami mengurus masalah uangnya," jawab Yolanda.
Zen yang merasa kesal lalu mengambil sapu dan menghampiri mereka bertiga.
"Kalian tidak memiliki uang sama sekali dan masih berani omong kosong di depanku, kalian dari perusahaan Almost yang sangat memalukan, pergi!" bentak Zen yang mengusir mereka dengan sapunya.
"Hei...hei...jangan sembarangan," bentak Almost.
"Sembarangan? kalian menghabiskan waktuku selama tiga jam dan akhirnya kalian tidak memiliki uang dan hanya menganggu saja," bentak Zen dengan melayangkan sapunya.
"Aarrgghh..."teriakan mereka yang langsung berlari karena di kejar oleh Zen dengan mengunakan sapu.
__ADS_1
Di siang itu mereka harus menanggung malu akibat ulah Kimberly yang membohongi mereka. saldo dari tiga kartu itu sudah di pindahkan oleh Kimberly sebelumnya. tidak jelas bagaimana caranya Kimberly bertindak secepat itu.