Mystery

Mystery
Durhaka


__ADS_3

"Anak kalian menyakiti putriku, bagaimana caranya kalian ingin bertanggung jawab?" tanya Kimberly dengan nada emosi.


"Lihatlah telapak tangan putriku! atas perbuatan putra mu sehingga tangannya membengkak," kata Kimberly dengan kesal.


"Pa, Ma, dia yang menabrakku dulu," ujar anak laki-laki itu pada orang tuanya.


"Tapi aku tidak sengaja dan sudah meminta maaf padamu, dan kau langsung menginjak tanganku," jawab Deberly yang sambil memegang tangan mungilnya yang bengkak itu.


"Pa, Ma, Guru, dia menginjak tangan adik. dan aku menjadi saksinya,"kata Debermon.


"Dowie, cepat minta maaf!" perintah orang tua anak itu.


"Tidak mau, dia membakar tanganku," jawabnya yang melawan ayahnya.


"Jangan bicara sembarangan! cepat minta maaf!" kata ibunya dengan tegas.


"Dowie, kamu telah bersalah karena melukai Deberly, cepat minta maaf!" ucap gurunya tegas.


"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak akan diam karena kau sudah melukai putriku," ketus Kimberly.


"Dia adalah iblis api karena dia bisa membakar tanganku, ini buktinya," ujar Dowie dengan menaikan lengan panjangnya. karena di bakar oleh Debermon tangannya menjadi hangus.


"Jangan bicara sembarangan!" bentak ibunya yang menutup mulut anaknya.


"Dowie lebih dewasa dari Deberly dan Debermon, kamu menindas mereka berdua dan sekarang ucapan mu tidak masuk akal sama sekali," kata Guru yang tidak percaya dengan kata anak itu.


"Aku tidak berbohong, ini adalah kenyataan," jawab Dowie dengan nada tinggi dan melepaskan tangan ibunya.


"Tuan, maafkan anak kami yang tidak sopan," ucap orang tua Bowie yang sedang gemetar saat berhadapan dengan Demon.


"Minta maaf? hanya dengan dua kata kalian ingin selesaikan masalah ini? bagaimana cara kalian mendidik anak sehingga begitu jahat terhadap orang lain? anak kalian sudah besar dan bisanya dia menindas anak empat tahun," ketus Demon yang merasa kesal.


"Maafkan kami, Tuan," ucap mereka dengan serentak.


"Pa, Ma, kenapa minta maaf pada mereka?" tanya Dowie dengan ketus.


"Apa kau tidak bisa diam...ha? jaga sikapmu, cepat minta maaf!" bentak ayahnya yang menarik lengan putranya berdiri di depan Kimberly yang sedang mengendong Deberly

__ADS_1


Dowie yang merasa tidak puas ia menatap tajam ke arah Deberly. sehingga menakutkan Deberly dan mulai menangis sambil menghadap ke belakang.


"Putriku tidak butuh permintaan maaf dari putra kalian," ketus Kimberly.


Debermon merasa kesal dan lalu mendorong Dowie dengan sekuat tenaganya sehingga menyebabkan dia terlempar jauh dan membenturkan ke dinding.


Bruk...


"Aarrghh...." jeritan Dowie yang kesakitan akibat tubuhnya terbanting ke lantai.


Orang tuanya hanya bisa diam melihat anak mereka terluka dan tidak bersuara.


"Debermon, di sini adalah sekolah bukan tempat perkelahian, kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu," kata Gurunya dengan tegas


"Guru tidak adil, dia melukai adikku Guru tidak menyalahkan dia malah membiarkan saja. sedangkan aku hanya mendorongnya saja sudah memarahiku," jawab Debermon dengan kesal.


"Papa,aku tidak mau sekolah di sini lagi, sini banyak penjahat. aku mau pulang," tangisan Deberly.


"Baiklah, putriku sayang. mari kita pulang. sekolah yang terbaik ternyata tidak memiliki guru yang berkualitas,"jawab Demon yang mengendong Deberly dari tangan istrinya.


"Kimberly, mari kita pergi!" ajak Demon yang memegang tangan istrinya dan melangkah keluar, sementara Debermon menatap ke dua orang tua Dowie dengan bola mata berubah menjadi merah. tatapan putra Demon menakuti sepasang suami istri itu. dan sesaat kemudian Debermon menyusul orang tuanya.


Plak..


Tamparan ayah dari Dowie yang merasa kesal terhadap putranya.


"Kenapa menamparku?" tanya Dowie dengan ketus.


"Apa kau sudah bodoh sehingga tidak mengenal siapa mereka? dan masih berani kau melawan mereka," bentak ayahnya dengan emosi tinggi.


"Aku bisa melihat jika mereka adalah iblis api. lalu, kenapa memangnya kalau mereka adalah iblis api?" jawab Dowie dengan nada ketus.


"Kenapa kau bisa begitu ceroboh? ayahnya Deberly bukan iblis biasa melainkan raja iblis api, si kembar itu adalah putra putri raja iblis api," kata ibunya dengan penuh emosi.


"Kenapa kalian bisa begitu pengecut?memang kenapa kalau raja api? dia juga bisa lenyap kalau terluka parah," bentak Dowie dengan nada tinggi.


"Kita bisa mati akibat perbuatan mu ini, tidak sulit bagi raja api mencari keberadaan kita. kau menyakiti putri kesayangannya apa kau mengira raja api akan berdiam saja?" bentak ayahnya yang penuh emosi.

__ADS_1


"Kalian adalah orang tua yang bodoh, saat anak bajin.gan itu mendorongku kalian sebagai orang tua tidak membela ku sama sekali,"Ketus Dowie.


"Kurang ajar sekali," bentak Ayahnya yang melayangkan tamparan ke wajah anaknya itu.


"Aarrghh...." jerit Dowie yang merasa kesal.


"Kita ini hanya iblis rendahan saja dan ingin hidup sebagai manusia biasa, agar bisa selamat dari kalangan iblis. kehidupan iblis sama sekali tidak menjamin keselamatan bagi iblis rendahan seperti kita ini. salah langkah kita akan dilenyapkan. oleh karena itu lebih baik kita hidup sebagai manusia biasa. tapi kau malah menghebohkan identitas kita," ketus ibunya.


"Aaarrghhh....." teriakan Dowie yang menyerang ke dua orang tuanya. bola matanya berubah menjadi hitam dan menyerang bagian perut orang tuanya itu.


Serangan kuat mengakibatkan ke dua orang tuanya muntah cairan yang berwarna hitam.


"Anak durhaka," ketus ayahnya yang kesakitan sehingga terkapar di lantai.


"Sejak kapan kau berubah seperti ini?" tanya ibunya yang merasa sakit hati.


"Persetan dengan gaya hidup kalian, selama aku ikut kalian maka selamanya aku hanya menjadi iblis rendahan," bentak Dowie yang mengeluarkan kekuatan hitam menyerang ke dua orang tuanya.


"Aaarrghhhh.....," teriakan ke dua orang tuanya yang nafasnya di hirup dengan kekuatan putranya.


"Durhaka," ucap ayahnya yang hampir kehabisan nafas.


"Kau tidak akan hidup tenang," ketus ibunya yang bola matanya berubah menjadi putih dan kemudian secara perlahan tubuh mereka menjadi abu.


Dowie menghirup nafas ke dua orang tuanya sehingga tewas dan akhirnya lenyap.


"Dasar menyusahkan saja," ketus Dowie dan kemudian menghilang.


Mansion Demon.


Demon mengobati telapak tangan Deberly dengan obat khususnya. telapak tangan mungil itu sangat merah dan membengkak.


"Papa, apa dia akan mencari ku lagi? mata dia sangat menakutkan," tanya Deberly yang duduk di pangkuan Demon.


"Tidak akan lagi, walau dia datang juga tidak bisa menyentuhmu. papa akan selalu melindungimu dari belakang," jawab Demon dengan mencium pucuk kepala putrinya.


"Demon, mereka adalah iblis hitam yang berasal dari mana?" tanya Kimberly yang sedang memangku putranya.

__ADS_1


"Tidak tahu juga, mungkin saja mereka hanya ingin menjalani kehidupan biasa seperti manusia, hanya saja putra mereka telah menunjukan identitas aslinya," jawab Demon.


"Lain kali kalau dia muncul lagi aku akan membakar dia sehingga menjadi abu," ucap Debermon dengan tegas.


__ADS_2