Mystery

Mystery
Teguran Demon Terhadap Deberly


__ADS_3

"Demon, Debermon dan Deberly sangat pintar sekali, di usia seperti mereka sudah begitu berbakti pada orang tua, bagaimana caranya Kimberly mendidik mereka berdua?" tanya Diana yang merasa kagum pada si kembar.


"Kimberly selama ini sangat ketat terhadap mereka berdua, terutama saat Kimberly sedang hamil. selalu saja menegur mereka," kata Demon dengan tertawa.


"Selama beberapa bulan ini mama sering emosi saja terhadap kami, terkadang dalam sehari kami harus mandi enam kali," ujar Debermon.


"Bukan hanya itu saja, setiap kami sudah mandi mama suruh kami mandi lagi, karena mama tidak suruh kami mandi dan kami mandi duluan, mama terkadang tidak berlogika," ujar Deberly.


"Deberly, jangan berkata seperti itu! dia itu adalah mamamu," kata Demon dengan nada agak tinggi.


"Demon, jangan tinggikan suaramu!" pinta Diana yang memeluk Deberly.


"Aku sangat sayang dengan mama, bukan membencinya," jelas Deberly dengan mata berkaca-kaca.


"Deberly, jangan pernah mengatakan mama mu tidak berlogika! mama sangat menderita saat mengandungmu sama seperti sekarang, apa kamu mengerti?"ujar Demon dengan nada tegas.


"Iya, maaf. Pa, aku bukan bermaksud menyalahkan mama, aku hanya bicara sembarangan saja," ucap Deberly menetes air mata karena di bentak oleh ayahnya.


"Deberly, sudah jangan menangis ya! papa hanya tidak ingin kamu menyalahkan mamamu saja, bukan memarahimu," bujuk Diana yang mengusap air mata cicitnya itu.

__ADS_1


"Demon, Deberly masih kecil, jangan terlalu keras padanya!"


"Nenek, masih kecil saja dia sudah mengatakan mamanya tidak berlogika, jika di biarkan dia akan kebiasaan."


"Papa, aku minta maaf, jangan marah lagi, aku sangat mencintai mama dan berharap mama cepat melahirkan," ucap Deberly dengan menunduk sambil mengusap air matanya.


Demon yang melihat putri kecilnya menangis merasa tidak tega.


"Deberly, mari sini!" panggil Demon yang duduk berhadapan dengan neneknya, sementara Deberly duduk di pangkuan nenek moyangnya itu.


Deberly turun dari kaki Diana dan berjalan ke arah ayahnya itu dengan matanya yang sudah merah.


"Pa, maaf. lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Deberly.


"Putri papa sangat pintar, sudah...jangan menangis lagi!" bujuk Demon yang mengendong Deberly dan duduk di pangkuannya.


"Deberly, bulan depan mama akan melahirkan, dan kita harus bekerja sama merawat mama dan adikmu ya!" kata Demon yang mencium pipi putrinya.


"Papa, aku tidak sabar menunggu bulan depan, dan aku juga ingin mengendongnya, Pa," ujar Deberly.

__ADS_1


"Sama seperti papa, papa juga tidak sabar menunggu kelahiran adik-adikmu," jawab Demon.


"Demon, saat Kimberly melahirkan nenek akan datang membantu merawatnya, wanita yang baru melahirkan makanannya harus di jaga, tidak boleh salah makan. apa lagi dia harus di operasi."


"Nenek, mengenai hal ini jangan khawatir! paman Sean dan Holdie akan tinggal di sini merawat Kimberly, saat Kimberly melahirkan Deberly dan Debermon mereka juga merawatnya," jawab Demon.


"Menyebut tentang mereka nenek merasa bersalah karena pernah menyuruh anggota membakar rumahnya," ucap Diana yang merasa menyesal.


"Paman Sean sangat terbuka dan baik hati, dia tidak akan simpan dalam hati."


"Bagaimana pun nenek harus meminta maaf dengannya," jawab Diana.


"Nenek, aku yakin paman Sean pasti sudah tidak ingat kejadian itu, dan ada benarnya juga nenek meminta maaf. karena selama ini mereka sudah merawat keturunan kita dengan baik. Deberly dan Debermon di jaga oleh mereka di saat baru di lahirkan..untung saja ada mereka selama ini yang berada di sisi Kimberly," kata Demon.


"Hore....kakek paman dan bibi akan tinggal di sini, aku tidak sabar lagi," kata Debermon dengan girang.


"Iya, aku juga sama. aku rindu sama kakek paman," ujar Deberly yang sedang tertawa.


"Kalian ini sangat manja dengan kakek paman kalian," ucap Demon yang tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2