
"Baik," jawab iblis api dengan hormat dan kemudian melangkah keluar.
Diana hanya bisa menghela nafas saat memikirkan masa lalu. semua perbuatannya di saat itu telah menyebabkan ia kehilangan cucunya.
"Di usiaku yang sudah tua renta, walau tinggal di tempat yang mewah dan luas tidak menjamin hatiku bisa bahagia, mereka menjalani kehidupan yang bahagia penuh canda dan tawa, sementara aku walau pun di lindungi oleh ratusan pengawal tapi tetap saja sendirian," batin Diana.
Di sisi lain Si kembar mulai masuk sekolah, sementara Demon dan Kimberly masih tetap melindungi buah hatinya dari luar.
Dowie yang berada jauh dari sekolah melihat kemunculan Demon dan Kimberly, tentu saja sulit baginya ingin mengambil tindakan.
"Kenapa dia berada di sana? jangan-jangan mereka sedang melindungi dua anak brengs*k itu," gumam Dowie.
Saat Dowie sedang mengamati dari jauh tiba-tiba saja dia di serang dari belakang.
Bruk...
"Aaarrgghh," jeritan Dowie yang merasa kesakitan karena tersungkur.
"Masih berniat ingin melukai anak-anakku? kau seharusnya sudah tahu siapa aku sebenarnya, tapi masih saja berani berniat jahat pada putra dan putriku," ketus Demon yang mengunakan kekuatannya membakar Bowie.
"Aaarrgghh....," teriakan Dowie yang kesakitan akibat dibakar seluruh tubuhnya.
Dowie yang dilalap api bola matanya berubah menjadi hitam, wajahnya menjadi pucat serta badannya beransur menjadi abu.
Tidak lama kemudian badannya habis terbakar sehingga sisa abu hitam yang masih di depan sekolah itu.
Setelah membakar Dowie, Demon menghilang dan kembali ke tempat yang di mana dia sedang mengawasi dua buah hatinya.
Abu hitam adalah sisa bakaran tubuh Dowie. tidak lama kemudian abu hitam itu mulai bergerak seperti ada angin yang sedang berputar dan tidak lama kemudian abu itu terbang entah ke mana seperti di bawa angin.
Sementara Demon dan Kimberly masih tetap mengawasi si kembar walau Dowie sudah di bunuh.
Setelah beberapa saat kemudian lonceng berbunyi. anak-anak berlarian keluar dengan girang. sama seperti Debermon dan Deberly yang berlari ke arah orang tuanya.
"Papa, Mama, hari ini kami ingin bertemu dengan kakek paman!" pinta Debermon dan Deberly dengan serentak.
"Apakah putri mama merindukan kakek paman?" tanya Kimberly yang mengendong putrinya.
"Iya, kita sudah lama tidak ke rumah kakek paman, kami mau ke sana!" jawab Deberly.
__ADS_1
"Mari kita pergi sekarang ya!" ajak Demon dengan senyum.
"Hore.....kami akan segera bertemu dengan kakek paman," teriak Debermon dan Deberly dengan serentak.
Tidak lama kemudian Demon bersama istri dan anaknya meninggalkan sekolah dan menuju ke tempat tinggal paman Sean.
Setelah setengah jam kemudian mereka telah tiba ke rumah paman Sean.
"Kakek paman, kakek paman," teriak Debermon dan Deberly yang berlari masuk ke dalam halaman.
"Dua jagoanku sudah datang," sahut paman Sean dengan merasa gembira dan langsung mengendong si kembar.
"Paman," sapa Demon dan Kimberly dengan serentak.
"Hm...kalian sudah lama tidak datang, aku sangat merindukan dua jagoan ku ini," jawab paman Sean.
"Paman, maaf..belakangan ini agak sibuk oleh karena itu kami tidak datang," ucap Demon.
"Demon, jangan minta maaf! paman tahu apa yang kami sibukkan..kota kita selalu saja terjadi musibah. sebelumnya adalah burung-burung itu kemudian baru kebakaran. jika bukan karenamu mungkin saja kota ini sudah habis terbakar. terima kasih atas pertolonganmu," ucap paman Sean dengan tersenyum.
"Kakek paman, kenapa bisa mengetahui papa kami yang memadamkan apinya?"tanya Debermon.
"Papa," suara panggilan Hodie yang baru melangkah keluar.
"Holdie," sapa Kimberly
"Eh...Demon, Kimberly, sudah lama aku tidak melihat kalian dan juga dua jagoan ku ini," ucap Holdie yang menghampiri paman.
"Kami sibuk belakangan ini, oleh karena itu kami tidak sempat singgah," jawab Kimberly.
"Tidak apa-apa, aku tahu kalian sibuk."jawan Holdie.
"Bibi....," teriak si kembar dengan serentak.
"Hei....jagoan bibi sudah datang ya!" sahut Holdie yang mengendong Debermon.
"Bibi, kami merindukan mu," ucap Demon dan Kimberly dengan serentak
"Pintar sekali, bibi juga merindukan kalian, sayang," jawab Holdie dengan mencium pipi Debermon.
__ADS_1
"Apakah dua jagoan kakek sudah sekolah ya?"
"Iya, Paman. mereka memintanya," jawab Kimberly dengan senyum.
"Bagus, bagus, cucu kesayangan kakek begitu pintar pasti bisa mendapatkan juara," ujar paman Sean.
"Kami pasti akan juara dan membanggakan Papa, Mama, Kakek paman dan Bibi," jawab Debermon dan Deberly dengan serentak.
"Mari kita masuk dulu! aku baru mulai memasak, dan kalian makan siang di sini ya!" ajak Holdie.
"Aku akan membantumu siapkan makan siang," ujar Kimberly yang melangkah masuk ke dalam rumah.
Setelah satu jam kemudian.
Demon dan Kimberly makan siang bersama paman Sean.
"Demon, kapan si kembar ini mulai sekolah?" tanya paman Sean sedang menyantap makanan.
"Baru dua hari, Paman," jawab Demon yang memgambilkan lauk ke piring istrinya.
"Mereka sangat pintar dan ingatannya sangat bagus, aku yakin mereka pasti tidak akan mengalami kesulitan saat berada di sekolah," ujar paman Sean.
"Kakek paman, kami mau belajar lebih giat agar cepat tamat dan bisa bekerja setelah itu kami ingin merawat Papa, Mama, Kakek paman dan Bibi," jawab Debermon.
"Iya, kami juga ingin cepat besar agar bisa membantu mama memasak dan membantu papa di perusahaannya, selain itu kami juga ingin merawat kakek paman," lanjut Deberly.
"Hahahahaha....jagoan kakek sangat pintar sekali," kata paman Sean yang mengambilkan lauk ke piring si kembar.
"Mari habiskan makanannya!" ucap paman Sean yang sambil menyantap makanannya.
Di sisi lain abu hitam yang dari sisa bakar tubuh Bowie terbang ke arah hutan dan kemudian berubah menjadi roh. Dowie yang telah meninggal kini hanya sisa roh gentayangan tanpa tujuan.
"Kenapa aku berada di sini? ini di hutan mana? apa aku sudah meninggal?" tanya Dowie sambil melihat tubuhnnya.
"Aku sudah meninggal, kenapa bisa begini, siapa yang membunuhku? seingatku tadi siang aku berada di luar sekolah sedang mengamati dua anak iblis itu," gumam Dowie.
Tidak lama kemudian angin kencang datang menyapu semua daun-daunan yang di atas tanah sehingga berterbangan ke mana-mana. tidak lama kemudian asap kabut tiba-tiba datang dari arah lain. sehingga memenuhi seluruh hutan, tidak tahu berasal dari mana asap kabut putih yang tebal sehingga tidak bisa melihat apapun.
Asap itu mengelilingi roh Bowie yang masih kebingunan dan lupa punca kematiannya.
__ADS_1
"Asap dari mana ini? kenapa mengeliling aku?" gumam Dowie yang di tutupi oleh asap putih itu.