
"Apakah ada yang mengantarnya, Nyonya?" tanya Wilson dengan penasaran.
"Bukan! tapi dia datang sendiri!" jawab Kimberly sambil menyantap makanan.
"Apa punya ayam tetangga?"tanya Wilson.
"Bukan! dia masuk dari jendela!" jawab Kimberly
"Masuk dari jendela?"
"iya!"
"Ayam ini sangat nakal sekali! sehingga terbang masuk lewat jendela."
"Dia merayap bukan terbang!"
"Merayap? apa ayam bisa merayap?"
"Wilson, ada baiknya kau jangan banyak bertanya! habiskan saja makananmu!" ujar Raymond yang berusaha menghentikan pertanyaan asistennya itu.
"Tuan, aku masih penasaran ayam apa yang merayap bukan dengan berjalan?" tanya Wilson yang sambil santap daging-daging yang ada di piring.
"Tidak usah kau peduli ayamnya berjalan atau merayap! yang pastinya adalah semua dagingnya sudah kau telan," kata Raymond.
"Maaf! aku sangat suka dagingnya sehingga menghabiskan semua daging ayamnya," ucap Wilson.
"Nyonya, bagaimana caranya membuat dagingnya begitu lunak? masakan seperti ini aku pernah makan juga di restoran, tapi rasa dagingnya masih kalah dengan yang ini!"
"Dagingnya memang sudah lunak sebelum di masak, jangan lupa makan kepalanya, itu bagus untuk kesehatan!" kata Kimberly.
"Kepalanya bisa untuk kesehatan?" tanya Wilson yang sambil mencari kepala ayam yang di mangkok besar itu.
"Aku sarankan kau jangan mencarinya lagi!" ucap Raymond yang sambil menyuapi istrinya.
"Aku penasaran bagaimana bentuk kepala ayam setelah di masak sop," jawab Wilson yang sambil mengaduk sop yang ada di mangkok.
Wilson yang ingin makan kepala ayam dengan mengunakan sendok dan mengangkat kepala tersebut.
"Sudah dapat!" kata Wilson yang mengangkat kepala itu dan langsung di taroh ke piringnya. saat ingin makan ia memegang kepala hewan itu dan melihat sejenak dengan merasa heran
Bagaimana tidak, kepala yang di lihatnya adalah kepala berwarna biru dengan matanya dan kepalanya yang masih utuh.
"Nyonya, kepala ayamnya kok aneh?" tanya Wilson yang sedang memegang kepala itu.
"Itu bukan ayam! tapi itu adalah siluman ular yang masuk tadi, makanya aku langsung bunuh saja," jawab Kimberly dengan santai.
"U-ular?" jawab Wilson yang merasa hampir tidak percaya
"Iya," jawab Kimberly
"Lalu, di mana tubuhnya?" tanya Wilson dengan penasaran.
__ADS_1
"Sudah kau telan semuanya!" jawab Kimberly sambil menyantap makanannya.
"A-apa, aku makan daging ular?" tanya Wilson yang hampir tidak percaya.
"Iya, kau telah makan daging ular yang sudah berusia ratusan tahun," lanjut Raymond dengan senyum.
"Dengan begini kau pasti panjang umur," kata Kimberly yang menatap ke arah Wilson yang terdiam.
"Tuan, Nyonya, jangan bercanda. ini pasti daging ayamkan?"
"Kau lihat saja itu kepalanya! itu membuktikan kalau daging yang kamu makan itu adalah daging ular. apa kau tahu, kepala ular yang kau pegang itu saat belum ku rebus dia masih bisa bicara, cepat makan kepalanya mana tahu suatu saat kau bisa berteman dan berkomunikasi dengan ular!" kata Kimberly.
Saat Wilson melihat kepala ular yang di pegangnya dia hanya terdiam dan sambil mengingat semula semua daging-daging yang di kunyah dan dia telan. tidak lama kemudian ia pun~✓
"Aaaarrghhh...." teriakan Wilson yang langsung berlari menuju ke kamar mandi.
Woak...Woak...Woak...Woak...
Wilson mengeluarkan semua makanan yang telah dia telan tadi.
Woak...Woak...Woak...Woak...
Woak...Woak...Woak...Woak...
Woak...Woak...Woak...Woak...
"Wah...apa separah itu kau makan daging ular?" tanya Kimberly dengan berdiri di luar pintu kamar mandi.
Woak...Woak...Woak...Woak...
Woak...Woak...Woak...Woak...
"Mungkin lebih baik kau ke rumah sakit!" ujar Raymond.
Tidak lama kemudian Wilson berhenti dan berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kimberly yang sedang memegang mangkok sop.
"Asal jangan makan daging ular lagi maka aku akan baik-baik saja, Nyonya!" jawab Wilson yang mengelus dadanya.
"Kalau begitu minum sopnya saja dan hisap kepalanya untuk meredakan rasa mual mu!" kata Kimberly yang memberikan mangkok berisi sop kepala ular.
Saat Wilson melihat kepala ular yang berwarna hitam dan biru itu ia pun langsung terdiam dan sesaat kemudian ia pun~✓
BRUK...
"Kenapa dia pingsan?" tanya Kimberly yang melihat pria itu tumbang dan tidak sadarkan diri.
"Karena daging ular!" jawab Raymond.
"Aneh! dapat makan gratis dia malah pingsan!" ujar Kimberly.
__ADS_1
Setelah satu jam kemudian.
Raymond mengantar Wilson ke rumah sakit dengan di temani Kimberly.
"Pasien tidak masalah! dia hanya merasa geli dengan ular, oleh sebab itu dia pingsan, ini tidak bahaya baginya," jelas dokter.
"Sudah ku bilang daging ular itu tidak berbahaya, dia sangat aneh. kenapa bisa sampai tidak sadarkan diri? apa perlu besok aku masak otak harimau untuknya?"
"Kimberly, jangan bercanda. dia pingsan karena dia memang takut dengan hewan melata itu," ujar Raymond yang sedang berdiri di samping istrinya.
"Hahahaha...Tuan, asisten Anda selalu saja memberiku kejutan, dalam tiga bulan ini dia masuk ke rumah sakit sebanyak enam atau tujuh kali, dan setiap dia datang pasti membuatku tidak bisa berhenti tertawa," kata Dokter dengan tertawa.
"Dokter, kalau begitu aku serahkan asistenku padamu!" ujar Raymond.
"Baiklah!" jawab Dokter dengan sopan.
Tidak lama kemudian Raymond dan Kimberly meninggalkan rumah sakit.
Selama dalam perjalanan.
"Kimberly, kenapa kau memasak siluman ular itu?" tanya Raymond yang sedang mengendarai mobilnya.
"Dagingnya bisa di makan! makanya aku masak saja!" jawab Kimberly yanh duduk di samping suaminya.
"Siluman ular sangat bahaya, jangan menyentuh mereka lain kali!" ujar Raymond dengan menoleh ke arah arah istrinya.
"Kenapa jumlah mereka banyak sekali ya?"
"Kita tidak tahu berapa jumlah mereka yang masih tersisa, akan tetapi kau harus ingat selalu jaga jarak dengan mereka, raja ular juga masih hidup. aku yakin setelah dia sembuh dia akan membalas dendam," kata Raymond.
"Kalau dia berani datang lagi maka aku akan memotongnya dan kemudian berikan dagingnya kepada anak buahnya," ucap Kimberly.
"Hahahahah...kau memang suka memasak! sehingga siluman ratusan tahun saja juga kau jadikan santapan," kata Raymond dengan tertawa.
"Bagaimana jika besok kita ke rumah papamu?" tanya Kimberly.
"Untuk apa kita ke sana?"tanya Raymond dengan penasaran.
"Aku ingin memberi kejutan untuk mereka,"
"Kejutan yang kau maksud pasti bukan sesuatu yang baik, kan?
"Apa kau tahu, daging ular itu aku juga mengirim ke mereka. dan aku juga tidak sabar ingin melihat apa reaksi mereka!" jawab Kimberly dengan tertawa kecil.
"Kau memberi mereka daging ular?"
"Iya!"
"Kau ini...aku yakin mereka pasti muntah setelah tahu daging apa yang mereka makan," kata Raymond dengan senyum
"Dan ini adalah balasanku!"
__ADS_1
"Kau memang nakal!" ucap Raymond dengan senyum.