
Tempat tinggal Paman Sean.
Di sore hari itu paman Sean yang baru pulang kerja dan saat ingin berjalan menuju ke rumahnya, tiba-tiba saja dia di hentikan oleh seorang wanita cantik.
"Kakak tampan..." sapa wanita itu dengan senyum menggoda.
Paman Sean yang mendengar sapaan wanita itu menghentikan langkahnya, sambil melihat ke arah samping dan belakangnya, ia mengira jika wanita itu sedang memanggil pria lain.
"Nona, kamu sedang memanggil siapa?" tanya paman Sean.
"Aku sedang memanggilmu, Kakak tampan," jawabnya dengan menggoda.
"Apa matamu sudah rabun, Nona? saya ini adalah pria tua yang sudah berusia enam puluh tahun," ucap paman Sean.
"Tidak apa-apa! kamu tidak tua, kamu hanya dewasa. aku menyukai tipe sepertimu," kata wanita itu dengan senyum.
"Sudah! sudah! ada apa nona di sini?" tanya paman Sean.
"Namaku Nana, aku adalah tetangga baru di sini, dan ingin berkenalan dengan, Kakak tampan," jawab Nana dengan menyentuh dada paman Sean.
"Adik muda, kalau kau ingin mencari pasangan maka jangan mencariku, di usia ku yang sudah tua ini bisa menjadi ayahmu." ujar paman Sean yang menepis tangan wanita itu.
"Kakak tampan, aku ingin mengundangmu makan di rumah! apa kau sudi makan malam bersamaku?"
"Tidak! malam ini saya ingin makan bersama putri saya, jadi, ajakan Anda saya tidak bisa menerimanya!"
Tidak lama kemudian Raymond dan Kimberly tiba di depan rumah paman Sean. saat mobil berhenti Kimberly dan Raymond keluar dari mobil mereka.
"PAMAAAAAN..."teriak Kimberly dengan nada tinggi.
"Pamanmu ini belum tuli, jadi tidak perlu kau berteriak!" ujar paman Sean.
"Ternyata telinga paman masih utuh," jawab Kimberly yang menghampiri paman Sean dengan di ikuti Raymond.
Nana yang melihat ke arah Raymond membuatnya terpesona dengan ketampan pria itu, sementara Raymond sedang menatap wanita itu dengan tatapan dingin.
"Siluman ular..." batin Raymond.
"Paman, Kimberly mengatakan ingin bertemu denganmu," kata Raymond dengan sopan.
"Raymond, tadi Kimberly menghubungi paman bahwa kalian akan datang, dan paman langsung pulang untuk menyiapkan makan malam kita, karena kita sudah lama tidak makan bersama," kata paman Sean dengan senyum.
"Terima kasih, Paman," ucap Raymond dengan sopan.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya Nana yang sedang menatap ke arah Raymond.
Kimberly yang tercium aroma tidak sedap, lalu ia mencoba untuk menghidu dekat pada wanita itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanya Nana dengan merasa kesal.
"Kenapa ada aroma aneh di tubuhmu?" tanya Kimberly yang menutup hidungnya.
"Apa maksudmu? aku baru selesai mandi!" ketus Nana.
"Aromamu kenapa sama seperti...seperti...haah....seperti ular," kata Kimberly.
"Apaa? sembarangan!" ketus Nana yang merasa cemas
"Tapi, tubuhmu aromanya memang sama dengan ular," ujar Kimberly.
"Kimberly, jangan bicara sembarangan, nona ini adalah tetangga baru," kata paman Sean.
"Kakak tampan, biarkan aku bergabung dengan kalian ya? aku baru datang, jadi aku masih sendirian," goda Nana yang menghampiri paman Sean sambil memegang tangannya.
"Hei...hei...hei...kenapa dekat-dekat dengan pamanku!" bentak Kimberly dengan menarik lengan Nana menjauh dari paman Sean.
"Kenapa kau menghalangiku?" tanya Nana.
"Aku mencurigai jika kau adalah siluman ular! karena kalau siluman memang suka menggoda pria," kata kImberly dengan mengejek.
"Kau jangan sembarangan bicara!" ketus Nana yang merasa kesal.
"Lagi pula di dunia ini begitu banyak pria, kenapa kau malah memilih pamanku yang sudah tua keriput ini?" tanya Kimberly.
"Apa kau tidak takut jika menikah dengan pamanku yang sudah tua renta ini kau akan segera menjadi janda?" tanya Kimberly.
"Kimberly, apa maksud mu?" tanya paman Sean dengan menahan emosi.
"Cinta tidak memandang usia," jawab Nana.
"Wanita muda sepertimu tidak mungkin mencintai pamanku yang sudah tua dan jelek ini, bahkan tampannya juga tidak ada lagi, jadi mana mungkin kau mencintai dia," ujar Kimberly.
"Kimberly, apa paman sejelek itu? di luar sana masih banyak yang sedang berbaris sedang menunggu cintaku," kata paman Sean.
"Itu karena mata mereka sudah rusak, Paman. atau karena mereka hanya ingin menunggu untuk mengantarmu pergi," jawab Kimberly.
"Apa kau bisa diam! jangan selalu asal bicara!" ketus paman Sean
"Kimberly, sudah! jangan membuang waktu di sini, mari kita membantu paman menyiapkan makan malam!" ajak Raymond yang menarik lengan Kimberly dan merangkul pundaknya.
"Tapi bagaimana dengan dia?" tanya Kimberly yang menunjuk ke arah Nana.
"Apa kamu ingin dia masuk?" tanya Raymond dengan senyum.
"Tidak mau! dia memiliki aroma ular, bisa saja dia istri ular kemarin," jawab Kimberly.
__ADS_1
"Istriku sudah semakin pintar!" kata Raymond.
"Raymond, Kimberly, mari kita masuk!" ajak paman Sean.
"Kakak tampan...." seru Nana yang ingin melangkah mendekati paman dan kemudian ia pun berpura-pura jatuh.
Bruk..
"Aaarrghh...." jeritan Nana yang terjatuh.
"Kakak tampan, kakiku sakit sekali," kata Nona yang bersikap manja.
"Kalau jatuh harus bangun sendiri," jawab paman Sean.
"Sudah! jangan mengunakan cara murahan ini untuk menggoda pamanku, tidak akan mempan. paman ku bukan pria sembarangan," kata Kimberly.
"Kimberly, selama ini paman melihatmu dari kecil hingga dewasa, hanya ini ucapanmu yang membuat paman kagum padamu, setidaknya kamu tahu jika paman bukan pria yang suka main wanita," kata paman Sean dengan senyum.
"Aku belum habis bicara, paman," kata Kimberly.
"Ah....iya..iya, teruskan, teruskan saja!" ujar paman Sean dengan senyum.
"Pamanku ini tidak bermain wanita karena dia sudah tidak larat, dan jika kau ingin bersamanya kau juga akan menjadi janda dengan cepat," kata Kimberly dengan ceplas ceplos.
"Hei...hei...apa maksudmu?" tanya paman Sean.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Paman," jawab Kimberly.
"Kau...." ucap paman Sean dengan menahan emosi.
"Nona, pergi saja! masa depanmu masih panjang, sia-sia kau mengoda pamanku, karena dia sudah kadaluarsa jadi tidak bisa lagi bersama denganmu," kata Kimberly dengan asal-asalan.
"Kimberly...." bentak paman Sean yang menarik telinga Kimberly sambil melangkah masuk ke dalam.
"Sakit, Pamaaaan!" teriak Kimberly yang mengikuti langkah paman Sean.
"Raymond, tolong akuuuu!" teriak Kimberly.
Raymond menatap Nana dengan matanya yang berubah menjadi api sehingga membuat wanita itu merasa cemas.
"Kembali ke asalmu, atau ingin merasakan apiku!" kata Raymond dengan ancaman.
"I-ya..." jawab Nana yang langsung melangkah pergi.
"Di mana-mana ada mereka! untung saja kami cepat datang!" batin Raymond.
Wanita itu berlari dengan cepat karena ketakutan melihat mata Raymond yang menakutkan itu.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa bertahan hidup kalau begini? di sarangku sudah tidak bisa ku tempati, raja selalu saja berkeliaran di sana, di kota ini aku harus berwaspada, pria tadi itu adalah iblis api, aku tidak boleh muncul di hadapannya lagi," batin Nana.