
Semua warga yang di lokasi kebakaran merasakan derasnya hujan yang terjadi di saat itu. api yang marak semakin lama semakin mengecil dan akhirnya padam.
"Apinya sudah padam, beruntung rumahku tidak kena," ucap salah satu warga yang di sana.
Beberapa warga rumahnya tidak terbakar karena penyelamatan yang sangat cepat yang di lakukan oleh Demon.
Walau begitu petugas pemadam kebakaran masih saja berusaha menyemprot air ke arah asap yang sangat tebal.
"Di mana pelakunya? kenapa tidak muncul?" batin Demon.
Keesokan harinya.
Wilson mendatangi ke kantor pemadam kebakaran dengan tubuhnya yang hanya di lilit handuk.
"Di mana pasukan kalian?" tanya Wilson dengan nada tinggi pada satu petugas di sana.
"Tuan, apa telah terjadi? mereka hingga kini belum pulang!"
"Kalian cukup parah, rumahku dan warga lain habis di lalap api. lihatlah kondisiku yang hanya sempat membawa handuk, bahkan celana da.lam saja aku tidak sempat bawa keluar" ketus Wilson dengan merasa kesal.
"Tuan, maaf. kalau saya boleh tahu di mana Anda tinggal?"
"Saya tinggal di perumahan sederhana yang jelas bukan khusus untuk orang kaya,"jawab Wilson dengan nada kesal.
"Tuan, petugas kami semua pergi ke lokasi kebakaran sehingga tidak ada lagi sisa satu pun di sini," ucap petugas itu dengan sopan.
"Lalu semalam kau berada di mana?"
"Saya berada di kantor, karena saya hanya staf di sini dan bukan petugas khusus."
"Kenapa kamu bisa begitu tidak berguna? untuk apa kau di sini kalau kau bukan petugas terlatih? hanya makan gaji buta saja kau duduk di sini. seharusnya semalam kau ikut ke lapangan. sudah banyak korban kebakaran kau masih saja bisa duduk santai di sini," bentak Wilson dengan nada ketus.
"Tuan, saya bukan bagian dari pemadam kebakaran."
"Selagi kau masih duduk di sini berarti kau adalah bagian pemadam kebakaran. jangan cari alasan. mana atasanmu suruh dia keluar dan aku ingin menyuruh dia ganti pakaian ku, gara-gara kalian yang sangat lamban sehingga membuat kami kehilangan semuanya," bentak Wilson.
"Tuan, maaf. untuk saat itu atasan kami sedang berada di lapangan, dia juga ikut turun ke lapangan."
"Lepaskan baju mu sekarang juga!" perintah Wilson dengan nada kesal.
"Ha...bajuku?"
"Iya, baju dan celanamu," bentak Wilson.
"Tuan, lalu saya harus memakai baju apa?"
__ADS_1
"Pakai handuk ku saja!" jawab Wilson yang melepaskan handuknya di depan petugas itu. sehingga menampakan alat kela.minnya.
"Tu-tuan, kau...." ucap petugas itu yang melihat bagian bawah Wilson.
"Kenapa?" tanya Wilson dengan nadao tinggi.
"Pakai dulu handukmu!" pinta petugas itu dengan memalingkan wajahnya.
Wilson yang lupa sesaat dirinya telanjang dengan santainya melepaskan handuk yang membalut bagian bawahnya itu.
Lalu Wilson melihat ke bawah dan baru sadar dirinya tanpa sehelai benang.
"Aaarrgghh...." teriak Wilson yang langsung melilit handuknya karena merasa malu.
"Cepat buka baju dan celanamu!" bentak Wilson dengan ketus.
"Kau mau apa sebenarnya menyuruhku membuka baju dan celana?" tanya petugas yang salah paham.
"Kalau masih tidak ingin melepaskannya, maka jangan salahkan aku memperko.sa mu nanti," kecam Wilson dengan sengaja.
"Tuan, kau adalah pria dan aku adalah pria normal," jawab petugas itu karena ketakutan.
"Tapi aku bukan pria normal, aku bisa melahap wanita dan pria. cepat lepaskan bajumu. jangan sampai aku membuatmu kehilangan alat mu itu," bentak Wilson dengan merasa kesal.
"Ba-baik," jawabnya yang membuka kancing seragamnya.
Setelah beberapa saat kemudian Wilson meninggalkan kantor pemadam kebakaran dengan berpakaian seragam petugas damkar. sementara pria itu hanya mengunakan handuk milik Wilson melilit bagian bawah tubuhnya.
Beberapa hari kemudian
Sebuah hutan yang besar dan luas juga di lalap api, api menjalar dengan cepat karena banyak terdapat pohon-pohon yang kering di dalam hutan sana.
Asap tebal menyelimuti kota sehingga menutupi pemandangan indah di kota itu.
pemadam kebakaran dan juga helikopter ikut dalam penyiraman tersebut. asap semakin tebal dan karena api tidak berhasil di padamkan.
Beberapa petugas sedang bertaruh nyawa sehingga masuk ke dalam hutan. asap tebal membuat mereka sulit untuk bekerja. tidak lama kemudian mereka melihat api yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Cepat keluar! apinya menjalar terlalu cepat!" perintah ketua petugas mereka.
Semua petugas pemadam kebakaran berlarian keluar dari hutan, akan tetapi api yang begitu cepat telah melalap mereka sehingga tewas dan tak tersisa.
"Hah...rekan kita tewas di dalam, cepat menjauh dari sini!" teriak salah satu petugas itu.
Mereka langsung meninggalkan hutan dan berlari sejauh mungkin. tidak sempat lagi untuk menghidupkan mesin mobil untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Hahahahahahah...." suara tawa yang berasal dari api itu.
Mendengar suara tawa itu mereka pun menoleh ke arah hutan.
"Hahahahahahah...."
"Kenapa ada yang sedang tertawa?" tanya salah satu petugas yang mendengar tawaan dari hutan sana.
"Coba lihat sana!"
"Itu seperti wajah seseorang."
""Hahahahahahah....dasar badut. kalian mengira bisa mematikan aku!" teriak suara yang berasal dari kobaran api.
"Cepat pergi!"
Mereka pun mempercepatkan langkahnya menjauh dari lokasi itu.
"Badut, ingin melarikan diri? jangan berharap!"
Api semakin membesar hingga ke jalan dan mengejar langkah mereka. tidak lama kemudian semua petugas yang di sana tewas terbakar.
Mansion Demon.
Demon berdiri di balkon bersama dengan Kimberly yang sedang melihat asap yang berasal dari lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
"Terjadi lagi kebakarannya, kali ini di hutan," ujar Kimberly.
"Benar, aku mencurigai iblis api. hanya tidak tahu iblis datang dari mana," ucap Demon.
"Hutan itu begitu luas, apa kamu akan pergi lagi?"
"Tidak akan, selagi sasarannya bukan rumah orang maka biarkan saja. mungkin kita akan mengalami gangguan kabut asap ini selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. walau aku memadam kan apinya dia tetap akan membakar rumah orang lain. jadi lebih baik di hutan saja," jelas Demon yang sedang merangkul pundak istrinya.
"Petugas pemadam kebakaran pasti kewalahan karena harus bertaruh nyawa melawan api yang tidak wajar itu," kata Kimberly.
"Mudah-mudahan tidak ada jatuh korban lagi. kebakaran kemarin telah mengorbankan banyak orang. mereka ada yang meninggal, luka parah dan kehilangan semuanya."
"Mari kita masuk! asapnya terlalu tebal," ajak Kimberly.
Demon dan Kimberly melangkah masuk ke dalam rumah dan menutup semua pintu kacanya dan juga jendela dengan rapat-rapat.
"Papa, aku ingin sekolah!" pinta Debermon yang berlari ke arah Demon dan Kimberly bersama dengan adiknya.
"Sekolah? kenapa tiba-tiba ingin bersekolah?" tanya Kimberly.
__ADS_1
"Kami ingin memiliki banyak teman dan juga ingin menjadi orang pintar. agar setelah dewasa bisa merawat papa dan mama," jawab Debermon dan Deberly dengan serentak.