
"Hahahaha...apa kau cemburu?" tanya Raymond dengan tertawa sambil menyubit pipi istrinya karena merasa mengemaskan.
"Iya, selagi kita masih suami istri kau tidak boleh dekat dengan wanita manapun, kalau kau berencana mau menikah lagi maka kita harus pisah dulu," jawab Kimberly.
"Tidak akan terjadi hal seperti ini, hanya dirimu saja yang menjadi istriku. tidak ada kata perpisahan di antara kita berdua," kata Raymond dengan tegas.
"Memang kau ingin mengunakan cara apa agar terbukti apa yang kau katakan adalah benar?" tanya Kimberly
"Apa perlu?" tanya Raymond dengan senyum.
"Iya, karena aku tidak mau makan janji kosong, pria paling suka memberikan janji tapi tidak sanggup melakukannya," jawab Kimberly dengan mengeluarkan air mata.
"Bagaimana kalau aku berikan semua hartaku padamu, jika suatu saat aku melanggar janjiku maka kau bisa mengambil semua harta ku," jawab Raymond.
"Tidak berguna sama sekali!"
"Kenapa?"
"Kalau hati seseorang tidak bisa betah di satu tempat, walau dia harus kehilangan rumahnya dia juga tetap akan memilih untuk pergi ke rumah baru. jadi, harta mu itu tidak bisa membuktikan kalau hatimu itu bisa betah di sini," kata Kimberly.
"Hehehehehe...Kimberly, apa yang harus ku lakukan agar kau bisa percaya padaku?" tanya Raymond dengan senyum.
"Tidak ada yang perlu kau lakukan, aku tidak mampu untuk mengikat hati seorang pria agar tetap bersamaku, soal perasaan tidak ada yang tahu. namanya pria bisa tertarik pada lawan jenis kapanpun dan di manapun. jadi, aku tidak bisa memaksamu untuk di sini selamanya. apa lagi hidup kita begitu lama. aku hanya meminta satu hal padamu. jika kau ingin menikah lagi maka ceraikan aku dulu, aku tidak mau hidup bersama mu dan wanita lain, aku juga tidak akan merebut posisi ratu. aku tidak akan membuat rusuh dan membuat mu kesulitan. biarkan aku pergi mencari kehidupanku sendiri," ucap Kimberly yang merasa sedih.
Saat Raymond mendengar setiap ucapan istrinya ia langsung mencium bibir istrinya selama beberapa saat, ia merasakan kesedihan istrinya yang takut di khianati untuk ke dua kalinya.
"Aku tidak menyangka candaanku terhadap dirinya membuatnya begitu sedih," batin Raymond.
Setelah beberapa menit kemudian Raymond melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi ya! mata mu sudah bengkak," bujuk Raymond dengan mengusap air mata Kimberly dan kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku telah membuatmu menangis ini salahku, aku berjanji padamu aku tidak akan lagi membuat mu sedih dan mengeluarkan air mata. aku hanya akan membuat mu tersenyum bahagia untuk setiap hari dan selamanya," ucap Raymond dengan dengan senyum.
Kimberly memeluk suaminya dengan erat dan sambil menangis, sementara Raymond yang sangat sayang pada istrinya membujuk istrinya dengan penuh kesabaran.
"Jangan menangis lagi! matamu akan sakit kalau kau masih menangis!" bujuk Raymond dengan mengelus kepala istrinya.
"Biarkan aku menangis sambil memelukmu," ujar Kimberly yang sedang menangis dengan terisak di dalam pangkuan suaminya.
"Menangislah jika kau tidak bisa menahan air matamu, dan aku akan memelukmu dan sambil memanjakan istri kecilku ini," ucap Raymond yang memeluk erat istrinya.
Setelah dua jam kemudian
Kimberly yang tadinya menangis di dalam pangkuan suaminya kini ia tertidur pulas dalam pelukan suaminya itu.
"Memang anak kecil! setelah mengantuk baru ketiduran," ujar Raymond yang melihat istrinya ketiduran di pangkuannya.
Tidak lama kemudian Raymond mengendong istrinya itu menuju ke kamar dan menidurkanya dengan perlahan.
Setelah menyelimuti dan mengecup dahi istrinya ia pun melangkah keluar dari kamarnya, dan berjalan menuju ke ruangan baca.
"Keluarlah! sudah aman!"ucap Raymond yang melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan kemudian duduk di sofanya.
Bayangan yang di lihat oleh Kimberly yang tak lain adalah Diana, neneknya Raymond.
"Kelihatannya cucu nenek cukup sabar menghadapi gadis itu, dia berulah di rumah pamannya dan menangis selama dua jam lamanya. dan kau masih begitu sabar membujuknya," kata Diana yang sedang duduk di sofa.
"Nenek, dia menangis karena salahku yang mengusiknya dulu, dia merasa di khianati dan kemudian menangis dengan begitu sedih," jelas Raymond.
__ADS_1
"Selama tiga ribu tahun kau tidak pernah begitu baik pada wanita, ini pertama kali nenek melihatnya dan hampir tidak percaya dengan semua yang kau lakukan," ujar Diana dengan senyum.
"Aku merasa bahagia di saat dia menangis, karena aku tahu aku sangat penting di hatinya," ucap Raymond dengan senyum.
"Dia seperti anak kecil!
"Dia memang masih kecil. bukankah di dunia kita usia 23 tahun masih anak kecil."
"Nenek tidak bisa membayangkan bagaimana jika kelak kalian sudah memiliki anak, apakah istri kecilmu itu akan bisa merawat anak kalian."
"Ini belum waktunya, Nek. usianya masih terlalu muda, aku tidak ingin dia di bebani masalah anak,"kata Raymond.
"Kau sangat memanjakan dia! kau adalah raja yang harus memiliki banyak anak. walau kau sudah menikah akan tetapi kau malah tidak ingin memiliki anak sekarang," ucap Diana dengan senyum.
"Semua anak-anakku hanya akan di lahirkan dari rahim Kimberly, waktu kami masih panjang. jadi, tidak perlu terburu-buru," jelas Raymond.
"Ayahmu menikahi begitu banyak wanita untuk memiliki banyak keturunan, sementara dirimu hanya ingin memiliki seorang istri, sikap kalian berdua sangat jauh berbeda."
"Nenek, perjalanan hidupku dan Kimberly masih panjang. jadi kapanpun kami memiliki anak tidak ada masalah sama sekali."
"Nenek kagum pada sifatmu, dan gadis itu sangat beruntung bersamamu!"
"Nenek, aku tidak ingin melukainya. seperti hari ini aku baru sadar, dirinya yang selama ini tidak takut apa-apa. akan tetapi dirinya sangat rapuh," kata Raymond.
"Nenek mengerti maksudmu, yang namanya anak gadis mana mungkin tidak takut di selingkuhi. lalu kapan kau akan membawanya ke istana?" tanya Diana.
"Belum waktunya! dan nenek kenapa bisa muncul di rumah paman Sean?" tanya Raymond.
"Nenek ingin mengerjain gadis itu. semua orang di buat pusing karena ulahnya, oleh karena itu nenek ingin menakuti dia," jelas Diana dengan seraya bercanda.
__ADS_1
"Dia sudah bisa melihat sesuatu yang tidak bisa di lihat oleh orang lain. dan dan dia juga tidak takut dengan iblis ataupun siluman," jelas Raymond dengan senyum.