Mystery

Mystery
Yolanda Menemui Demon


__ADS_3

"Ini tidak masuk akal sama sekali, aku adalah presiden direktur utama di sini. kau tidak berhak memberiku pilihan bodoh seperti ini. yang seharusnya pergi adalah kamu bukan aku!" bentak Almost dengan merasa kesal.


"Enam puluh persen saham sudah di tanganku, kalau kau masih berminat dengan posisi ini maka kau harus membeli dengan harga yang tinggi. asal kau sanggup membayarku maka semua saham itu akan menjadi milikmu," jawab Demon dengan sengaja.


"Itu sama saja kau ingin merampok!" bentak Almost.


"Almost, tuan Geffrey membeli dengan harga yang tinggi dengan kami. dan tentu saja kalau kau masih menjadi pemegang saham utama kau harus membayarnya dengan harga tinggi juga," kata salah satu pemegang saham.


"Tuan Almost, tawaran ku berlaku hanya untuk dua hari saja. kalau kau tidak sanggup membelinya maka saranku kau jual saja semua saham mu itu untuku. dan aku yakin kau pasti membutuhkan dana juga, karena istrimu itu sedang berada di rumah sakit. dan kau tentu sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit. selain itu jika lintah darat yang ingin menagih hutang denganmu di saat itu kau juga membutuhkan uang. pulang dan pertimbangkan lagi. tawaran ku hanya berlaku dua hari. kau mau tinggal ataupun pergi!" kata Demon dengan sengaja.


"Tidak! aku tidak akan pergi, perusahaan ini adalah usahaku dan keluarga ku. aku tidak mungkin pergi begitu saja," jawab Almost dengan tegas.


"Kau bisa tetap di sini! hanya saja kau tidak berhak menyentuh uang perusahaan, karena jika tidak maka aku bisa menuntut mu mengelapkan uang perusahaan," kecam Demon dengan melempar sebuah file ke depan mata Almost.


Almost mengambil file tersebut dan membaca isinya yang tercantum di sana.


"Ini...?"


"Ini semua bukti uang yang kau ambil selama ini, tanpa berunding dengan yang lain kau mengambil begitu saja dan untuk membayar hutang mu yang tidak pernah lunas itu," jelas Demon.


"Apa kamu tahu kalau saja aku melapormu kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara, mulai saat ini aku mengambil ahli perusahaan ini. dan aku akan mengubah semua peraturannya," kata Demon dengan tegas dan bangkit dari tempat duduknya.


"Mengenai tawaranku kau hanya memiliki waktu dua hari, setelah lewat itu maka sudah tidak berlaku," kecam Demon yang melangkah keluar dari ruang rapat begitu juga dengan semua pemegang saham yang merasa tidak puas terhadap Almost pergi meninggalkan ruang itu tanpa kata-kata.


Almost merasa tertekan harus kehilangan posisinya di perusahaan itu yang sudah belasan tahun di tangannya.


Ia melangkah keluar dengan wajah lesu dan tidak bersemangat. hasil usahanya selama ini berakhir begitu saja.


Rumah sakit.


Almost telah menceritakan semuanya kepada putrinya sehingga membuat putrinya itu semakin tertekan.


" Siapa Demon Geffrey sebenarnya dan apa tujuannya membeli semua saham kita? kita tidak menyinggungnya selama ini dan bahkan tidak pernah bertemu dengannya, untuk apa dia melakukan itu?"

__ADS_1


"Dia seperti sengaja menantang kita saja, dan kita hanya di beri waktu selama dua hari untuk berpikir. papa sangat buntu sekarang, kita tidak bisa lagi mengunakan uang perusahaan secara diam-diam," ujar Almost.


"Kita sudah tidak memiliki hak atas semua itu, aku ingin bertemu dengan dia!"ucap Yolanda yang bangkit dari tempat duduknya.


"Yolanda, kau tidak perlu pergi! kita tidak bisa merubah apapun karena dia adalah pemegang saham utama," ujar Almost


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yolanda.


"Yolanda, biaya pengobatan mama mu juga tidak murah, kita sangat butuh uang. kita tidak memiliki apapun yang bisa di jual, semuanya sudah habis. dan hanya sisa tiga puluh lima saham yang kita miliki," kata Almost dengan sambil mengeluh.


" Pa, tidak mungkin kita harus jual saham, kalau kita jual maka kita sudah kehilangan semuanya, dan usaha kita selama ini menjadi sia-sia," ujar Yolanda dengan merasa kecewa.


Almost mengusap kasar wajahnya karena merasa buntu dan depresi karena telah kehilangan semuanya dan hanya sisa saham yang tidak seberapa.


"Bulan ini mereka pasti datang menagih hutang lagi, kita membayar mereka harus dengan uang apa, kita sudah tidak memiliki apapun, dan masalah lainnya kita juga tidak ada tempat tinggal," ucap Yolanda dengan kesal.


"Kita kehilangan semua aset dalam waktu dekat, tempat tinggal kita juga tidak ada, biayai rumah sakit dan hutang kita juga harus kita bayar, kalau kita tidak bayar maka kita akan kehilangan tangan kita, kali ini kita buntu dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi," kata Almost dengan merasa tertekan sambil menjambak rambut sendiri karena menyesal.


"Yolanda, Demon Geffrey sangat angkuh, apa dia bisa begitu mudah mau bekerja sama dengan kita?"


"Kita harus yakin, Pa. dan aku yakin. aku akan menemuinya hari ini juga!" kata Yolanda yang bangkit dari tempat duduknya.


"Hanya ini satu-satunya harapan kita," ucap Almost.


"Kalau begitu aku pergi dulu! untuk sementara jangan memberitahu mama dulu!" kata Yolanda.


"Iya, papa tahu!"


Sesaat kemudian Yolanda meninggalkan rumah sakit dan menuju ke perusahaan Geffrey World.


Setelah lima kemudian taksi berhenti di depan perusahaan Geffrey World. Yolanda melangkah masuk ke dalam perusahaan itu


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu," sapa staf perusahaan itu.

__ADS_1


"Namaku adalah Yolanda, aku ingin bertemu dengan tuan Geffrey," jawab Yolanda dengan cuek.


"Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?"


"Belum, aku ada hal penting yang mau di bahas," jawab Yolanda.


"Silakan di tunggu sebentar!" ucap staf perusahaan dengan sopan.


Staf menghubungi Rico yang adalah asisten Demon. setelah sesaat kemudian mereka memutuskan panggilannya.


"Nona Yolanda, tuan Geffrey sedang rapat, silakan menunggu!"


"Baiklah aku akan menunggu!" jawab Yolanda.


Setelah satu jam kemudian.


Yolanda menunggu sambil melihat jam tangan karena menunggu selama satu jam akan tetapi dirinya belum bisa bertemu dengan Demon.


"Apakah rapatnya belum berakhir?" tanya Yolanda dengan menahan emosi.


"Tuan Geffrey masih sedang sibuk."


"Berapa lama lagi?"


"Tidak bisa di pastikan, karena tuan Geffrey sangat sibuk dan banyak yang harus di selesaikan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu lagi," jawab Yolanda dengan sabar.


Di sisi lain Demon yang sedang berada di kantornya, ia hanya duduk santai sedang membaca koran.


"Tuan, wanita itu masih di luar," kata Rico


"Biarkan saja! aku tidak berencana ingin bertemu dengannya," jawab Demon sambil duduk dengan bersandar

__ADS_1


__ADS_2