
Demon membakar tubuh kelelawar raksasa itu sehingga menjadi abu.
"Ke mana dia pergi setelah ini? dan aku juga yakin dia pasti terluka juga," batin Demon.
"Raja," sapa Teddy dan Licon yang baru muncul.
"Bagaimana dengan situasinya?" tanya Demon yang menatap ke arah ke dua iblis itu.
"Raja, banyak jatuh korban dan terluka parah, tempat tinggal mereka di serbu sehingga mereka yang ketakutan berlari keluar ke jalan. dan kemudian mereka di kerumun oleh ratusan burung," jawab Teddy.
"Raja, dia sudah mati oleh karena itu burung-burung itu ikut pergi," ujar Licon.
"Dia adalah hantu yang tinggal di gunung dulu," kata Demon.
"Hantu gunung? bukankah dia di saat itu sudah di bunuh dan tubuhnya juga sudah hancur, tapi kenapa masih bisa hidup?" tanya Teddy dengan merasa heran.
"Roh nya masih ada, dia tidak lenyap sama sekali. dan dia hanya meminjam tubuh kelelawar ini untuk mencari mangsa. sekarang dia pergi lagi untuk mencari sasaran lain," jawab Demon.
Tidak lama kemudian semua iblis api muncul dan memberi hormat kepada raja mereka.
"Raja," sapa ratusan iblis api dengan serentak.
"Berapa yang terkorban?" tanya Demon.
"Sekitar lebih dari seratus orang, Raja," jawab salah satu iblis api.
"Seluruh kota di serang, mereka sangat ganas menyerang ke semua rumah-rumah, hotel, rumah sakit dan lain-lain," ujar iblis api lainnya.
"Aku ingin kalian mencari keberadaan hantu gunung itu! saat ini dia sudah terluka dan pasti akan mencari sasaran lain," perintah Demon kepada semua iblis api.
"Baik, Raja," jawab para iblis itu dengan serentak.
"Bubar!" perintah Demon yang kemudian menghilang begitu juga dengan semua anggota iblis api.
Sementara para pihak kepolisian di sibukkan mengevakuasi mayat-mayat korban yang menjadi santapan burung tadi.
Banyak yang terluka parah dan di larikan ke rumah sakit oleh ambulan. hotel-hotel juga terdapat beberapa korban begitu juga dengan beberapa rumah sakit dan lainnya.
Di sisi lain beberapa pihak rumah sakit harus disibukan dengan sejumlah pasien yang datang dalam kondisi terluka. Willy mengobati setiap pasien yang terluka parah.
Mansion Demon.
Setelah bertarung Demon pun kembali ke rumahnya. si kembar yang melihat papanya langsung berlari ke arahnya.
"Papa, Papa," teriak Deberly dan Debermon yang mendekati ayahnya itu.
"Anak-anak, di mana mama?" tanya Demon yang mengendong putra putrinya.
"Mama sedang mandi, kami sedang menunggu papa pulang," jawab Deberly dan Debermon.
"Mama, sebentar lagi mau menyiapkan makanan, Papa, nanti suapi aku ya!" pinta Deberly.
"Baiklah, putriku. papa akan suapi kamu," jawab Demon dengan mencium pipi Deberly dan Debermon.
__ADS_1
"Papa, bagaimana dengan makhluk menakutkan itu?" tanya Debermon.
"Dia sudah mati, dan tidak akan muncul lagi untuk sementara," jawab Demon dengan senyum
"Apa papa yang mengalahkan dia?" tanya Deberly.
"Iya, papa membunuh dia," jawab Demon yang berjalan menuju ke kamar.
"Hore...hore...hore...hore....Papa menjadi pahlawan, hore...hore...hore....Papa menjadi pahlawan," teriak Deberly dan Debermon.
Demon menurunkan si kembar ke kasur, mereka melompat-lompat kegirangan sambil berteriak.
"Hore...hore...hore...hore...kita sudah aman kita sudah bisa jalan-jalan, aku mau jalan-jalan bersama papa dan mama," teriak Deberly sambil melompat-lompat.
"Iya, aku juga mau jalan-jalan," teriak Debermon.
.
"Demon, kamu sudah pulang," seru Kimberly yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambutnya basah.
"Anak-anak, sudah jangan melompat lagi!"
"Iya, Ma," jawab Deberly dan Debermon dan langsung diam duduk di atas kasur.
"Kimberly, mari duduk sini! biar aku mengeringkan rambutmu!"
"Iya, baiklah," jawab Kimberly yang duduk di kursi meja rias.
Demon yang mengunakan handuk mengeringkan rambut istrinya basah kunyup.
"Tidak juga, tadi aku mendengar anak-anak berteriak makanya aku keluar, aku mengira ada apa," jawab Kimberly yang melihat cermin.
"Anak-anak meminta keluar jalan-jalan," ujar Demon dengan senyum.
"Bagaimana dengan kelelawar itu?"
"Dia sudah tewas, hanya saja tubuhnya itu hanya tempat singgahan dia, dan sekarang dia masih bebas dan tidak tahu ke mana," ucap Demon yang sambil mengeringkan rambut istrinya.
"Bukankah dia akan mencari korban lagi kalau saja dia masih hidup?"
"Benar, dia akan beraksi lagi setelah dia sembuh."
"Demon, bagaimana dengan Willy? apa dia baik-baik saja?"
"Dia dan pasien lain hampir menjadi santapan makhluk itu," jawab Demon.
"Apa dia dan pasiennya terluka?"
"Tidak sama sekali, apa kamu mencemaskan dia?"
"Iya, dia adalah teman yang baik. tentu saja aku tidak ingin dia terluka."
"Kimbery, jangan khawatir tentang hal itu! dia sudah aman, hanya saja beberapa pasiennya mungkin sudah menjadi korban," ucap Demon.
__ADS_1
"Aku berharap kejadian semalam tidak terulang lagi."
"Jangan membahas dia lagi! mari kita bahas besok kita ingin berjalan-jalan ke mana?"
"Kita pergi berbelanja! aku ingin membeli baju anak-anak!"
"Baiklah, aku akan menemani kalian untuk berbelanja," jawab Demin dengan senyum.
"Papa, aku mau boneka!" pinta Deberly.
"Papa, aku mau mobil-mobilan!" pinta Debermon.
"Papa akan belikan apapun yang kalian mau," jawab Demon dengan tertawa bahagia.
"Hore...hore...hore...hore...aku mau boneka," teriak Deberly dengan girang.
"Sebentar lagi aku dapat mobil-mobilan," teriak Debermon dengan tertawa.
"Istriku, apa yang kamu minta?" tanya Demon yang menunduk mencium wajah istrinya
"Aku hanya ingin kamu temankan kami saja!" jawab Kimberly yang mencium bibir suaminya.
"Aku akan temankan ke mana pun kalian mau," jawab Demon dengan membalas ciumannya.
"Ehem...ehem..., Papa, mana kartu kreditnya?" tanya Deberly dengan mengulurkan tangan mungilnya.
"Adik, kenapa kau meminta kartu kredit lagi?" tanya Debermon.
"Papa mencium mama jadi harus bayar, kalau tidak mama rugi banyak," jawab Deberly.
"Rugi dari mananya? papa dan mama sudah menikah," tanya Debermon.
"Walaupun sudah menikah harus bayar juga dengan kartu kredit," jawab Deberly.
"Dasar bocah, sudah jangan banyak bicara!" ujar Debermon yang menutup mulut adiknya.
"Kimberly, apa kamu yang mengajari putri kita?" tanya Demon dengan senyum.
"Aku tidak pernah mengajarinya meminta kartu kredit," jawab Kimberly dengan tertawa
"Dia sangat mirip denganmu," ujar Demon dengan senyum.
"Tentu saja, karena aku yang melahirkan dia," kata Kimberly.
Demon mencium wajah istrinya dan kemudian mencium bibir istrinya.
"Kartu kredit...kartu kredit...Kartu kredit...," teriak Deberly.
"Sudah! apa kamu bisa diam!" ucap Debermon yang menutupi mulut adiknya.
"Papa, Mama, aku minta sesuatu!" pinta Deberly yang melepaskan tangan kakaknya.
"Meminta apa, sayang?" tanya Kimberly.
__ADS_1
"Aku ingin meminta adik!" jawab Deberly.
"Meminta adik?" tanya Demon dan Kimberly dengan serentak.